©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Selasa, Mei 21, 2019
Nasional

115.765 Ton Bawang Putih dari Cina Masuk ke Indonesia Ramadhan Ini

JAKARTA – Kementerian perdagangan kembali menyetujui ijin impor bawang putih dikarenakan tingginya harga dan menipisnya ketersediaan salah satu produk hortikultura ini menjelang ramadhan dan hari raya idul fitri. Diperkirakan sebanyak 115.765 ton jumlah bawang putih akan diimpor dari Cina.

Koordinator wilayah 2 Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia, Ibnu Gifari Huda menuturkan bahwa sudah tercatat selama masa pemerintahan sekarang, bawang putih di Indonesia dikuasai impor.

” Pada tahun 2018 saja, 97 persen kebutuhan bawang putih kita dipenuhi oleh impor” Ungkapnya.

Ibnu menambahkan bahwa luas lahan panen bawang putih tentu berpengaruh dalam tingkat produktivitas petani bawang putih nasional. Menteri pertanian pernah mempunyai target swasembada bawang putih dapat terjadi tahun 2019, yang merupakan percepatan dari target semula yaitu pada tahun 2033.

Hal ini bukan semata-mata target asal-asalan, Kementerian Pertanian merinci untuk memenuhi target 2019 membutuhkan lahan seluas 73 ribu hektare yang masing-masing diperuntukkan untuk konsumsi dengan lahan seluas 60 ribu hektare dan untuk produksi benih seluas 13 ribu hektare.

“Namun kenyataannya sampai tahun 2019 target ini belum terealisasi dan kita masih saja impor bawang putih”

Data Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian menunjukkan selama 2017-2021 produksi bawang putih nasional diprediksi hanya 19-20 ribu ton per tahun.

Dari data tersebut diperkirakan Kementan tidak bisa mencukupi kebutuhan nasional yang terus meningkat dari 480 hingga 560 ribu ton per tahun sehingga pemerintah masih akan membuka peluang impor bawang putih konsumsi bagi para importir sampai dengan tahun 2021.
Langkah pemerintah untuk mengatasi ketergantungan impor ini adalah dengan mewajibkan importir bawang putih untuk melaksanakan perluasan areal tanam baru (PATB) untuk produksi 5 persen dari total pengajuan rekomendasi impornya.

Baca Juga  Mewujudkan Ruang Publik Politis di Tingkat Desa

“Langkah ini dirasa belum cukup efektif untuk menjamin hasil produksi lokal apalagi kesejahteraan petani bawang putih itu sendiri. Bila impor terus dilaksanakan tetap saja bawang putih lokal tidak dapat bersaing dengan yang impor karena harganya jauh lebih rendah. Juga karena ongkos produksi petani lokal yang masih tinggi dan harga jual ditekan oleh ketersediaan bawang putih impor”.

Menurut Ibnu peningkatan luas lahan panen bawang putih harus terus direalisasikan dan menegaskan kepada pemerintah untuk menjaga harga bawang putih lokal menjadi menguntungkan bagi petani lokal agar tidak banyak petani yang meninggalkan menanam bawang putih dan swasembada bawang putih di Indonesia dapat terealisasi.

(Budi)

Tinggalkan Balasan