PendidikanPeristiwa

7 Dosen STAINU Tasikmalaya Dicutikan 3 Tahun

TASIKMALAYA – Para pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Tasikmalaya menyampaikan keberatannya dengan keputusan PCNU-LPTNU Kota Tasikmalaya yang menskors selama 3 tahun.

M. Hasan Al Asari, satu dari tujuh dosen yang diskors mengungkapkan kekecewaannya.

” Itu artinya kami tidak boleh mengajar dan tidak bisa mendapat hak-hak kami sebagai dosen selama itu” terang Hasan. (3/10/2020).

Para dosen tersebut bertanya-tanya atas apa yang sedang dialami.

” Kecewa sudah tentu, dan juga tidak tahu harus kepada siapa keluh kesah ” sambungnya.

Ia menjelaskan kronologis sebelum adanya keputusan tersebut hingga mereka diberhentikan mengajar selama 3 tahun.

” awalnya kami hanya meminta perbaikan sistem dan tata kelola Perguruan Tinggi namun yang terjadi kami malah dituduh mencemarkan nama baik STAINU ” terangnya.

Kritik dan saran, lanjut Hasan menuturkan, selama ini kami sampaikan secara baik-baik akan tetapi yang terjadi berujung hukuman skorsing.

Para dosen yang diberhentikan merasa heran, karena sejak awal, setiap forum yang difasilitasi PCNU maupun LPTNU selalu diikutinya.

” Justru yang tidak pernah hadir adalah Ketua STAINU Tasikmalaya. Namun kami yang selalu disalahkan, hingga puncaknya saat ini secara tiba-tiba muncul keputusan yang sangat mengecewakan kami” keluhnya.

Tujuh dosen yang diberhentikan tersebut adalah :
1. Dr. Hj. Nani Sholihah, M.Ag
2. M. Hasan Al Asari, S.HI., M.H
3. Eki Sirojul Baehaqi, S.H., M.H
4. Ai Hilyatul Halimah, M.Pd
5. Imas Komalasari, SS., MM
6. Yuni Hidayati, S.Pd.I., M.Si
7. Agi Mahesa, S.Pd., M.pd

Dalam surat keputusan tertanggal 18 September 2020, menyatakan bahwa 7 dosen tersebut tidak diperkenankan mengajar dari tanggal 21 September 2020 sampai 20 September 2023.

Menurutnya, para pengajar telah dengan sukarela mengabdi tanpa banyak tuntutan (materi), karena mereka memahami bahwa mengajar di STAINU adalah sebuah pengabdian terhadap NU maupun masyarakat pada umumnya.

Baca Juga :  Sunda Empire Mengaku Bisa Kendalikan Nuklir

” Bahkan kami rela mengabdi tanpa digaji berbulan-bulan (hingga saat ini), namun selama ini kami tak banyak menuntut ataupun berkomentar” jelas Hasan.

Para pengajar di perguruan tinggi sangat mengharapkan lembaga yang mereka diami menjadi lembaga yang maju dan berkembang dengan tata kelola yang profesional, transparan dan akuntabel.

” Namun apa balasannya, yang terjadi malah kami diberhentikan untuk tidak mengajar selama 3 (tiga) tahun yang berarti 6 (enam) semester. Itu bukan waktu yang sebentar” katanya.

Ia sangat menyayangkan budaya dan karakteristik Nahdliyyin tidak melekat.

” Yang kami rasakan adalah justru ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, ini adalah upaya membunuh karir kami sebagai dosen secara perlahan. Tanpa dialog, tanpa diberikan ruang klarifikasi kami dipaksa harus menerima keputusan itu. Suka atau tidak suka.” Tutupnya.

(Mesa)

Komentar

  1. Saya juga merasakan selama jadi dosen stainu seperak pun tdk digaji menurut saya memang harus adaperubahan dan tatakelola pfofesional banyak study banding ke yang sdh maju

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: