Desa

Agar Tidak Banjir; Solusi di Desa

Ada beberapa cara untuk mencegah banjir dengan biaya murah dan mudah yang dilakukan secara alami, hal ini lebih baik bila dibandingkan dengan menggunakan teknologi yang mahal.

Bencana banjir seringkali menjadi persoalan yang rumit di negeri ini, terutama ketika musim penghujan telah tiba. Begitu banyak desa dan kota menjadi langganan banjir. Sungguh sangat miris ibukota Indonesia–Jakarta, merupakan salah satu pelanggan setia yang merasakan penderitaan banjir ketika musim hujan datang.

loading...

Mungkin sudah banyak cara dan teknologi yang diterapkan Pemda DKI untuk mengatasi banjir yang selalu menjadi polemik tersebut. Bahkan sudah menghabiskan biaya yang tidak sedikit tentunya. Tambah lagi, semakin banyak daerah di Indonesia yang ikutan mengalami penderitaan serupa. Baik di kota maupun di desa. Sehingga teknis dan cara penanganan banjir yang efektif dan efisien perlu di sosialisasikan secara kontinyu kepada masyarakat.

Bisa jadi pertanyaan besar dalam benak kita karena sebelumnya desa dan kota tersebut tak pernah merasakan penderitaan banjir. Sebelumnya di desa banyak area yang bisa dijadikan lahan serapan air. Bahkan, berdasarkan lokasi, banyak desa yang sebenarnya terletak di daerah yang cukup tinggi. Namun, hal yang dulu tak pernah terjadi telah banyak berubah di masa kini. Tak ayal penderitaan banjir pun semakin banyak hadir dan menghantui kehidupan desa serta daerah lainnya.
Tehnik mengatasi banjir secara alami menjadi yang paling tepat dan cepat sehingga harus diketahui oleh masyarakat di desa. Bencana banjir ini sebenarnya tidak hanya mempersalahkan kondisi alam sebagai penyebab utama. Curah hujan yang meningkat ketika musim penghujan digadang-gadang menjadi faktor utama yang menyebabkan banjir.

Padahal, harusnya kita bertanya-tanya bahwa, dulu kok tidak banjir namun sekarang banjir dimana-mana ? Apa penyebabnya ? Sebelum menjawab pertanyaan diatas seharusnya kita paham bahwa penderitaan banjir tidak cuma disebabkan oleh kondisi alam yang tak mendukung.

Namun, pasti ada faktor penyebab lain yang terlibat di dalamnya, seperti ulah manusia yang tak bertanggung jawab. Manusia kerap tak megelola lahan dengan baik. Sekelompok manusia tertentu sesuka hati menggunakan lahan di desa maupun kota sesuai kepentingan mereka. Melakukan pembangunan dimana-mana, termasuk di lahan yang seharusnya jadi tanah serapan air.

Baca Juga :  Dilema Pemerintahan Desa

Pepohonan di hutanpun sesuka hati ditebang guna memenuhi kebutuhan industri, sehingga penyerapan air jadi berkurang dan diikuti kerusakan ekosisten yang semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu persoalan banjir jadi semakin parah dan meraja-lela, maka 5 tips berikut ini merupakan Cara mencegah banjir secara alami yang bisa dilakukan sebagai langkah jitu untuk mengatasi bencana banjir di desa.

Buang sampah pada tempatnya

Membuang sampah pada tempatnya adalah salah satu cara paling jitu untuk mengatasi penderitaan banjir yang melanda tatkala musim hujan. Soalnya sampah yang dibuang sembarangan, apalagi dibuang di parit, sungai, maupun aliran air lainnya, dapat menyebabkan sumbatan sehingga aliran air tidak lancar. Oleh karena itu, genangan air bisa terjadi kapan saja sehingga menyebabkan banjir.

Jangan habiskan pekarangan rumah untuk bangunan

Cara mencegah banjir sederhana yang sangat membantu untuk mengatasi terjadinya banjir yaitu memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam pohon, misalnya pohon mangga, rambutan, cabe, tomat, dan lainnya. Jangan pernah menghabiskan lahan rumah Anda hanya untuk bangunan. Hal ini supaya ketika hujan turun dengan deras, maka air tersebut bisa diserap oleh tanaman yang ada di pekarangan rumah. Dengan begitu, tidak ada air tergenang yang memenuhi pekarangan rumah Anda.
Selain itu, serapan air ini bisa juga jadi cadangan air ketika musim kemarau tiba. Alhasil, tidak ada ancaman krisis air yang mungkin berlangsung di desa.

Gotong royong membersihkan desa

Meskipun kebersihan adalah aspek penting kehidupan, bahkan juga termasuk dalam sebagian dari iman, namun tetap saja ada pihak yang tidak bertanggung jawab prihal kebersihan desa.

Maka, lakukanlah gotong-royong secara rutin untuk membersihkan lingkungan desa. Para pria membersihkan jalan serta saluran air di desa agar tidak ada sumbatan. Lalu, para wanita menjadi seksi konsumsi yang menyediakan asupan energi sebelum maupun selepas aksi gotong royong.

Sikap bahu-membahu ini sangat dibutuhkan supaya pekerjaan terasa lebih ringan dan penderitaan banjir pun tak datang lagi. Taukah Anda bahwasanya menjaga kebersihan adalah langkah terpenting oleh bangsa-bangsa di Eropa guna menjaga negara mereka senantiasa apik dan cantik ? Coba baca Cara Pengolahan Sampah Desa Di Luar Negeri, Ini Bisa Jadi Inspirasi.

Maka, jagalah kebersihan secara bergotong-royong agar sebagai pribumi kita betah tinggal di negeri sendiri tanpa harus sibuk liburan atau bahkan malah memilih tinggal di luar negeri. Kemudian, kebersihan juga tak hanya jitu sebagai Cara mencegah banjir secara alami, melainkan juga mampu mengundang orang asing untuk mau berkunjung ke berbagai tempat wisata yang ada di seluruh daerah di Indonesia.

Baca Juga :  Oknum Keuchik Diduga Menggunakan Dana ADD Tanpa Musrenbang

Pembangunan konstruksi dengan teknik geopolimer atau geopori

Seorang guru besar di sebuah universitas ternama yakni Professor Bambang Sunendar Purwasasmita dari Institut Teknologi Bandung berhasil menemukan sebuah inovasi teknologi guna mengatasi penderitaan banjir. Inovasi tersebut adalah teknik geopolimer atau disebut juga geopori.
Selain itu, bahan tersebut juga bisa digunakan untuk membangun bahu trotoar dan jalan dalam bentuk paving blok. Bahan berbasis teknologi geopori ini akan mampu menyerap air ketika hujan sehingga genangan air maupun banjir tidak terjadi.

Membangun Bendungan

Pembangunan bendungan guna mengatasi penderita banjir telah diterapkan oleh berbagai bangsa di Eropa, khususnya negeri kincir angin–Belanda. Disana pembangunan bendungan telah dimulai sejak tahun 1920. Bendungan yang pertama kali dibangun memiliki nama Afsluitdijk. Peradaban di Belanda dahulu kala belum semaju kehidupan masa kini.

Maka, tak perlu heran negara yang terletak di dataran yang lebih rendah dari posisi laut, kerap kali merasakan penderitaan banjir sejak abad ke-18. Kemudian, barulah di awal abad ke-19, pembangunan bendungan mulai berlangsung secara perlahan-lahan di seluruh daerah di Belanda guna mengatasi persoalan banjir. Bendungan di Belanda dibangun dengan Sistem Polder yang mana air tergenang, khsusnya yang berasal dari hujan dialirkan ke area Polder. Kemudian dengan menggunakan pompa, air yang ditampung dialirkan ke ke sungai atau kanal yang langsung bermuara ke laut.

Polder merupakan sistem tata air tertutup dengan meliputi berbagai komponen seperti :
• Tanggul,
• Pompa,
• Saluran air,
• Kolam retensi,
• Pengaturan lahan dan
• Instalasi air kotor terpisah.

Kalau pun sistem Polder tak bisa diterapkan pada daerah tertentu, maka Pemerintah Belanda juga membangun berbagai tanggul raksasa. Begitulah beberapa cara untuk mencegah terjadinya banjir Secara Alami Di Pedesaan. Semoga segala informasi yang diberikan bisa jadi inspirasi untuk Anda.

Penulis : Mesa

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close