©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
NasionalOpini

Ambigu Budaya Masyarakat Desa

MediaDesa.id – Dalam pemahaman yang umum karakteristik masyarakat Indonesia tergolong dalam karakteristik masyarakat Desa. Beberapa ahli membuat rumusan tentang karakteristik masyarakat Desa terdiri dari,religious, solidaritas kesukuan dan kedaerahan yang tinggi, gotong royong, serempak (guyub) dan lain sebagainya. Rupanya karakteristik budaya desa ini telah mengalami pergeseran yang merayap seiring berjalannya waktu, perkembangan tekhnologi dan bentuk hubungan antara individu sebagai bagian dari kelompok yang ada. Seperti halnya dalam karakter religiutas, masyarakat Desa dinilai sangat menjunjung tinggi nilai agama, memahami nilai agama sebagai Sesutu yang luhur dan sacral. Agama difahami sebagai pedoman hidup, sehingga apapun dianggap tidak beleh bertwntangan dengan ajaran agama. Selain itupun budaya tindakan keseharian masyarakat Desa telah mencerminkan tentang karakteristik tersebut. Kita dapat saksikan ritual keagamaan begitu kental dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa.

Jika mayoritas penduduk Desa beragama Islam, pastinya kita akan dapatkan rutinitas pengajian dari mulai anak-anak sampai orang tua padat mengisi hamper setip hari bahkan setiap saat kehidupan warga Desa seperti; pengajian bulanan, pengajian mingguan, pengajian ibu-ibu, pengajian muda-mudi, solat berjamaah setiap magrib. Manakala ada salah satu penduduk desa yang tidak mengikuti kebiasaan tersebut (guyub), maka mereka akan mengeliminasi (mengasingkan) pergaulan hidup mereka, menjadi cibiran dan bahkan sikap diskriminatif. Sikap diskriminatif ini biasanya ditunjukan dengan cara tidak terbuka dan hanya pembatasan pergaulan saja.

Karateristik masyarakt Desa ini kemudian telah mengalami pergeseran, kondisi ini didorong oleh kondisi hadirnya anggota masyarakat kota di desa. Kehadiran masyarakat Kota ini biasanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi dan mencari komoditas industry seperti sumber energy, bahan mentah dan tenaga kerja. Pada mulanya Masyarakat Desa sangat curiga dengan kehadiran orang-orang asing di Desanya, dan tidak jarang mereka berkonflik dengan penduduk asing di Desanya. Kemudian berkat kemapanan yang dimiliki masyarakat Kota mereka dapat menyusup masuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Desa. Suguhan budaya transpormatif masyarakat moderat menjadi cara ampuh melumpuhkan sisi-sisi budaya masyarakat Desa. Masyarakt asing telah merangkul warga desa dengan kecanggihan tekhnologi dan argumentasi nilai universal yang terkesan memanjakan pola hidup mereka, saat itulah mahkota buadaya warga Desa mulai terkikis dengan dogmatika moderenitas dan tekhnologi orang asing.

Baca Juga  Yusril Tantang Pengacara HRS Cek Keaslian Chat-nya

Teknologi dan nilai universal telah menanamkan abiguitas karakteristik budaya masyarakat Desa. Ambigiutas ini difahami sebagai kerancuan dalam budaya, paradoksal (bertentangan) dalam bersikap, dan kebingungan dalam menentukan nilai kehidupan. Modernitas dan tekhnologi telah telah membuka sedikit saja liberasi pemahaman pada roh kehidupan masyarakat Desa. Hal ini ditandai dengan mulai mengesampingkan kebiasan-kebiasaan yang semula dianggap sacral. Walaupun hal ini tidak dilakukan secara radikal, namun yang pasti sedikitnya telah ditinggalkan. Kondisi demikian telah memberikan pengaruh yang cukup besar pada pola relasi warga Desa dengan nilai budaya yang semula diembannya, hubungnnya menjadi longgar dan berdampak pada karakteristik masyarakat Desa secara keseluruhan.

Hari ini banyak kita jumpai berbagai persoalan sosial muncul di tengah masyarakat Desa, masyarakat desa tidak lagi kompak seperti dahulu, masyarakt Desa menjadi terkotakan, tidak kompak, berkonflik hingga hingga melakukan tindakan kekrasan terhadap kelompok lain yang dianggap tidak sejalan dengan keyakinannya. Hal ini sebuah kerancuan, manakala mereka senyatanya masih kerabat dekat yang sejatinya bisa saling melindungi dan mengasihi. Belem juga degradasi moral moral anak-anak desa yang mulai kental mewarnai alur kehidupan Desa. Anak-anak muda Desa kini lebih suka berkumpul dalam pos ronda hanya sekedar untuk bemain game online dengan gadget miliknya. Belum juga anak-anak kecil hamil oleh teman sebayanya bahkan oleh orang tuanya, padahal seiring gending phenomena itu dari masjid dan syurao berkumandang azan dan alunan ayat al-Quran, ini kiranya kerancuan budaya yang senyatanya. Modernitas dan tekhnologi telah dipersefsikan salah, sehinga hanya menyisakan keniscayaan bagi warga Desa. (Andi Ibnu Hadi)

  • 3
    Shares

Tinggalkan Balasan