©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
Realita

Antara Probono dan Kepentingan Terselubung

Sumiati (nama samaran) seakan terbebas dari belenggu pernikahan yang menjeratnya karena sudah 2 tahun dia ditinggal suaminya yang entah pergi kemana, bahkan untuk menghidupi keluarganya, Sumiati menjadi buruh cuci di rumah seorang kepala sekolah.

Dengan wajah yang sumringah Sumiati menghentakkan setiap langkahnya menelusuri jalan desa, dengan harapan dia terbebas dari pernikahan yang membuatnya jauh dari tujuan mulia yaitu terciptanya sakinah mawadah warohmah. Dengan sesungging senyuman Sumiati mendapat keyakinan bahwa ia akan memenangkan gugatan cerainya di Pengadilan Agama. Kemudian dia mendatangi pos bantuan hukum, di tengah jalan tiba-tiba bertemu dengan pak RT sebut saja namanya Kundang, “ibu mau berangkat kemana?” sumiati pun menjawab ”saya mau ke pengadilan agama, ada perlu pak RT”. Kundang merasa iba dengan Sumiati dan dia menawarkan jasa untuk mengantarnya sampai Pengadilan Agama dan Sumiati pun tidak menolak.

Tidak lama sampailah di lokasi dan Sumiati langsung mendatangi posbakum karena dia tau bahwa posbakum itu tempat untuk menangani perkara secara probono (tanpa dipungut biaya) karena dia juga merasa tidak akan bisa membayar pengacara untuk gugatan itu, jangankan untuk mengajukan gugatan, untuk kehidupan dia sehari-hari pun masih bergantung dengan orang tua, dan dari penghasilannya menjadi buruh cuci, sesampai di posbakum lalu Sumiati menceritakan maksud kedatangannya hingga terperinci, tetapi alangkah terkejutnya Sumiati ketika dia diminta uang Rp. 600.000 untuk membayar biaya perkaranya itu. Dengan nada kecewa Sumiati bertanya ”kenapa saya harus mengeluarkan uang, katanya posbakum itu melayani secara probono/gratis tapi kenapa kok bayar pak?” lalu menurut salah satu pihak posbakumnya menjawab ”kalau mau cepat harus bayar bu, untuk biaya sidangnya dan bulan juni ini juga perkara ibu sudah disidangkan”.

Baca Juga  Putra Bungsu Ponpes Haur Kuning Dinobatkan Komandan Santri Tasikmalaya

Mendengar pernyataan tadi sumiati yang tadinya sumringah dengan 1000 harapan ternyata mendapat jawaban yang begitu pahit, padahal sudah jelas bilamana masyarakat miskin ingin menyelesaikan perkaranya di Pengadilan Agama itu bisa dibantu oleh pemerintah. Lalu Sumiati pun keluar dan bertanya pada seseorang yang tidak dikenal, ”Pak apakah benar kalau di posbakum gratis?” .”Setahu saya bu kalau ibu datangnya ke posbakum itu gratis karena biayanya ditanggung oleh pemerintah asalkan dipa-nya masih ada bu, ibu tadi bertanya sama pegawainya apakah masih ada dipa-nya?” Sumiati menjawab pertanyaan bapak itu, bahwa dia telah menemui posbakum untuk pelayanan gratis namun malah diminta uang.

Tak lama si bapak itu mengantarkan Sumiati kembali ke ruangan posbakum dan dia mencoba untuk mengobrol. ”Pak kok ibu ini diminta uang bukannya kalau di posbakum itu garatis?”. Jawabannya tetap sama, bahwa harus membayar uang pendaftaran gugatannya. “Pak kalau orang ini punya uang tidak akan datang ke posbakum pasti dia datang langsung ke pengacara.”. Dan akhirnya pihak posbakum menerima Sumiati namun dengan alasan akan diproses namun dalam waktu yang agak lama. Sumiatipun merasa terharu walau bisa memenuhi maksudnya, dia kecewa sambil meneteskan air mata dengan pelayanan publik yang seharusnya berpihak kepada rakyat kecil, dan menganggap bahwa bantuan gratis adalah iming-iming belaka. (Dian M. Darda)
(berdasarkan kisah nyata)

Tinggalkan Balasan