©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
Sastra

Antara Takdir dan Kehendakmu (1)

“Pernah beberapa kali kucoba, namun selalu gagal dan tak pernah sampai. Entah kenapa, tanganku terasa kaku untuk bergerak, pikiranku buntu. Dan jika pun selesai aku buat, selalu aku sulap menjadi gumpalan kertas yang berakhir ke tempat sampah”

***
Hari ini hari Sabtu, aku sedang mempersiapkan beberapa kitab yang aku letakan di atas lemari pakaiannku. Tampak teman sekobongku Arif, Rahmat dan Alif yang sedang melakukan aktifitas sama sepertiku. Kecuali Asep, Dia sibuk membereskan pakain baru dan beberapa stok makanan yang ia bawa saat pulang ke hampung halaman ketika Idul Fitri.
“Asep, lima menit lagi masuk kelas. Kamu tau kan, sekarang siapa yang mengajar!?”, Tanyaku sembari membuka pintu lemari untuk mengambil baju koko dan sarung.
“Iya, aku tau. Dan apa kamu juga tau, jika hari ini adalah storan hapalan Alfiah yang minggu lalu ditugaskan oleh Ustad Rahman?” Timpalnya dengan nada pongah, dan terasa membuat jantungku berhenti berdenyut sejenak. Aku tidak berkutik mendengar pertanyaan baliknya, meski ia hanya sekedar mengingatkan, namun bagiku itu seolah ancaman. Karena jika aku tidak mampu menghapalnya, tentu aku akan jadi bulan-bulanan dirinya, juga temanku yang lain. Aku terpaku dibuatnya, layaknya permainan catur yang dalam posisi skak mat.
“Kamu sudah siap, Salman, untuk dijilid?”, Kejarnya lagi sambil nyengir ala kuda khasnya, seakan belum puas membuat kedua persendian lututku lemas.
Nampak Arif tersenyum-senyum menahan tawa, lalu berlalu keluar kobong dan menepuk pelan pundakku sembari berkata, “Tabahkan hatimu kawan”.
“Sial, kawannya kesulitan, mereka masih nlmenampangkan wajah polos tak berdosanya didepanku”, Gerutuku dalam hati pada Arif. Belum saja mendapatkan hukuman, tiba-tiba kakiku sudah merasa berat. Tidak terbayang, bagai mana lengan kekar Ustad Rahman memukulkan dengan penunjuk papan bor ke arah betisku. Tak lupa ditambah bonus hukuman di bully oleh empat teman satu kobongku. Lengkap sudah penderitaanku sebagai santri.
***
Benar saja dugaanku, mereka mentertawakanku habis-habisan. Dimulai saat tiba-tiba aku mendadak menjadi orang gagap, lantaran terbata-bata dihadapan ustad Rahman, ketika aku berusaha mengingat-ingat kembali hapalanku yang kabur entah kemana. Mereka tampak puas dan terhibur dengan pertontonan ini. Kecuali Aisyah, yang menyisakan gurat sendu ketika melihat kakiku di hari yang Fitri ini harus bersilaturahmi dengan alat penunjuk yang terbuat dari bambu itu.
Aku pulang dengan dibopong oleh Alif dan Rahmat. Tampak Asep yang membuntutiku kearah kobong, ia tersenyum penuh kemenangan. Dan aku hanya meringgis menahan sakit dan pedih. Sesakit dan sepedih saat diriku mengangumi sosok Aisyah.
Aku bingung dengan cara apa aku mengatakan perasaan yang sudah lima tahun menjadi ganjalan hati. Lima tahun memendam perasaan, sama halnya manam benih penyesalan. Dari dulu cinta memang selalu berpihak kepada orang yang memiliki keberanian. Berani memulai, berani berkorban, berani terluka, dan yang lebih penting dari semua itu, adalah berani mendatangi rumah orang tuanya.
Aku selalu berkelit pada sebuah keadaan, suatu keadaan yang membuatku mencari –cari sebuah alasan untuk tidak berani memperjuangkannya. Pada akhirnya sesalah yang akan kuraih atas segenap keraguan hatiku ini.
Dan satu lagi, yang hampir luput terlupakan oleh perkara yang membuat perasaanku hanyalah meranggas dalam angan, aku adalah sosok pemalu dan tidak percaya pada diri. Aku sering tidak berkutik, dan salah tingkah saat aku dengan Aisyah dipertemuakan oleh sebuah keadaan yang aku sebut itu kebetulan. Senyumku terasa kaku, dan kepalaku terasa berat. Aku hanya bisa tertunduk diam saat berhadapan dengannya. Akhirnya kami berlalu tanpa sepatah kata. Lalu menyisakan segenggam penyesalan, karena menyia-nyiakan kesempatan yang jarang terjadi ini, yaitu bertemu Aisyah pemilik mata teduh. Namun demikian, aku selalu berharap kesempatan itu datangan kembali, meski hanya dari samar jauh dalam mimpi.
***
Pagi berselimut embun membuat mataku berat untuk bangun, sekarang hari minggu. Hari yang kebanyakan para santri tunggu-tunggu. Hari libur. Hanya beberapa santri yang berada di kobongnya. Kebanyakan mereka melakukan aktifitas pribadi. Ada yang pulang kerumah, ada pula yang hanya sekedar jalan-jalan. Hanya beberapa santri yang memilih diam di kobong, dan itu pun karena dua alasan mereka memilih untuk tidak keluar. Yang pertama, karena tidak punya uang, dan yang kedua, karena letak jarak rumah mereka cukup jauh. Sedang alasannku untuk tidak pergi walau hanya menghirup angin segar adalah keduanya. Inilah yang membuat aku sendiri, yang memberikan kesempatanku untuk mencari ruang keramaian disudut hatiku yang sepi.
Tiba-tiba ingatanku jatuh pada Aisyah, lalu aku bangun dan menyikap selimut yang membalut seluruh tubuhku. Aku berjalan terbopoh-bopoh menuju lemari bajuku. Aku mencari sebuah buku. Aku ingin membuat surat untuknya.
Aku memberanikan diri untuk menyampaikan semuanya melalui goresan tinta yang berjejer rapih sebagai perantara keluh hatiku. Sebetulnya ini bukan pertama kalinya aku menulis surat untuknya. Pernah beberapa kali kucoba, namun selalu gagal dan tak pernah sampai. Entah kenapa, tanganku terasa kaku untuk bergerak, pikiranku buntu. Dan jika pun selesai aku buat, selalu aku sulap menjadi gumpalan kertas yang berakhir ke tempat sampah. Aku takut ia marah padaku. Aku tidak yakin pada diriku sendiri.
Namun jika semua ini terus berlanjut, sama saja memperpanjang kontrak kesengsaraanku yang sudah genap lima tahun ini. Aku berusaha menulis, menulis apa pun yang terlintas dibenak, apa yang aku rasakan. Tentang suka duka saat menyimpan tentangnya dalam hati, aku tuturkan dengan segenap jiwa dan perasaan. Tentang kecemburuanku saat ia didekati seseorang ikhwan. Tentang malamku yang selalu bermandikan pada kegelisan, tentang kerinduaan yang menyiksa. Aku terus menulis, tiada henti, tiada jeda. Dan baru terhenti ketika air mataku meleleh membasahi coretanku. Aku merndukannua, Ya Allah. Sungguh, aku sangat mencintainya.
Aku robek surat itu, lalu aku masukan kedalam selembar amplop lusu. Aku tak sanggup lagi mengungkapkannya. Perasaanku terlalu dalam, semakin aku ungkapkan, bukan kelapangan yang kuraih. Melainkan kesakitan yang terus merambat dari ingatan menuju denyut jantungku. Keberanian enggan berkawan denganku. Aku takut menerima kenyataan pahit. Aku pengecut. Apa yang kau harapkan pada pemuda sepertiku Aisyah.

Baca Juga  Antara Takdir dan Kehendakmu (2)

Bersambung ke part 2, KLIK

Tinggalkan Balasan