Sastra

Antara Takdir dan Kehendakmu (2)

Waktu sudah menunjukan pukul 03.30 sore. Pondok pasantrenku masih tetap pada sepinya, hanya beberapa orang yang berlalulalang disana. Sisanya mereka masih berada dalam dunianya masing-masing. Aku masih didalam kobongku seperti sedia kala, mundar-mandir tidak jelas. Aku bingung. Bagaimana caranya perantara hati ini bisa sampai pada pemiliknya.

Kekhawatiran tiba-tiba menyeruak masuk melalui akal buntuku, mengendap-ngendap menciptakan gelisah yang berakhir pada sikap putus asa. Aku terkapar kembali di tempat tidurku, sembari tangan memeluk surat untuk Aisyah di atas dadaku. Hening pun tercipta kembali. Aku telah kalah sebelum mencoba. Tiba-tiba aku terperanjat karena mengingat sesuatu, aku lupa jika aku memiliki no Handphone sahabat Aisyah, Ratih. Tidak berpikir panjang lagi aku langsung menelponnya, aku meminta bantuan Ratih untuk mengatur pertemuanku dengan Aisyah. Meski beberapa kali ia menolak permohonanku, tapi aku berusaha terus meyakinkankannya. Akhirnya ia luluh, meski ada beberapa syarat harus aku penuhi. Ia meminta jika terjadi sesuatu, jangan bawa-bawa dirinya. Karena dipasantrenku melarang keras pertemuan sepasang santri. Dengan kata lain tidak boleh jalan berduaan, baik di pondok maupun diluar. Jadi Ratih tidak mau ikut menanggung resikonya bila sampai hal ini di ketahui.
“Tapi seperti apakah bentuk hukumannya? Aisyah kan putri satu-satunya Kiyai Mursyid pendiri sekaligus ketua yayasan pasantren ini”. Gumamku dalam hati. Kengerian langsung mengendap menguasaiku. Tapi, sudahlah lupakan, aku tidak mau membayangkan hal yang belum tentu terjadi. Karena ini akan memadamkan lagi nyaliku yang beberapa menit lalu telah berkobar.
***
Aku duduk terpekur di teras masjid Agung alun-alun Singapaparna. Tempat yang sudah disepakati oleh Ratih dan aku untuk pertemuanku dengan Aisyah. Aku terasa gugup, segelas teh hangat kupesan untuk mencairkan hatiku yang beku. Aku tak tau apa yang Ratih katakan pada Aisyah hingga ia mampu meyakinkan hatinya untuk menemuiku. Karena aku tau, dia tidak pernah bertemu dengan lelaki secara peribadi sebelumnya. Dan mungkin, ini pertemuan pertamanya.
Beberapa menit kemudian, lamunanku buyar saat terdengar ucapan salam dari arah samping kanan,
“Walaikum Salam”, sahutku dengan nada berat. Aku mengenal suaranya, yah, dia, Aisyah..”, Dengan berlahan kubalikan badanku kearah sumber suara yang menyapaku. Aku tak bisa berkata apa-apa saat ia sudah dihadapanku, ungkapan penyambut yang aku persiapkan, tiba-tiba raib bersembunyi dibalik saraf lupaku. “Afwan, membuatmu menunggu lama”, tutur Aisyah, sembari meneyekat keringat di dahinya. “Iya, tidak apa-apa, maafkan aku juga sudah membuatmu repot untuk datang kesini, silahkan duduk”. Pintaku sambil menggeserkan tubuhku kerah samping untuk memberi ruang padanya.
Iya terlihat cantik kali ini, menggunakan kerudung biru, selaras dengan pakain muslimya yang sama biru, dengan bawah dibalut rok hitam panjang yang nyaris menyentuh tanah.
Dengan sorot matahari yang menyinari kulit putihnya, Membuat ia bercahaya. ‘Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah dengan segala ciptaan-Mu”. Syukurku dalam hati terdalam.
Sejurus kemudian,“Kang, pesen teh botol, satu.” Pintaku kepada pedagang yang ada depanku.
“Aisyah, kamu sudah makan? Aku pesankan batagor, ya?” sambungku yang kali ini kutujukan kepada Aisyah yang tiba-tiba sudah duduk disampingku.
“Engga makasih, Kang. Aku sudah makan kok”, Tolaknya dengan isyarat mengelengkan. Dan aku tidak sengaja, menatap mata teduhnya. Beberapa detik kami beradu pandang, lalu ia menunduk kembali. Dan aku menggaruk-garukan kepala yang sebenarnya tidak gatal. Aku malu. Benar-benar malu!
“Aisyah, aku tau kamu belum makan. Makanlah.” Pintaku sekali lagi dengan nada memohon. Dia terdiam, ada rahasia tersirat dibalik diamnya. “Aisyah, aku sejak pagi tidak makan sedikit pun, loh. Aku ingin bisa makan bersamamu”. Aku membujuknya lagi. Tidak beberapa lama susana hening. Sebelum semunya berubah saat Aisyah melontarkan perkataan yang membuatku tersenyum.
“Iya, aku mau, aku mau makan denganmu”. Tuturnya sambil melempar senyum termanisnya kepadaku.
Lalu kupesan dua mangkok batagor , dan dua teh botol untuk kami berdua.
Kami makan batagor tanpa perbicangan apa pun, aku bingung dengan keadanku saat ini. “Aku memikirkan kebodohanku yang berniat memberikan surat padanya. Kenapa jika hanya mengirm surat aku harus menemuinya, kenapa tidak aku titipkan pada Ratih saja? Tindakanku terlalu beresiko, bagaimana jika salah satu santri tau tentang pertemuan ini, aku yakin pasti akan sampai pada Kiyai Mursyid, dan jika sampai ia tau, tamat sudah riwayatku.
Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin aku dapat memutar waktu”. Gulatku dalam hati. ”Maafkan aku Aisyah, telah membawamu kedalam situasi ini. Lirihku dalam hati pada Aisyah.
“Aisyah,..” sapaku, yang membuat ia berhenti dalam kekhusukan makannya. Lalu kututurkan apa yang sudah menjadi niat dan ketetapan hatiku,“Tentu kau sudah tau, kenapa aku ingin bertemu denganmu. Tak perlu aku ceritakan pun kamu telah mengetahui semuanya. Melaui tatapan mataku, sudah aku tumpahkan segalanya curahan hatiku padamu. Ingin aku berkata sejak dahulu, namun ketidak mampuanku sebagi lelaki lemah, membuat perasaanku tetap pada haluannya untuk tidak berbicara dalam bahasa nyata.
Lima tahun sudah aku hidup dengan menyimpan perasaan terhadapmu. Tentu kau pun tau, Aisyah. Bagimana menderitanya mencintai seseorang dalam diam, ketika rindu datang, hanya poto lusumu-lah yang menjadi pengobat paling mujarabku, “Aisyah, aku membawa segenap peraasaanku yang kuwakilkan melalui tinta di atas kertas ini. Tadinya, ingin aku berikan padamu. Namun, aku sudah diberikan kesempatan Allah untuk bisa bertemu denganmu. Jadi, aku tak mau menjadi pecundang untuk yang kesekian kalinya, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu denganmu dengan pulang membawa segala kesuakaran hati. Maka, surat ini akan tetap padaku, tiada ijin dariku atas surat ini bertemu sang pemiliknya. Aku ingin berkata padamu tanpa perantara. Tiada yang mengetahui kejujuran ungkapanku kecuali pemilik hatiku, Allah. Dan biarlah Allah pula yang menjadi saksi diantara insan muda ini untuk berharap padamu. Aisyah, tiada maksud aku merendahkan derajatmu sebagi wanita lantaran kejujuranku, bahwa aku sangat mencintaimu, aku sangat mengasihimu, aku… aku… ”. Aku tak sanggup lagi berkata, dadaku disesaki kepiluan tiada tara. Aisyah hanya menunduk dalam, tampak riak pendar dimata sayunya. “Aisyah, maafkan perkataanku yang membuatmu menangis. Sungguh, tiada maksud menaruh beban di hatimu yang rapuh. Akupun mulai merasakan lelehan hangat yang menggurat dipipiku. Aku panik.
“Aisyah, maafkan aku….” Lirihku. Sejenak suasana hening, dan hanya sedikit terdengan lirih tangis Aisyah.
“Kang, tada yang membahagiakan dalam hidup, ketika mendengar kejujuranmu. Tiada yang paling menyakitkan pula, disaat aku tau kenyataan nasib kita. Kau telah menyimpan perasaan padaku Lima tahun lalu, sedang aku, menyimpan rasa cintaku semenjak engkau mulai menimba ilmu disini, tepatnya Sepuluh Tahun lalu. Setiap malam aku berharap dan meratap pada Allah, agar engkau lekas tau perasaanku. Karena keletihan hatiku yang selalu mengisi kekosongan hari hanya sekedar memikirkanmu. Namun, apalah daya, dirimu hanyalah bayangan yang mengisi separuh benakku. Aku tau kau memiliki perasaan yang sama terhadap diriku, pengetahuanku bukan dari tutur perkataan yang mungkin saja berbalut dusta, tetapi melalui kejujuran akhlakmu, senyum tulusmu, dan tatapan harapmu yang seolah memamnggil-manggil namaku. Disana aku menemukan ketulusan darimu. Namun aku hanyalah seorang wanita dhaif, yang membutuhkan sebuah kepastian dari jawaban penantianku”. Aisyah semakin tersisak, air matanya kini telah membasahi raut wajahnya.
“Aisyah, sekarang aku tegaskan, didepanmu, didepan semua orang. Aisyah, setelah ini aku akan menemui Ayahmu. Aku ingin memintamu untuk aku jadikan engkau teman hidupku. Aku akan melamarmu, Aisyah”. Aku teguhkan hatinya dengan menumpahkan keinginaku padanya, sungguh, Aisyah. Aku tidak mau memperpanjang derita hatimu, juga derita hatiku. Aku akan menikahinya.
“Sudah terlambat, sudah tiada lagi kesempatan untuk kita, sudahlah. Biarlah perasaanku tetap bersemayam dalam jiwaku yang lemah. Sampai pada saatnya nanti, Allah iba dan mengasihaniku, lalu menghapus namamu secara berlahan…”.
“Kenapa, Aisyah? Bukankah kita sama-sama saling mengasihi, Allah akan mempermudah jalan seorang hamba, jika kita menempuh dengan cara yang Ia Ridhai”. Mari, Aisyah. Kita pulang sama-sama, kita ke rumah orang tuamu. Kita tuturkan niat suci kita, aku yakin ia bisa menerima. Bukankah Ayahmu adalah seorang guru yang bijak. Aku yakin, ia merestui kita”. Kejarku demi meyakinkan hati Aisyah. “Bukan itu, maafkan aku. Aku sudah terikat, tidak berapa lama lagi aku akan menikah”. Tangis Aisyah pecah.
“Aisyah, apakah kamu sudah menerimanya, aku yakin kau tidak bisa menerimanya begitu saja. Aku yakin cintamu hanyalah untukku. Ayo Aisyah, kita pulang”. Aku ulurkan tanganku untuk kuajaknya pulang. Namun ia menepisnya. “Aisyah, kenapa kau menolak? Ayo Aisyah, aku akan memohon dihadapan Ayahmu, aku akan meminta membatalkan perjodohan ini, kamu belum menerimanya, kan?. Tetapi aku membutuhkan dukungan darimu, yakinkanlah Ayahmu, bahwa kamu hanya ingin menikah denganku. Bahwa akulah satu-satunya yang mampu membuatmu tetap hidup dalam hidup”. Ratapanku membuat ia semakin menangis. Tidak hanya hatiku yang teriris, tetapi juga hatinya.
“Aisyah”, ucapku lirih, mataku sembab, hatiku terasa hancur berkeping-keping. Namun aku berusaha tegar dihadapannya, setidaknya aku bisa menjadi sandaran hatinya, meski untuk yang terakhir kalinya.
“Maafkan aku, aku tak mau mengecewakan kedua orang tuaku. Aku tak mau mendurhakai mereka hanya karena cintaku yang tak bernasib baik. Aku tak mau membuat malu keluargaku”. Aisyah menutup wajahnya, tampak bahunya terguncang.
“Maafkan aku, Aisyah….”. Nestapa hatiku.

Baca Juga  Antara Takdir dan Kehendakmu (1)

Bersambung ke Part 3 KLIK

Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close