©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
Sastra

Antara Takdir dan Kehendakmu (3)

Malam ini pasantren tampak sepi tidak seperti malam-malam biasanya yang selalu ramai. Ternyata mereka berkumpul disatu tempat. Bergerumun didepan rumah Kiyai Mursyid. Tak berselang lama, aku dihampiri dua santri yang tak asing lagi buatku. Mereka Abdul dan Abidin, keamanan pondok pasantren kami. Tidak banyak bicara mereka berusaha menarikku, lebih tepatnya menyeretku untuk ikut mereka. Aku berusaha menolak, dan menangkis lengan kekarnya yang berniat membawaku dengan secara tidak hormat.

Tapi mereka bukanlah tandinganku, perawakan mereka tinggi besar, sikap mereka seperti layaknya bodigar. Aku kalah. Dan aku pasrah merelakan diriku diperlakukan layaknya seorang penjahat. Kedatanganku disambut dengan sorotan mata kebencian oleh para santri, dan pengurus pasantren. Aku tidak tau musabab berkumpulnya mereka di halaman rumah Kiyai Mursyid, dan benakku terus berkutat memikirkan kesalahanku yang aku belum sadari.
Kerumunan itu memecah menjadi dua bagian membentuk jalan. Dan seolah melingkar mengepungku. Mereka menteriakkiku, memakiku, dan menyumpahiku.
Sebagian ada yang berkata dengan nada tinggi, agar aku lekas diusir dari pasantren, lalu disambut dengan gemuruh suara santri tanda setuju mereka. Lagi-lagi aku hanya bisa diam, menunduk dan dalam penuh kepasrahan. Sejurus kemudian, Kiyai Mursyid datang dengan wajah merah padam. Pemilik mata teduh yang sama seperti mata Aisyah, tiba tiba terganti dengan mata merah nanar seoalah siap menerkamku. Aku hanya bisa diam, kalau saja kedua tanganku tidak dipegang oleh Abdul dan Abidin. Mungkin aku sudah tergeletak lantaran lemas, karena baru kali ini aku melihat guruku memasang mimik wajah seseram itu.
“Kau sudah kudidik dengan baik, kau sudah kuajari tatakrama. Dan kau sudah lama mengaji, kenapa kau tidak menggunakan ilmumu dalam kehidupan sehari-hari!?”, Bentak Kiyai Mursyid dengan nada kesal. Aku tertegun, sesekali menatap mata Kiyai Mursyid, lalu kembali tertunduk. Aku ketakutan, lututku seoalah kehilangan engsel pengokohnya. Tampak semua santri hening, tergantikan oleh gemuruh caci mereka dalam hati.
Aku berusaha meneguhkan hatiku. namun aku tetap jatuh pada ketidak berdayaan, dengan sisa tenagaku kugetarkan bibirku untuk berkata, namun entah kenapa leherku seolah terasa tercekik. Sulit aku mengetakan sesuatu.
“Lihat, Aisyah putriku tergeletak lemas setelah bertemu denganmu. Kau apakan dia?” tuturnya lagi, ucapannya layaknya sebilas pisau, yang keluar dari mulutnya lalu menyeruak menghujam jantungku. Apa yang terjadi dengan Aisyah? aku tidak terluka oleh perkataan Kiyai Muryid, tetapi yang membuatku sakit, ialah kabar Aisyah yang tak baik karenaku.
Aku pegang pundak Kiyai Mursyid, kuciumi telapak tangannya. “Kiyai, jika saja saya melakukan kekhilafan, maafkanlah saya. Sungguh, Wallahi, aku tidak pernah melakukan apa-apa terhadapnya. Aku memuliakannya sama seperti saya memuliakan santri perempuan lainnya, aku menghormati dan tetap menjaga Izzah dan iffah mereka. Kenapa dia, Kiyai?” Suaraku menyatu dengan isak tangisku, tubuhku ambruk dibawah kaki Kiyai Muryid. Aku menggengam sarung Kiyai Mursyid, bahuku terguncang hebat. Aku menagis.
“Kiyai, aku pun manusia yang dianugrahi Allah perasaan cinta. Perasaan ini hadir tanpa aku pinta, terlahir dengan tidak pernah aku benihi dengan sebuah harapan kosong. Tidak aku pungkiri, saat ini saya memang sangat mencintai putrimu, jauh dari lubuk hatiku, dan itu kejujuranku. Jika cinta saya terhadap Aisyah adalah suatu kesalahan, maka maafkanlah saya. Hukum saya, jika itu mampu memupus sakit hati dan kekecewaan Kiyai. Tetapi Kiyai, sungguh tidak ada niatku untuk mencelakai putrimu”. Lirihku dengan penuh pasrah. Ada duka yang sempat tertahan, sebelum akhirnya menenggelamkan diriku pada sebuah kepedihan.
“Halaahh.., tangisan buaya, Kiyai, jangan dengarkan dia…!! Triak lagi salah satu santri yang ada ditengah kerumunan, diiringi dengan pekikan gemuruh santri yang lain, “setuju..!!!”. Kiyai Musrsyid kali ini terdiam, api kemarahan yang membakar hatinya lamat-lamat padam, setelah ia mendengarkan perkataanku yang penuh iba memohon belas kasihan padanya.
“Salman, Aisyah semalam pingsan. Dan baru tadi pagi ia bangun; ia menyamat-nyamat namamu. Aku dapat laporan, bahwa sore kemarin kamu bertemu dengan Aisyah, apakah betul?”. Aku tak mampu berkata lagi, saat Kiyai Mursyid tau perihal pertemuanku dengan Aisyah. Padahal tiada yang mengetahui kecuali sahabat Aisyah. “Oh… Ratih, kenapa engkau tega berkhianat padaku dan sahabatmu sendiri?” lirih hatiku pada ratih.
Sejenak aku diam, pikiranku terbang melayang, dan kesadaranku baru kembali oleh ucapan Kiyai Mursyid yang kembali bernada tinggi, “Jawab..!!”. Aku kelabakan berusaha menjawabnya, jiwaku sudah rapuh dihantam ketakutan dan rasa bersalah.
“Iii.. iii… , Iya, Pak Kiyai”. Mata nanarnya merah kembali, seolah-olah akan melompat dari ceruknya. Lalu sejurus kemudian, ia memanggil Abdul, salah satu kemanan pondok pasantren, lalu menyuruhnya mengambil sebilas gunting. Aku sudah menerkanya, bentuk hukuman apa yang aku dapat nanti. Mereka akan membotakkiku. Tidak butuh lama Abdul mengambil gunting, dan tidak membutuhkan lama pula mereka melenyapkan rambutku. Abidin memangkas rambutku dengan kasar, dan Kiyai Mursyid sudah kembali kedalam rumahnya untuk melihat kembali keadaan Aisyah. Aku masih dalam posisi dilingkari oleh beberapa santri, sebagiannya lagi telah bubar, tampak beberapa tersenyuman sinis, lalu meninggalkanku dengan hati penuh kemarahan. Dan aku hanya bisa terpaku dengan keadaan yang tidak memihak, tanpa mampu sedikitpun aku melawan.
***
Malam ini hatiku gelisah, mataku tak mau terpejam, aku tidak bisa tidur, aku masih teringat perlakuan mereka tadi sore. Hatiku belum menemukan titik cahaya terang sebuah keikhlasan, terlalu sakit; ketika mengingat-ingat kembali perlakuan mereka padaku, rasanya aku ingin membalasnya. Kesalahanku tidak diimbangi dengan sebuah penghukuman, jauh dari rasa keadilaan. Hatiku terus bergemuruh, dan terhenti saat ada yang mengetuk pintu kobongku “Assalamu’alaikum, suara yang tidak asing menyapaku dibalik pintu. “Iya kang, ada apa?”, Tanyaku datar, tanpa pula menatapnya. “Maaf, menganggu istrahatmu. Ini surat dari Kiyai, sebelumnya ia memohon maaf. Dan surat yang kugenggam ini, adalah surat pengeluaranmu dari pasantren yang ditujukan untuk orang tuamu”.
Tanpa banyak berkata, ia langsung memberikan surat itu kepadaku. Lalu pergi meninggalkanku. Aku peluk surat itu, air mataku kembali hadir disela kepedihanku. Aku duduk, terus memeluk surat tersebuy. “Aisyah, aku akan pergi, aku, aku tidak akan melihatmu, senyummu, keteduhanmu, merdu suara bacaan al-Qur’anmu, dan semuanya tentang mu Aisyah. Engkau akan hilang dalam pelupuk mataku, telingaku akan kehilangan nada terindahnya. Aku terus menangis, aku berusaha membasuh luka dengan salat malamku. Aku menjerit dalam hati, membersihkan satu persatu duri-duri yang menusuk qolbuku.
“Ya Allah, semuanya darimu, maka ijinkanlah hamba untuk mengembalikannya padaMu”. Aku terus melafadkan doaku dalam hati, aku sekat air mataku, aku bereskan semua barang-barangku untuk aku masukan kedalam tas ransel dan koper. Aku akan pulang besok pagi. Selamat tinggal Aisyah.
***
Pagi ini aku sudah siap untuk kembali kerumahku di Sukabumi, terlintas semua kenangnku; canda tawa dengan sahabat-sahabatku, dengan Aisyah; aku rindu senyum manisnya, suara merdunya, rindu nasehat guruku Kiyai Mursyid, sikap tulus Hajah Alisa yang terlukiskan oleh anaknya Aisyah, dan aku rindu semuanya. Rindu semua yang ada di sini.
“Aisyah, jika kelak aku ditakdirkan kembali kesini. Entah setahun, lima tahun, atau bahkan jika Allah baru mengabulkan doaku ketika usiaku menginjak senja, tak apa. Aku bersyukur. Karena disini, aku akan mengulang kembali saat-saat bahagiaku. Bersama kenanganku yang sudah kusimpan rapat dalam memory hatiku yang terdalam.
***
Aku sudah ada didepan rumah Kiyai Mursyid, aku ketuk dengan diiringi ucapan salam. Sejurus kemudian, pintu terbuka diiringi balasan salamku,“Wa’alaikumsalam”. Timpal wanita paruh baya yang sudah ada tepat didepanku, ia adalah Hajah Alisa Ibunya Aisyah. Sosok teladanku, yang kukagumi. Kebaikan, kelembutan dan ketulusan Aisyah merupakan warisan sipat ibunya. Namun ada sedikit perbedaan antara Aisyah dan Ibu Alisa. Meski mereka hampir memiliki kesamaan, baik rupa maupun sifat. Jika Hajah Alisa selalu mengalah, saat ketidak sepahaman ia lebih memilih diam daripada berdebat. Berbeda dengan Aisyah, ia memiliki sifat keras kepala, dan itu cukup dikmaklumi, karena keras kepalanya merupakan warisan Ayahnya Kiyai Mursyid.
“Masuk, Nak Salma”. Sapanya sambil melempar secungging senyum yang nampak tulus padaku.
“Iya bu”. Aku berjalan masuk keruang tamu. Tanpa diperintah terlebih dahulu, aku sudah dalam keadaan posisi terduduk. Ibu Alisah berlalu keruang tengah menuju dapur untuk mengambilkanku segelas air, sambil lalu ia memanggil Kiyai mursyid, “Pak, Nih ada Nak Salman?”.
Aku gugup, jantungku berpacu lebih cepat. Rasa traumaku karena masalah kemarin masih menciutkan nyaliku. Dan tidak membutuhkan lama, jiwa tenangku ditenggelamkan lagi oleh kegelisahan. Tidak menunggu waktu lama, Kiyai Mursyid datang menghampiri lalu duduk di sopa yang ada didepanku. Meski mimik wajahnya telah berganti dengan keteduhan, tetap hatiku masih gemetar dihadapannya. Aku ucapkan salam dengan terbatah-batah. Kuturkan niatku untuk pulang hari ini, tepatnya aku menuruti perintahnya untuk keluar dari pondok pasantrennya.
“Pak Kiyai, saya mau pulang sekarang. Saya kesini hanya sekedar pamitan, dan sekalian mau minta maaf atas kejadian kemarin yang tidak mengenakan Kiyai”. Tuturku dengan nada berat. Aku tidak berani menatapnya, dan aku menunduk memaku dihadapannya. Sejenak Pak Kiyai diam, ada sesuatu didalam jatinya. Aku tidak berani berkata apa-apa lagi, aku pun ikut diam, sembari mengumpulkan keberanianku yang sempat tercerai-berai. Terciptalah hening diantara kita berdua. Namun sejurus kemudian, sepiku pecah setelah Hajah Alisa datang membawakan kami dua gelas teh hangat.
“Ayo, Nak Salman. Diminum dulu tehnya, mempeng masih hangat”.
“Iya, Bu. Hatur nuhun”. Timpalku sembari dengan merengkuhkan bahu dan kepalaku.
“Nak Salman, Maafkan Bapak”. Tutur Pak Kiyai, yang sudah kembali dari sepinya.
“Nak, semalam Bapak tergesa-gesa mengambil sebuah keputusan untuk mengeluarkanmu. Bapak fikirkan semalam, Bapa terlalu gegabah mengeluarkan santri yang sudah puluhan tahun mondok, hanya karena permasalahan yang belum benar adanya. Kemarin bapak panik, melihat Aiysah tak sadarkan diri sembari mengigau memanggil-manggil namamu. Kamu sudah kami anggap keluarga sendiri, tentu jika kamu pergi kami akan merasa kehilangan”. Tampak wajahnya berkaca, setelah ia berkata padaku.
“Maafkan Bapa, Nak”. Mengalirlah air mata guru tercintaku, ia sedang menangisi muridnya yang bodoh ini.
“Kiyai, sudahlah, ini sudah terjadi. Keputusan Kiyai sangat tepat, jangan Kiyai sesali yang sudah menjadi sebuah keputusan. Aku memang pantas menerima hukuman seperti ini”. Akupun mulai merasakan lelehan hangat yang mengalir dimataku.
“Nak, kau menginginkan Aisyah?”. Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kiyai, walau pun sejujurnya ingin aku menjawabnya, bahkan ingin aku berteriak, agar semua penghuni pasantern ini tau. Bahwa aku, Salman, si santri bodoh yang mencintai anak semata wayang pemilik pondok pasantren ini. Namun aku merasa tak pantas mengatakannya. Karena aku bercermin, siapa diriku dan siapa Aiysah.
“Jawab, Nak”. Desaknya, namun kali ini Hajah Alisah yang bertanya. Matanya sembab, ia sejak tadi tidak berkata apa-apa. Ia hanya melihat kami berdua dengan mata sendu.
“Iya, Bu, Aku sangat mengasihinya, melebihi diriku sendiri. Namun, Bu, apalah daya, saya hanyalah anak perantauan yang berniat menuntut ilmu ke desa ini, tiada tempat yang layak disini untukku”. Tuturku dengan suara dan isak tangisku yang mulai terdengar. Kiyai Mursyid tersenyum, lalu menyekat air matanya. Ia bangkit menghampiriku, lalu memelukku dengan isak tangisnya pula. Dan akupun menangis dipelukannya.
“Nak, Aisyah sudah Bapak jodohkan dengan anak sahabat Bapak sewaktu di pondok. Dulu, waktu kami masih muda, kami mengikat persahabatan dengan ikrar dan janji. Bahwa jika aku punya anak perempuan, dan sahabatku itu punya anak lelaki, kami akan menjodohkannya.
Dan saat ini beliau sudah meninggal, dan aku tidak tau apakah dia sempat menikah dan punya keturunan atau tidak. Tadi malam, aku telepon kekeluargamu. Bermaksud untuk mengabarkan kepulanganmu, namun aku dikejutkan oleh sesuatu yang membuatku menangis semalaman. Ternyata yang aku telepon adalah Ibumu, Istri dari Ayahmu. Ia menceritakan tentangmu, juga Ayahmu. Ayahmu meninggal saat kamu berusia tujuh bulan dalam kandungan ibumu. Ayahmu sempat menikah, dan dikarunia seorang anak yang baik sepertimu. Hanya saja aku tidak mengetahui kabar pernikahannya, yang aku tau hanyalah kabar kematiannya. Karena jarak kita terbentang jauh, jadi komunikasi kami cukup sulit. Calon mantuku, peluklah Ayahmu ini dengan erat”. Ia semakin terisak setelah menuturkan hal itu. Aku pun langsung sujud syukur, aku manangis sejadi-jadinya di bawah lantai. Hajah Alisa memangil Aiysah. Aisyah berlari menghampiri ibunya yang sejak tadi menguping pembicaraan kami, dan ia langsung memeluk ibunya disertai tangisnya. Kami semua terbalut air mata bahagia. Aku tidak mengerti tentang semua ini, tentang takdirku yang Allah lukiskan jauh disingasana. Yang jelas, sukacita telah mengahmpiriku dan Aiysah. Jalan menuju jodohku memang sukar, namun tentulah Allah memiliki maksud lain dari semua rencanaNya.
***
Hari ini malam pengantinku dengan Aiysah, aku sudah menikah. Rasa malu tiba-tiba menyergap masuk ke hulu jantungku,. Aku gugup. Aku hampiri Aiysah yang tengah duduk menantiku disamping ranjang pengantin kami. Dengan berlahan , tanganku merangkul pundaknya. Aiysah hanya tersenyum lugu, ia tersipu malu, sesekali menatapku lalu tertunduk kembali. Ada nada senyap bahagia menyelusup secara berlahan masuk kedalam jiwaku, aku pegang dagu istriku Aiysah dengn lembut. Kutatapi wajah cantiknya, aku usap kepalanya yang masih dibungkus kerudung putihnya itu, Lalu dengan berlahan, kucium keningnya. Dan ia memejamkan kedua matanya. Jantungku sudah berdetak tak berirama. Lalu aku bangkit, meminta ijin kepada istriku untuk mengambil air wudhu. Aku ingin salat malam bersamanya, sebelum aku menunaikan kewajibanku.
“Kang, nanti kalo salat bacaannya jangan yang panjang-panjang, ya. Biar cepat!”. Bujuk Aiysah dengan nada manja nan lembut. Dan otakku langsung cekatan untuk mencerna maksud dari perkataannya.
Kubalas iya dengan senyumanku, lalu kusentuh pipi lembutnya dan berkata,” Iya, sayang. Sekarang kamu juga ambil wudhu, ya. Kita salat berjamaah. Setelah itu, baru kita menunaikan kewajiban layaknya suami dan istri”. Aysah hanya mengangguk, lalu tersenyum, senyum paling manis yang baru pertama aku lihat sebelumnya. (Usep Ruyani)

  • 26
    Shares
Baca Juga  Jangan Gusar Saudaraku, karena Aku akan Membunuhnya Dua Kali

Tinggalkan Balasan