NasionalOpini

Apa Artinya Menjadi Indonesia Bagi Penghianat?

Pembangunan yang terus digembor-gemborkan dan digalakkan oleh pemerintah, telah membentuk sebuah wacana baru, bahwa peradaban Indonesia kini menuju arah modernisasi wilayah yang dahulunya sangat terbelakang. Pesatnya kemajuan diberbagai sektor negeri ini, telah mengubah wajah sebuah negara menjadi peradaban berkembang yang saat ini selalu diperhitungkan oleh bangsa-bangsa luar. Namun nyatanya, hingar bingarnya sebuah kemajuan, tidaklah berbanding lurus dengan realitasnya. Pesatnya pembangunan masihlah belum dirasakan oleh sebagian besar masyarakat kita, tentu salah satu sebabnya terletak pada pembangunan yang hanya bersentral di ibu kota serta wilayah-wilayah yang dekat dengan kota besar sebagai pusat ekonomi negara saja. Kemiskinan tetaplah menjadi permasalahan utama sejak dulu, tentu dengan bentuk dan wujud yang berbeda.
Bila dahulu dimasa penjajah, musuh utama negeri ini ialah penghianat bangsa dikalangan pribumi, yang rela menjual perjuangan bangsanya sendiri demi sepotong roti dan keju dengan alasan sulitnya mencari penghidupan. Lalu di era orde baru, para rezim membodohi masyarakat demi mengeruk sumber daya bumi pertiwi hanya untuk memperkaya diri. Namun, tindakan tersebut hanya bersentral di kalangan rezim penguasa.
Di hari ini semua terlibat, baik dikalangan pemegang kebijakan maupun di masyrakat itu sendiri. Prilaku-prilaku tokoh yang pernah membelot terdahulu, telah sukses memberikan pengajaran dalam bentuk prilaku negatif terhadap masyarakat. Maka tak ayal, di hari ini kita akan sulit menemukan masyarakat yang benar-benar rela mengabdi terhadap bangsa dan negaranya tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Kita akan sulit mencari kelompok masyarakat yang melakukan sebuah kegiatan demi kepentingan negaranya lantaran merasa nuraninya terpanggil, dan merasa bertanggungjawab sebagai warga negara untuk memajukan bangsanya.
Di hari ini para oknum penyuap, pelaku nepotisme, penghianat bangsa, dan koruptor dikalangan elit politik dan sebagian masyarakat, lebih cocok sebagai transformasi penghianat bangsa di masalalu. Bahkan, kejahatan yang dilakukan dikalangan intelektual, lebih parah daripada penghianat pribumi saat itu. Karena pribumi yang membelot di masa lampau, tentu diiringi alasan yang logis meski tidak bisa kita maafkan begitu saja. Kelaparan di masa lalu, ancaman, penyiksaan serta derita lainnya bila ia menolak sebagai kaki tangan asing, memaksa pribumi melakukan sebuah tindakan hina dan tidak bermartabat. Namun penghianat di hari ini, merekalah yang menyerahkan dirinya pada kondisi seperti itu, bimbingan nafsu dan keserakahan terhadap urusan dunia, menjadikan mereka lupa akan tugas yang rakyat bebankan pada mereka. Bila hal ini terus menerus dibiarkan, akan berdampak lahirnya ketidak puasan masyrakat, membudayanya KKN di Indonesia, munculah kelompok-kelompok masyarakat di daerah yang menuntut pemisahan diri dengan NKRI, sirnanya kepercayaan terhadap pemerintah, serta pandangan negatif terus menerus menjadi alamat yang cocok untuk para pemegang kekuasaan.
Semua ini akan sulit diatasi sekali pun akan bermunculan kelompok-kelompok aktivis yang mengatasnamakan pembelaan terhadap rakyat. Karena bila kita lihat secara gerakan, masih banyak organisasi yang menggunakan pola aktivis di era Soeharto, Karena mereka lebih cenderung menekan, menuntut pemerintah, dan memaksa turun dari jabatannya. Namun mengabaikan akar permasalahan yang sebenarnya, yang bermuara pada pendidikan akhlak dan moral. Memang masih banyak pemerintah yang sadar, serta para intelektual yang benar-benar berusaha keras menghabisi para pembelot yang dilakukan oleh oknum pejabat, tetapi sayangnya mengabaikan pendidikan generasi bangsa yang kelak akan mengganti kepemimpinannya. Mungkin saja gerakan cendikiawan dan para intelektual mampu menumpas prilaku yang membelot dikalangan elit politik dengan berbagai aksi dan strateginya, namun, apakah hal demikian akan berdampak dimasa depan. Saya rasa tidak, selagi pendidikan hanya dibebankan terhadap pemerintah tanpa adanya kontribusi nyata dari masyarakat, aktivis, para cendikiwan dan intelektual muda kita. Generasi bobrok akan tumbuh dan menjamur, bahkan angkanya akan semakin banyak seiring berkembangnya penduduk di negeri ini. Selagi permasalahan dititik beratkan hanya kepada pihak yang berwenang, dan menekan bila ada hal yang dianggap sebagai kesalahan, lalu membiarkan pemerintah bekerja sendiri tanpa adanya dukungan, bantuan serta kontribusi nyata dari kalangan-kalangan yang menamakan sebagai kelompok idealis dan peduli, tidaklah akan mengubah apa pun selain saling tuding dan menyalahkan.

Persoalannya, apakah pembangunan demi sejahteranya rakyat yang pernah diamanatkan konstitusi hanya tugas pemerintah saja?

Apakah kita hanya sebagai agent of social control yang sebatas mengawasi kinerja pejabat, atau lebih dari itu, kita bukan hanya sebagai pengontrol tetapi sebagai pelaku agent of change, sebuah gerakan perubahan yang menyentuh sampai hal yang mendasar sekalipun. Dan semua ini tentu tidak akan terwujud bila kita tidak mempersiapkan calon pemimpin untuk menjadi iron stock, pemimpin cadangan untuk masa depan yang berakhlak, cerdas dan bermoral tinggi. Maka dari itu, hal yang paling utama dalam merubah sebuah kebiasaan buruk, bukanlah menekan kebiasaan itu sendiri, melainkan akar yang menjadi sebab kebiasaan itu terbentuk yang perlu diperhatikan. Karena kita sadari, pemimpin dan masyarakat yang membelot dihari ini, adalah hasil didikan para pendahulunya. Maka dari itu, mari kita bergerak mulai dari suatu hal yang mendasar, ikutlah berpartisipasi dalam mencerdaskan, membentuk akhlak dan moral generasi kita.

Agar kita bisa menyetujui dan menyepakati bersama, bahwa kita adalah bangsa yang besar.

Usep Ruyani – MediaDesa.id

loading...
Baca Juga  Warga Gampong lhok Pawoh Santuni Anak Yatim
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close