©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Jumat, April 26, 2019
Opini

Apakah Dengan Mengharamkan Game Akan Mengurangi Terorisme?

Game Player Unknown’s Battlegrounds atau yang akrab dipanggil PUBG kini menjadi sorotan. Menurut pendapat beberapa pemerhati, game ini dianggap menjadi pemicu aksi penembakan di masjid di Christchurch, Selandia baru. Alhasil Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun sedang mengkaji game ini untuk memberikan fatwa, apakah benar akan diharamkan.

Rencana MUI itu pun menuai berbagai kritis dan protes keras dari para gamers. Mereka para gamers menolak jika adegan dalam game PUBG ini dianggap sebagai pemicu aksi terorisme. Karena cukup banyak game yang lebih anarkis ketimbang battle royale besutan Tencent tersebut.

Jika MUI hanya akan memberikan fatwa ke game tersebut, sebenarnya ada game yang lebih sadis dari PUBG, misalnya saja call off duty. Dalam misinya game ini harus membantai semua orang rusia. Dengan nama misi “no russian”.

Game tembak menembak berjenis first person shooter (FPS) dirilis pada tahun 2003. Salah satu misi yang paling sadis hingga menimbulkan kontroversi adalah ‘No Russian’ tersebut.

Di misi tersebut, pemain diwajibkan membantai semua warga sipil dengan senjata di sebuah bandara. Pemain akan melihat dengan detil bagaimana warga sipil berjatuhan bersimbah darah karena tembakan yang diberondongkan oleh pemain.

Apakah dengan memfatwakan haram game akan mengurangi dampak terorisme? Jika tidak, maka PR pemerintah semakin banyak. Pemerintah dituntut tidak hanya memberikan fatwa saja. Tapi ada yang lebih penting, yaitu membina akhlak, terutama anak yang masih di bawah umur.

(Mesa)

  • 37
    Shares
Baca Juga  Konsep Desa dan Pembangunan

Tinggalkan Balasan