DesaPeristiwa

Aset Desa Sundakerta Terancam Hilang

TASIKMALAYA – Aset Milik Desa Sundakerta Kecamatan Sukahening berupa tanah hak ulayat yaitu Blok Cipanas Kahuripan atau juga dikenal Cipatuh terancam hilang.

Telah sejak lama Cipatuh merupakan wilayah yang disakralkan oleh masyarakat Desa Sundakerta. Hal ini dikarnakan air ditempat tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan tempat bermunajat (berdoa) orang-orang yang sedang mempelajari ilmu Kanuragan.

“Dari dulu hingga kini masyarakat disini tidak ada yang berani nebang sembarangan tumbuhan disana karena takut kabade” tukas Anton Kepala Desa Sundakerta 23/08/2020.

Telah sejak lama cipanas Cipatuh dikelola oleh Karangtaruna Desa Sundakerta, dan dari pengelolaan tersebut Karangtaruna dapat menyisikan sebagian penghasilan untuk Kas Desa.

“Pada saat saya menjabat sebagai ketua Karangtaruna Sundakerta, untuk kas desa suka dapat setiap tahunnya sekitar Rp. 1.500.000,-“, tutur anton.

Saat ditanya kondisi saat ini tentang cipanas Cipatuh, anton menjelaskan bahwasanya saat ini cipanas Cipatuh sudah dikelola oleh Pihak Ketiga yaitu CV. Kurnia Makmur Abadi.

Hal ini berdasarkan Perjanjian Kerjasama antara Perum Perhutani KPH Tasikmalaya, CV. Kurnia Makmur Abadi dan LMDH Mekar Mulya Desa Sundakerta pada tanggal 31 Agustus 2017.

Pada awalnya masyarakat Sundakerta menolak kerjasama tersebut, karena Perhutani menjanjikan kerjasama tersebut akan meningkatkan Pendapatan Desa, sehingga tawaran kerjasama diterima oleh Desa Sundakerta.

Pada kenyataanya jauh dari harapan pemerintah Desa hanya dapat Rp. 1.600.000, untuk dua tahun, jadi sekitar Rp. 800.000,- dalam satu tahun.

” ini jelas sangat memprihatinkan sekali sehingga kami tidak mau memperpanjang perjanjian kerjasama tersebut”, terang Anton.

Menurutnya, walaupun perjanjian kerjasama tersebut sudah berakhir genap satu tahun, pengelola saat ini masih tetap menguasai wisata Cipatuh.

Anton menjelaskan bahwa pengelola dalam hal ini CV. Kurnia Makmur Mandiri telah banyak mengingkari isi perjanjian, selain itu pihak pengelola sudah tidak lagi memperhatikan kearifan lokal, seperti penebangan kayu dan pemusnahan beberapa tanaman yang menurut keyakinan masyarakat setempat tabu.

Baca Juga :  Warga Desa Sembalun Kembangkan Camilan Gurih dari Buncis

Dedi salah satu tokoh masyarakat Sukahening menjelaskan bahwa pada saat Cipatuh masih dikelola oleh Karangtaruna Sundakerta tidak pernah ada tanaman yang serampangan ditebang bahkan jalan-jalan tanah dibuat natural dengan kondisi yang sangat terawat.

“Sekarang Cipanah Cipatuh sudah tidak asri lagi tidak seperti dulu jalan-jalan tanah selalu disapu”, tutur dedi.

Pihak pemerintah desa mengharapkan permasalahan tersebut diselesaikan oleh pihak Perhutani, karena masyarakat Desa Sundakerta sejak awal hanya mengetahui pihak Perhutanilah yang bertanggung jawab sebagaimana sosialisasi yang disampaikan sebelum perjanjian kerjasama dibuat.

Sekira bulan Maret 2020 Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya mengundang Kepala Desa Lembaga dan Tokoh Masyarakat Sundakerta guna untuk melakukan sosialisasi pengembangan wisata geopark dengan kucuran dana dari Dinas Provinsi Barat sebesar 4 Miliyar.

Alih-alih acara tersebut dapat menyelesaikan kemelut perjanjia kerjasama pengelolaan wisata Cipatuh, justru selepas itu masyarakat malah dituduh melakukan pengrusakan sejumlah property milik pengelola.

Eka selaku ketua LMDH menyampaikan keluhannya saat diwawancara oleh Mediadesa.

“Kami malah direpotkan harus bolak-balik polisi diminta keterangan siapa yang melakukan pengrusakan, sama sekali kami tidak tau saat itu ada pengrusakan dan mau berapa kali kami dipanggil polisi tetap saja kami tidak tau”. keluh Eka.

(Mesa)

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: