Opini

Bawaslu Harus Jeli, Bela Tauhid Atau Bela Prabowo-Sandi?

Oleh : Ade Kurnia, SH
(Mantan Komisioner KPU Kota Tasikmalaya)

Insiden pembakaran bendera HTI yang dilakukan tiga anggota Banser pada Perayaan Hari Santri Nasional di Balubur Limbangan Garut berujung pada pengecaman oleh beberapa ormas Islam.

Isu itu kemudian diolah sedemikian rupa sehingga bukan lagi bendera HTI yang muncul ke permukaan akan tetapi bendera tauhid. Tentu saja untuk menarik simpati masyarakat awam berfanatisme tinggi agar turut serta mengkambinghitamkan Banser.

Seperti pepatah, tidak ada yang kebetulan didunia ini, semua didesain. Termasuk aksi yang dilakukan oleh mereka. Aksi bela tauhid tidak murni lagi sebagai sebagai sebuah aksi untuk mengembalikan marwah kalimat tauhid, tetapi digeser pada isu Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Aroma kampanye Pilpres sangat kuat. Tidak hanya menunjukan Tagline 2019 Ganti Presiden, akan tetapi diperkuat lagi dengan orasi-orasi yang mengarahkan kepada pemenengan Prabowo-Sandi seperti aksi pertama di Garut.

Begitu juga di Kota Tasikmalaya, selalu menunjukan simbol-simbol yang mengarah pada Prabowo-Sandi.

Jika dikaitkan dengan tahapan kampanye Pemilu 2019, PKPU 23 Tahun 2018 yang kemudian diubah terakhir menjadi PKPU 33 Tahun 2018 diatur kegiatan kampanye dalam bentuk rapat umum hanya boleh dilakukan pada 21 hari terakhir sebelum masa tenang, itupun jadwalnya diatur oleh KPU. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dijatuhkannya sanksi pidana bagi si pelakunya.

Pelaksanaan aksi bela tauhid yang dimaknai menjadi kampanye rapat umum ini harus menjadi perhatian Bawaslu Kabupaten Kota, dan Bawaslu RI, karena Bela Tauhid menjadi Bela Prabowo-Sandi.*

Baca Juga  PMII Dalam Naskah Peradaban Bangsa
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close