BudayaReligi

Bedug dan Ibadah (1)

MediaDesa.id – Memperhatikan perkembangan masjid hari ini, rasa-rasanya ada yang kurang atau ada yang menjadi kurang lebih tepatnya. Seingat penulis, dulu masjid apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang ini ramai sekali dengan anak-anak yang meskipun sekedar main di masjid tetapi masjid nampak menjadi sangat hidup.
Ya, kalau pembaca pikiran yang sama clue-nya, tentu pasti mendapati kesan yang sama. Benar, karena di masjid tersebut ada bedugnya.
Dari pagi sampai sore atau mungkin pagi sepulang kuliah subuh atau sore menjelang magrib atau bahkan malam sepulang tarawih bedug selalu ditabuh dan itu sangat ramai sekali.
Belakangan ini menjadi sangat jarang didapati di banyak masjid entah karena apa sebabnya. Apakah mungkin karena pesatnya perkembangan teknologi sehingga posisi bedug menjadi tidak dibutuhkan lagi? Atau bedug lebih terkesan sebagai simbol tradisional? atau Adakah hal-hal yang lainnya yang menyebabkan hilangnya bedug ini? Banyak alasan yang rasional sehingga bedug kini agak kedinginan jarang disentuh lagi.

Bedug dan Peranannya
Kali ini penulis ingin lebih meninjau peran bedug dari sisi menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk lebih mencintai masjid paling tidak lebih merasa betah untuk tidak segera beranjak pulang. Sejauh yang dirasakan, sejak pertama kali kenal dengan yang namanya bedug di masjid hidup ini memiliki daya tarik tersendiri. Ya, apa lagi kalau bukan perasaan senang gembira walau hanya sekedar melihat teman yang memainkan tetapi di sana ada perasaan gembira yang tiada tara.
Sekilas mungkin tidak ada hubungannya dengan masjid. tetapi coba kita bayangkan semakin lama seorang anak bergaul di sebuah lingkungan yang baik dalam hal ini Masjid tempat bedug Itu disimpan, maka bayangkan jika dalam jangka waktu 40 hari saja anak terus-terusan berada di lingkungan masjid setiap paginya misalkan, maka tidakkah itu akan terekam kuat di memori anak? dan bukankah itu sebuah pendidikan yang tidak disadari tentang menanamkan perasaan dekat sang anak kepada masjid?
Sayang sekali, meskipun ini bukanlah kajian teoritis, hanya sekedar memori penulis tentang masjid yang mengakar kuat sampai di usia penulis yang tidak muda lagi ini. Penulis beranggapan bahwa pembaca semua pasti merasakan hal yang demikian. (Iman Nurjaman)

Baca Juga  30 Ulama Jabar Ikut Program English for Ulama
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close