Sastra

Bencana Keadilan

“Tak sudikah kau mendengar nasihat ayah? Sudah berulang kali ayah katakan, janganlah kau mencari keadilan dengan cara bersikap tidak adil pada dirimu dan keluargamu, seperti apa yang ayah pernah lakukan dulu kepadamu dan ibumu, nak?”.

***
Yah, Ilham merasa perlu akan pertemuannya dengan Ayah kandungnya. Tentu bukan sebagai anak yang biasa datang berkunjung menemui ayahnya. Melainkan seorang advokat yang ingin berjumpa dengan cliennya.
“Jujur, aku datang kesini tidak sebagai putramu, Pak” Tutur Ilham dengan tegas, “Aku kemari sebagai seorang advokat yang ikut serta merasakan sakit atas penderitaan negeri ini”.
Mantan advokat yang sudah tua itu tertegun, melihat sikap putranya yang telah menginjak dewasa. Dengan tongkatnya, ia bersusah payah berjalan menghampiri putranya dengan sambil mengajak duduk. Gagah di masa muda nyatanya masih Nampak, walau usia senja sorot matanya tidak sayu melemah. Ia Nampak berusaha bersikap tegas, walau tubuh yang telah termakan usia itu tidak bisa kembali segagah dulu.
“Apa yang sedang kau perjuangkan hingga kau datang seformal ini, Nak?”
Ilham pun terpekur, sejenak keduanya terbalut hening tanpa kata. “Apa bapak berbicara padaku?”
“Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri ini.” Sejurus kemudian senyum Ilham mengembang. Ada senyap yang masuk dalam rongga dada, bagaimana pun ucapan ayahnya adalah sebuah bentuk kebanggannya.
“Baik, Pak. Kau orang bijak, tak butuh waktu lama nyatanya kau memahami maksudku.”
“Ya tentu, bagaimana pun Aku dulu juga pernah segagahmu. Aku masih sanggup, bila ada pertentangan di antara kita, maka akan aku pisahkan antara urusan keluarga dan perjuanganku, tentu kau pun sebagai aktivis memahami maksudku pula. Saya harap, kau bukanlah kaum munafik yang selalu berbicara keadilan, namun dibalik sisi hidupmu justru kau-lah bagian dari yang merobek rasa keadilan itu sendiri. Jangan sampai se-masa pendidikanmu saat kau menuhankan keadilan, tetapi saat kau menempati posisi yang mana orang banyak bergantung pada sikap adilmu, kau malah menginjak dan meludahi keadilan itu sendiri. Kita hidup di dunia yang serba realistis, dimana idealisme bisa kau pandang dalam berbagai sudut. Baik menurut jiwa kemanusiaanmu, atau juga karena kepentinganmu sendiri. Kamu tau sejarah ayahmu ini nak, sejak kecil kau faham betul kesibukanku sebagai seorang advokat yang berbeda dengan advokat lainnya. Sejak kecil kau aku bawa kesana kemari walau nyawamu selalu terancam, lantaran orang yang membenci usaha kita dalam memburu perusak keadilan merasa terusik. Namun kita tidak pernah lelah, dengan memandangmu dan mendiang ibumu itu menjadi semangat yang terus terbarukan dalam jiwaku. Yah jiwaku yang lapar sebagai advokat, untuk memburu bangsat-bangsat di negeri ini yang bersarang di lembaga tinggi Negara dan gedung-gedung bertingkat sebagai symbol kemegahan. Bagaimana pun, nak. Kau banyak belajar dari kepedihanku, jika aku mungkin kelak telah tiada, engkau-lah jejak yang pernah aku tinggalkan saat orang lain telah melupakan usahaku”.
Ilham terenyuh, matanya menganak sungai. Hatinya ingin memeluknya, seperti saat ia kecil yang setiap hari berada di peluk ayahnya, Ilham mencoba menatap sekali lagi pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa kegagahannya masih terasa di raba.
“Aku kemari tidak datang untuk melawan atau memujimu. Kamu dengan seluruh kisah heroikmu memang terlalu besar untuk saya bicarakan. Tetapi bagai mana pun kau manusia biasa, yang barang tentu tidak lepas untuk saya kritik. Aku punya banyak hal yang harus aku luruskan tentang sikapmu dahulu. Dan jujur aku bukan siapa-siapa untuk melawanmu bahkan untuk memuji sekali pun aku merasa tidaklah layak untuk itu. Kamu sudah tidak lagi memerlukan cercaan atau pujian dari siapa pun. Karena sejak dahulu, kau memang tidak memperdulikan akan hal itu. Kau tetap berjalan, walau hujan cacian dan pujian mengiringi langkah perjuanganmu. Kau habiskan hidupmu untuk mencari keadilan sampai kau tidak bisa bersikap adil untuk dirimu dan keluargamu sendiri, kau-lah teladan sejati yang sejak lahir saya idolakan, dan bila boleh saya mengakatmu, maka kau juga yang pantas menjadi symbol keadilan itu sendiri.”
Ayah ilham menangis, namun tak nampak suara, hanya getaran bahu yang mengguncang dengan wajah ia tutupi oleh kedua tangannya.
“Nak, saya suka kau menyebut dirimu dengan kata aku dan memanggilku dengan kata kau. Itu artinya kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai seorang profesional.”
“Semua tidak terlepas dari didikanmu yang tidak pernah memberikan kesempatanku untuk bernafas!”
Advokat tua itu tersenyum.
“Kau sedang memujiku atau mengkritikku?!” Sahut ayah Ilham sambil membasuh air matanya dengan handuk kecil.
Ilham langsung sadar atas ucpannya yang tidak terkendalikan lantaran gejolak kagum dan emosi yang tercampur aduk di dalam batinnya.
“Tidak perlu kau canggung, kau tak boleh lemah, lakukan apa yang kau yakini. Lanjutkan anak muda!.
Sambil menepuk pundak anaknya. “Aku tau karaktermu, dan aku selalu menikmati gayamu dalam bersikap. Jangan kau persempit kemampuanmu oleh rasa canggungmu, bukankah kau datang kemari bukan sebagai anakku, melainkan sebagai advokat yang meminta sebuah penjelasan. Jangan kau bunuh karaktermu oleh pemikiran dan dokrin kaku bahwa penghormatan harus ada dalam setiap keadaan, biarlah berjalan adanya, ikuti hatimu dan emosimu, biarlah ia mengalir seperti air mata yang sempat tertahan karena merasa jiwa tak pantas untuk menangis, luapkan kepedihanmu, dan jadilah petarung yang tau kelemahan lawan dan dirimu sendiri!”.
Ilham pun tertegun, mengilhami ceceran kata-kata bijak ayahnya yang sering ia dengarkan sejak kecil, ia menghela nafas dalam, dan melanjutkan pembicaraanya dengan keadaan lebih tenang.
“Aku rindu suaramu, aku ingin berdiskusi denganmu, dan tentu aku ingin mengalahkanmu!”.
“lakukanlah, katakanlah apa yang ingin kau diskusikan, Nak. Tentu aku akan dengan khidmat mendengarkannya”.
Ilham kembali menghela nafas, dengan berusaha tegak ia kembali menuturkan, “ Kau tau, atas didikanmu, kini aku telah menjadi pengacara besar di negeri ini, mulai dari karirku sebagai seorang advokat kecil yang hanya mengurusi persoalan masyarakat bawah secara cuma-cuma. Hingga sampai posisiku melesat lantaran upayaku ysng berhasil menjadi ketua salah satu ketua organisa Advokat. Atas prestasiku, kini akau di bebankan sebuah tugas yang besar oleh Negara. Dimana aku harus membela koruptor kelas kakap yang merugikan Negara ini hingga puluhan triliyun itu. Atas sikap pemerintah, yang memintaku untuk membelanya, tentu ini mendapat sambutan pihak keluarga lantaran merasa adil karena memberikan advokat yang dipandang berkelas seperti saya untuk membela salahsatu keluarganya. Aku hingga hari ini berusaha untuk menolaknya dengan berbagai cara, karena aku yakin, Negara tidak sedang benar-benar menegakkan sebuah keadilan. Negara hanya ingin memperbaiki citranya dengan mempertontonkan sebuah drama kepada masyrakat, bahwa hukum di negeri ini telah membaik. Penjahat sebesar apa pun skalanya, harus tunduk dan sama di hadapan hukum. Namun buat saya Negara tidak benar-benar dalam usahanya, itu hanyalah skemanya dalam mengubur kebobrokannya yang gagal dalam menciptkan sebuah keadilan di negeri ini. Aku benci dengan cara kotor seperti ini, menipu masyarakat yang seoalah-olah negeri ini telah membaik tapi nyatanya malah kian hari semakin sakit. Negara terus saja mendesakku, sebab saya adalah satu-satunya pengacara di negeri ini yang gigih dalam memperjuangkan keadilan dan hak seseorang tanpa pandang bulu dan latarbelakangnya. Pemimpin negeri ini berusaha mempecundangiku dengan sandiwara ini, bila Negara dapat mengalahkanku, dan memberikan hukuman penjahat tersebut ke titik ponis terberat, mereka akan menang lantaran hukum di negeri ini seolah kokoh lantaran penjahat besar dengan dukungan pengacara berkelas pun tak dapat menggerus keadilan. Negara sedang menjerumusakan para pejuang keadilan, dan itu yang hari ini aku tentang”.

Baca Juga  Terusir

“Keadilan harus diteggakan dengan cara benar, seperti kau dahulu walau harus terkucilkan.” Lanjutnya.
Ilham kembali hening, seolah ia memberikan kesempatan ayahnya untuk memberi tanggapan atas ceritanya.
“Kedatanganku kemari bukan meminta pendapatmu atas kepetusanku untuk menentangnya, aku kesini atas kegusaran hatiku setelah bajingan tengik itu datang kerumahku dengan mengiba agar bisa membelanya”
“Pasti kau menerimanya, walau hatimu tidak menghendaki, kan?” timpal Ayah Ilham dengan tiba-tiba.
Ilham merasa terkejut, lantaran ia tahu keputusan yang ia ambil, padahal ia belum menceritakannya dan belum pula mempubilkasikannya kepada media masa.
“Kau tahu?”
Ayah Ilham menatap atap rumah dengan tatapan penuh makna, setelah itu ia meminum teh hangat yang sejak tadi berada di mejanya, dan berucap: “Karena aku tau dirimu, Nak!”.
Ilham kembali menunduk dalam dengan kepala mengangguk tanda mengerti.
“Barang tentu aku menerimanya, sebab aku di didik sebagai seorang propesional. Aku di sumpah sebagai seorang pengacara untuk tidak menolak siapa pun yang meminta bantuan kepadaku selagi itu menyangkut tentang keadilan. Bagaimana pun aku harus melaksanakan kewajibanku sebagai sorang advokat, seorang yang akan membelanya sampai titik darah penghabisan. Itulah tekadku. sebagai seorang advokat yang selalu menerima siapa pun yang membutuhkan keahlianku untuk tegakknya keadilan di negeri ini.
Ayah Ilham mengangguk, tanda ia pun faham maksud anaknya.
“Hanya itu yang menjadi ganjalanmu, Nak? Jika demikian, kau sudah tau apa yang harus kau lakukan.”
Ilham kembali dalam heningnya, berupaya memahami maksud perkataan ayahnya.
“Apa keptusanku sudah berada pada jalur yang benar?”
Mendengar perkataan Ilham, ia memberikan secunging senyum penuh kiasan yang harus kembali Ilham fahami makusdnya.

“Kau tak perlu berbicara kebenaran dulu, tapi yang perlu kau lakukan sebagai seorang advokat adalah sikap propesionalisme-mu. Kau abaikan permintaan Negara, atas dasar keyakinananmu sendiri dalam memaknai sebuah kebenaran, dan juga bentuk usahamu dalam mengajarkan bangsa pada sebuah kejujuran. Kau faham, Negara memintamu untuk membelanya bukan lantaran permintaan tulusnya, sebab disana serat akan kepentingan politik mereka, maka nuranimu lebih memilih mendengar permintaan sorang penjahat daripada harus mendengar permintaan negaramu sendiri, walau sekali pun penjahat itu memang pantas untuk di hukum dengan seberat-beratnya. Sebagai seorang advokat, kau harus membelanya dari praktik-praktik kotor proses pradilan oleh oknum yang tidakbertanggungjawab. Selagi kau berbuat benar, perjuangkanlah walau moncong pistol berada di kepalamu! Namun bersihkanlah hatimu, jangan sampai kau nodai hanya karena materi semata”.
“Tidak terbentik dalam hatiku sedikit pun, apa yang aku lakukan karena uang!”
“Lantas untuk apa?”
Ilham dengan tegas berkata pada ayahnya,”Karena aku seorang advokat.”
“Agar penjahat itu bisa terbebas dari ponis karena menang di pengadilan?”
“Keadilan tidak bisa dimenangkan, kita hanya berusaha mencari setetes kebenaran di tengah luasnya kebohongan. Tidak ada keadilan sejati, selain kebijak Tuhan. Satu-satunya cara dalam memaknai sebuah keadilan dan kebenaran, ialah dengan berlaku adil dan benar saat proses mencari keadilan itu sendiri. Kalah memang bukanlah persoalan buatku, tetapi proses memperjuangkannya-lah yang perlu mendapatkan keadilan”.
Ayah Ilham kembali termenung, memikirkan ucapan anaknya yang kian hari semakin bijak dalam menghilhami kehidupan dan profesinya ini.
“Apa cara berfikirku salah?”
“Tidak, Nak!”.
“Benar apa katamu, kalah dan memang bukanlah kewajiban seorang pengacara terhadap cliennya, melainkan proses mencari keadilanlah yang patut kau perjuangkan dank au menangkan.”
“Tapi aku tidak bisa meremahkan lawanku, jaksa dan pengacara Negara yang akan melawanku nanti.”
“Yakinlah, kau akan bisa melawannya.”
“Ini belum dimulai, bagaimana bisa kau berfikiran demikian?” Sahut Ilham dengan penuh rasa bingung di benaknya.
“Kau tahu, nak. Hidupku di habiskan menjadi seorang advokat. Aku sudah biasa membaca hasil akhir putusan walau pun sidang pertama pun belum di mulai. Bukan karena lantaran seberapa rumit kasusnya dan banyak celah untuk kau perjuangkan di muka persidangan, tetapi ada hal lain selain itu”
“Apa itu? “ Ilham semakin bigung dengan tutur ayahnya yang sulit ia cerna.
Sambil kembali menegakkan tubuhnya yang telah membungkuk, Ayah Ilham berkata,” Kamu terlalu terlalu hebat untuk dikalahkan, dalam riwayat karirmu, kekalahan istilah asing bagimu”.
Ilham tersenyum, “Kau terlalu berlebihan padaku, bagaimana pun aku tetaplah manusia biasa. Maaf, kau sedang memberikan pujian atau sedang mengingatkanku?”
“Tentu aku memuji atas prestasimu, bukan omongan kosong belaka.”
“Kau harus jujur, sebab usiamu telah ujur. Kau mau mati dalam keadaan berbohong?”, Guyon Ilham kepada ayahnya.
“Bukankah seorang advokat selalu melakukan kebohongan demi membela cliennya? Kebohongan yang berdasar itu masih bisa dibenarkan selagi demi kebenaran yang lebih besar.”
“Benarkah demikian?”
“Ya!”
Ilham tersenyum dan manggut tanda setuju.
“Tapi benar, kau membela bukan lantaran ada hal lain selain dari nilai keyakinanmu sendiri?
“Ya, yang saya lakukan atas kyakinanku?!”
“Mereka tidak memberikan iming-iming padamu?”
“Iming-iming seperti apa maksudnya?” Ilham mulai kembali pada bingungnya.
“Jumlah uang besar yang clien tawarkan padamu bila sampai kau menang, ingat pada akhirnya itu akan mengancam prinsifmu?”
“Aku dibayar dengan harga yang pantas, tetapi tidak pantastic.”
“Kenapa?”
“Karena aku membelanya, bukan mengincar uangnya”
“Jika begitu, profesionalmu mana, kau harus jelasdalam menentukan harga jasamu.
Ilham pun tersenyum lebarm
“Aku tidak terbiasa menikmati uang dari hasil kesulitan orang lain, mereka meminta bantuan, dan aku membantunya.!”
“Apa yang harus kamu lakukan saat kau memengkannya?” Tanya ayah Ilham. Ilham kembali hening, ada gurat kebingungan dalam jatinya.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku harap dengan memangkannya, banyak pelajaran yang bisa di ambil untuk bangsa dan negeri ini”
“Jadi kau akan berjuang agar ia terbebas?”
Ilham kembali ke raut wajah tegangnya.
“Ya, aku akan berusaha agar koruptor itu terbebas, begitulah caraku untuk mengingatkan pemerintah agar tidak bermain-main dengan keadilan. Biar aku yang di caci dan dibenci lantaran meloloskan penjahat negeri ini, jika aku sampai berhasil, harapanku mereka akan sadar bahwa hukum bukanlah permianan mereka walau pun mereka mampu untuk itu. Hingga, asumsi masyrakat akan kembali seperti semula, bahwa keadilan di negeri ini belumlah benar-benar sembuh. Dan upaya elit negeri ini untuk mencuci tangan atas kebobrokannya tidak akan pernah tercapai.
Ayah Ilham sangat mengerti akan keputusan anaknya, namun ia sedikit tecenggang, karena ia akan mengorbankan dirinya sendiri untuk membuka sebuah kebenaran.
“Kau akan mengikuti jejakku, Nak?”
“Ya, aku ingin sepertimu, yang mengabadikan diri pada sebuah kebenaran.”
“Kau tidak ingin namamu terkenal, tidak ingin mendapat pujian dan penghargaan dari organisasi-organisasi pencari keadilan ?”
“Ya.”
“Jika demikian, lakukan dan perjuangkan, jangann ragu dan terus maju”.
Langkahmu sudah benar, seroamg advokat tidak terlepas dari upaya orang lain untuk menjatuhkanmu. Teruslah berjalan, ikuti panggilan hatimu, dan tetaplah teguh walau sukar menjadi rintangan usahamu. Propesional-lah dalam setiap situasi dan keadaan, bagaiaman pun pahit situasinya.
Ilham dengen terpekur mendengar tutur ayahnya, ya ucapannya memiliki arti yang dalam dan bertuah bagi jiwa perjuangannya.
“Semuanya sudah jelas, dan tak perlu lagi ada pertanyaan, biarkan aku menemui anakku, aku merindukannya”
Ilham kembali menangis, dan ingin rasanya memluk ayahnya yang mulai terbata-bata bicara.
“Lekas pergilah, pergilah… perjuangkan apa yang memang patut kau perjuangkan”
“Tapi…”
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
****
“Alat bukti yang di kumpulan Negara hanya berkas yang tidak lengkap dan banyak celah untuk Ilham sanggah. Nyatanya mereka teralu bernafsu untuk melakukan sebuah pencitraan.
Jelas aku akan menang, dan maling negeri ini akan saya bebaskan sehingga ia bisa terbebas daan menghirup udara luar seperti burung. Aku akan hantam negeri ini dengan cambuk pembelajaran, semoga lekas tersadar dan kembali membangun tatanan negeri ini dengan lebih baik lagi.
Biarkan sementara bajingan terkutuk di negeri ini yang oleh seluruh rakyar di benci untuk merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya. Biarkan ia bersuka cita, tertawa semalam suntuk, toh sebab tidak ada jalan lain selain cara seperti ini, benar kata ayah, kebohongan kecil demi kebenaran yang besar itu sangat diperlukan. Semoga bangsa ini lekas bangun dari tidurnya”.
Yah semuanya menjadi nyata, bangsat itu terbang dan terbebas oleh ponis akhir tidak bersalah. Namun disi-sisi lain, negeri ini menghadapi sebuah kekacauan yang sangat luar biasa, dimana demo besar terjadi. Dan tidak lama, Ilham di temukan tidak bernyawa di sebuah hotel dengan dada berlubang bekas tembakan beberapa selongsong peluru
Sementara ayah Ilham terteggun, mengamati perkembangan kekacauan Negara ini. Yah dia tak henti menangis, saat melihat kabar anaknya di salah satu stasiun televisi telah menjadi mayat sebagai korban pembunuhan.
“Kau datang dengan gaya seorang pengacara yang selalu bersikap formal, anakku,” Tangisnya sambil memeluk fotonya dengan Ilham, saat Ilham berusia 6 tahun “Setiap kau datang, aku selalu berharap kau datang bukan sebagai seorang advokat, malainkan sebagai seorang putraku satu-satunya. Aku telah berusaha mengingatkanmu, bahwa kau bukan hanya seorang advokat yang dituntut propesiaonal, tetapi kau juga sebagai putra dari ayahmu ini, nak. Tak sudikah kau mendengar nasihat ayah, sudah berulang kali aku katakan, janganlah kau mencari keadilan dengan cara bersikap tidak adil pada dirimu dan keluargamu, seperti yang aku pernah lakukan dulu kepadamu dan ibumu. (Usep Ruyani)

Baca Juga  Mamah, Neni dan Air Mata Penduduk Desa
Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close