©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Jumat, April 26, 2019
Sosok

Berkhidmat Di Makam Ulama Muda

Suara tahlil itu mengalun pelan, membangkitkan suasana sakral. Angin malam pun berembus berlahan, mengiringi gerak tubuh sejumlah orang yang duduk berjejer rapi. Kepala dan tubuh mereka bergerak ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama dzikir.

Di hadapan mereka berjejer sebuah makam berkelambu hijau. Mata mereka pun terpejam, mencoba khusyuk berdzikir, mengingat Sang Penguasa Hari Akhir. Begitulah suasana setiap hari dan malam di makam Habib Husain bin Abu Bakar Alaydrus, di Kampung Luar Batang, Penjaringan.Jakarta Barat.

Habib Husain bin Abu Bakar Alaydrus wafat pada hari Kamis 17 Ramadhan 1169 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 24 Juni 1756 Masehi, ketika berusia 32 tahun. la adalah seorang muballigh penyebar agama Islam di Jakarta pada abad ke-18. Sampai kini makamnya dikeramatkan orang.

Para peziarah tidak hanya berasal dari Jakarta tapi juga dari seluruh Indonesia. Hampir setiap malam Jum’at Kliwon ratusan orang datang berziarah. Terutama pada bulan Syawwal dan Maulud, ribuan peziarah bertandang ke sana. Bulan Syawal adalah haul Habib Husain, bulan Maulud adalah kelahiran Rasulullah.

Di samping makam beliau, terdapat makam yang lebih kecil, yaitu makam Abdul Qadir, sahabat seperjuangan dan orang kepercayaan Habib Husain. Abdul Qadir adalah seorang muallaf berdarah Tionghoa.

Sebuah masjid berdiri tak jauh dari makam keramat itu, lengkap dengan gapura antik dan menara bergaya Timur Tengah. Arsitekturnya campuran antara gaya Jawa dan Timur Tengah. Tiang-tiangnya tampak kokoh. Di serambi ada empat tiang, di dalam mesjid terdapat 12 tiang utama.

Masjid yang asalnya mushalla kecil seluas 100 m2 itu dibangun oleh Habib Husain pada 1730 M. Pada 1827 M, warga di sekitarnya memperluas mushalla bersejarah itu menjadi masjid. Bahkan pada 1995 masjid itu diperluas lagi ke belakang.

Baca Juga  K.H Abdoellah bin Noeh; Ulama Sekaligus Pejuang Kemerdekaan

Seperti umumnya masjid-masjid tua, masjid itu juga memiliki sebuah sumur tempat mengambil air wudhu. Sumur dengan diameter kurang lebih satu meter ini diyakini airnya berkhasiat. Tapi kini rasanya airnya sudah asin, gara- gara terintrusi air laut. Maklum, kampung Luar Batang memang sangat dekat dengan pantai utara Jawa.

Menurut orientalis asal Belanda, Dr. Karel Steenbrink, Habib Husain adalah ulama besar yang sangat berpengaruh di Batavia tempo dulu. Seperti halnya ulamat- ulama besar Iainnya, tempat lahir Habib Husain juga kontroversial. Ada yang bilang ia lahir di Makkah, ada yang menyatakan ia lahir di Hadramaut, Yaman Selatan.

Yang jelas, ia segaris dengan Rasulullah SAW. Jika keturunan diurutkan ke atas, nasabnya sampai ke Sayyid Muhammad Mauladawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib al-Mirbath. Dari sini jalur nasabnya menyambung sampai ke Sayyidina Husain bin Fatimah, putri kesayangan Rasulullah SAW.

la berkunjung ke Jakarta pada 1746 melalui pelabuhan Sunda Kelapa yang berada dalam kekuasaan VOC Belanda. Ketika itu diperkirakan ia baru berusia 20 tahun. “Di sanalah Habib Husain bin Abubakar Alaydrus mendarat. Dan di sana pula kemudian ia membangun surau tempat beribadah dan berkhalwat,” tulis Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus alias Habib Dudung, ta’mir masjid dan ma am Luar Batang.

Jejak dakwah Habib Husain di Jakarta dilanjutkan oleh para muballigh berikutnya, seperti Habib Usman, yang juga dikenal sebagai Mufti Batavia takhir abad ke-19), Habib Abdurrachman al-misri, Habib Ali bin Abdurrachman al-Flabsyi yang dikenal sebagai Habib Kwitang, Habib Salim bin Abdullah Sumyr, Habib Salim bin Jindan, Habib Umar al-atthas, dan sebagainya. Meski wafat dalam usia muda, yaitu sekitar 32 tahun, karisma dan karamah Habib Husain sangat berpengaruh.

Baca Juga  Sosok Kepala Desa yang sukses membangun desa

Orang mengenal sosoknya sebagai pribadi yang tenang, lembut, ramah tamah, santun. Banyak kisah mengenai karamahnya. Misalnya, suatu malam ketika masih remaja, ia diperintah ibundanya memintal benang di gudang dengan penerangan lampu minyak.

Tak lupa sang ibu juga menyediakan makan malam. Tapi pagi, alangkah terkejut sang ibu ketika ia membuka pintu gudang. Dilihatnya hasil pintalan benang putranya begitu berlimpah. Padahal si kecil Husain tidur nyenyak di sudut gudang; bahkan makanan yang disediakan juga masih utuh.

Begitulah sekilas tentang sosok Habib Husain, walau pun beliau wafat di usia yang sangat muda, namun jejak kesalehan serta pengabdiannya membuat namanya tetap harum sehingga makamnya pun tidak pernah sepi dari peziarah yang ingin mencarai barokah dan karomahnya.

(Usep R)

  • 6
    Shares

Tinggalkan Balasan