NasionalOpini

Bersabarlah Indonesia, Dan Luka pun Ada Sembuhnya

Dalam perjalanan bangsa, Indonesia kerap kali dihadapkan dengan persoalan yang membuat berkali-kali negeri ini harus tersungkur, terjatuh dan sakit oleh kesekian kalinya. Meski bisa bangun dalam keterpurukan, tertatih-tatih sambil meragap mencari penopang untuk kembali berdiri. Semuanya terlewati, meski sebilas luka tetap menapaki jejaknya. Berbagai problematika yang mendera, mulai dari kesenjangan, keadilan, serta kediktatoran penguasa di masalalu yang sempat melunturkan citra demokrasi yang pernah dirajut pendiri bangsa, semuanya bisa dihadapi dengan gagah. Sebuah kewajaran pada negeri yang baru lepas dari masa keterbelakangan dan menuju proses perkembangan; bahwa tempaan menjadi bangsa yang kuat tentu sangat amatlah pahit. Kita teringat petuah orang tua kita terdahulu bahwa, “Setiap bangsa dan negara pasti ada masa jaya dan keterpurukannya”. Semua itu bisa kita terima dengan akal, misal di Italia, kita kenal dengan sejarah Kekaisaran Romawi yang sempat menguasai sebagian besar daratan Eropa, Afrika bagian utara, dan Mediterania. Di Tanah Air ada Kerajaan Majapahit yang besar dan kuat sampai sempat menjadikan Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam sebagai ranah kekuasaannya.
Dalam coretan sejarah, kita juga kenal dengan Britania Raya yang hari ini menjadi Inggris. Kerajaan tersebut terkenal sebagai pencaplok hampir sekitar satu per empat wilayah Bumi pada masa kejayaannya sekitar Abad ke-18 hingga ke Abad ke-19.
Tak hanya luas wilayahnya yang mumpuni, Kerajaan Britania Raya mampu mempertahankan wilayah kekuasannya yang luas itu hingga ratusan tahun lamanya, jauh lebih lama jika dibandingkan dengan kerajaan besar lain, seperti Romawi, Spanyol, dan Portugis. Di dunia Islam kita pun tentu tahu Kesultanan Ottoman yang saat ini menjadi Turki. Ottoman membangun wilayah kekuasaannya dari bekas teritorial Kekaisaran Bizantium juga dikenal dengan Kerajaan Romawi Timur. Kesultanan yang jadi cikal-bakal Turki modern itu, memiliki luas wilayah kekuasaan yang membentang di seluruh perimeter pesisir pantai Semenanjung Mediterania, yang meliputi, Mesir, Aljazair, Tunisia, Bosnia, Herzegovina, Serbia, Albania, Rumania, Irak, Siprus, dan Bulgaria.
Seiring waktu, kesultanan itu mengalami kemunduran sejak menjadi pihak yang kalah pada Perang Dunia I. Hingga pada 1920, muncul Mustafa Kemal Attaturk, bapak bangsa Turki modern, yang melakukan revolusi terhadap dinasti Ottoman. Serta masih banyak lagi kejayaan bangsa-bangsa di masalalu yang patut kita renungkan bersama sebagai anak bangsa yang menginginkan negerinya besar. Mereka pernah besar, namun sebelum besar mereka pernah terluka dan berjalan terserok-serok. Di masalalu mereka mentorehkan tinta emas dalam coretan sejarah, dan di masa itu pula mereka juga mencoret sejarah kelam. Hari ini, mereka berhasil melewati masa terberat, dan kembali menjadi bangsa besar di abad modern. Dalam panggung sejarah keberadaannya, Indonesia pun tidak jauh berbeda. Ada fase dan masa pasang surut, masa keterancaman dan keguncangan. Namun yang belum kita temui ialah masa puncak kejayaan, dimana kejayaan tersebut akan terkolektifkan oleh kemakmuran rakyatnya.

Baca Juga  Kritik atas Pola Berfikir Para Pemegang Kebijakan
[bs-quote quote=” Butuh hal-hal dasar sebelum kita mencapai ranah yang kita citakan, yang mana hal tersebut menjadi dasar pertama untuk membawa bangsa ini sembuh, dan melanjutkan kembali pada proses pertumbuhannya. Dimana hal tersebut salah satunya ialah tetap menghargai keberagaman dalam bingkai bhineka tunggal ika bersampul toleransi, menjaga persatuan, dan tetap kokoh mengenggam kuat dasar negara pancasila sebagai konsensus yang telah disepakati bersama.” style=”default” align=”center”][/bs-quote]

Hari ini mungkin kita kembali terluka, dengan rentetan tragedi salah satunya bom bunuh diri berbau sentimen agama, lahirnya pengkotak-kotakan masyrakat lantaran berbeda sudut pandang politik, serta menjamurnya kelompok in toleransi di tanah air, tentu membuat negeri ini kembali dihadapkan dengan PR baru yang tentu dibutuhkan seluruh elmen bangsa untuk sama-sama membenahinya. Dengan semangat optimisme walau di iringi cuitan pesimis dari sosok yang di tokohkan bahwa Indonesia akan bubar di 2030, tetap menjaga semangat dan terus terbarukan meski pengasong sistem negara baru bertebaran, serta tetap merawat harapan dalam bingkai persatuan meski kelompok agama dan masyarakat tertentu merongrong keberlangsungan NKRI. Namun kita tetap percaya, bahwa semuanya bisa kita lalui dengan baik. Selagi itiqad kuat tetap tertanam dengan kokoh, rasa seperjuangan dan sepenanggungan tetap terjaga dengan baik terhadap sesama, penulis rasa Indonesia akan lebih mudah lagi untuk sembuh. Meski semuanya membutuhkan proses serta jatuh bangun yang cukup panjang, namun selagi bangsa ini masih tetap menempatkan tujuan bersama sebagai prioritas di atas segalanya, bukanlah hal mustahil bila cita-cita pendiri bangsa terdahulu, yang hari ini di amanatkan pada kita sebagai regenerasi untuk menjadi sebuah perwujudan nyata akan terlaksana dan tercapai. Di tengah benturan nilai-nilai, serta pudarnya semangat kebangsaan di tengah masyrakat, tentu ini menjadi catatan penting pula demi membangun sebuah bangsa dan tatanan negara yang kuat. Dimana penyadaran secara masif dan kolektif oleh kalangan anak bangsa yang masih sadar dan tersadarakan, tentu harus terus di lestarikan. Sebab semakin masa berlalu, dimana segalanya telah menjadi mudah, maka akan mulai mengikis peroses dan sejarah di masalalu. Bisa lihat, berapa banyak pemuda-pemuda kita yang buta akan sejarah negerinya, berapa banyak pula dari mereka yang melecehkan tokoh-tokoh pendiri bangsa ini. Sebab mereka tidak tau sejarah, dan ini tidaklah baik bagi generasi masa depan dalam membangun negeri ini. mereka adalah aset bangsa, mereka pula adalah calon pemimpin negeri Indonesia. Namun bagaimanapun tidaklah ada kata terlambat dalam memperbaiki semunya, Indonesia bangsa yang besar, kesakitannya tidaklah membuatnya mati begitu saja. Dan kita masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk memulainya kembali, sambil melupakan hal pahit yang pernah dilalui dalam balutan sebuah pembelajaran berarti. Semoga bangsa kita yang tengah terengkuh, terluka dan masih dalam balut penyembuhan, akan lekas sehat dan kembali berdiri tegap di kancah dunia. – (Usep Ruyani)

Baca Juga  Presiden Jokowi Hadiri Harlah NU Ke 93
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close