Politik

Bos Tasikmalaya Keluarkan 30 Miliar Untuk Caleg, Ini Kisahnya

TASIKMALAYA – Politik uang atau money politik tampaknya tak bisa dibendung dalam pemilih calon anggota legislatif. Yang menang besar justru keluar uangnya banyak . Seperti halnya di Kota Tasikmalaya, jelang pencoblosan amplop berisi uang pun bertebaran. Tujuannya agar caleg terpilih dengan iming-iming uang.

Pengakuan salah seorang tim sukses caleg DPR-RI sebut inisialnya JN, poilitik uang itu nyaris sudah lumrah hampir semua daerah kecamatan di Kota Tasikmalaya mengetahui adanya praktik kotor itu adanya pergerakan politik uang yang diduga berasal dari salah satu pengusaha besar di kota ini

“Memang benar ada politik uang, pokoknya caleg DPRD Jabar kalah semua oleh  anaknya si bos. Pokoknya mah di bom istilah bagi-bagi uang),” kata pria  asal Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jumat (19/4/2019).

loading...

JN mau mengungkap praktik politik uang asal dirahasiakan identitasnya, sehari jelang pencoblosan, JN berkumpul bersama rekan-rekan. Dia menghadap si Bos dan memberikan data di mana saja uang itu akan dibagikan. Pesannya adalah uang yang dibagikan itu untuk mencoblos sepaket, maksudnya coblos DPR-RI dan DPRD jabar. Isi amplopnya berkisar antara Rp 200 ribu sampai dengan Rp 250 ribu.

Untuk menghilangkan jejak tak ada identitas caleg hanya memberi tahu secara lisan. Pilih caleg ini nomor sekian dan ini uanya. Itu yang dikatakan JN kepada calon pemilih.

“Mulai dari capres, DPR RI dan DPRD Provinsi dari partai nasionalis yang sama. Warga di Kota Tasikmalaya mah gampang saja, asal ada uang pasti mereka bisa diarahkan,” ungkapnya. JN mengaku, bagi-bagi uang secara besar-besaran sampai puluhan miliar rupiah itu dilakukan di tiga daerah, Garut, Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Para petugas pembagi ke warga rata-rata para pegawai dari bos tersebut.

Baca Juga  Uu Ruzhanul Ulum Senang Pemilu di Jabar Aman

“Pokoknya jumlahnya banyak sekali . Bos itu paling berani ngeluarin duit untuk capres dan anaknya yang maju di DPR RI dan provinsi. Kota Tasik saja ngeluarin uang sampai Rp 30 miliar,” tambahnya.

Namun, saat ditanya siapa bos besarnya tersebut, dirinya meminta kepada wartawan untuk tak dibukakan di media massa. JN hanya mengaku kalau semua warga di Tasikmalaya pasti akan tahu siapa yang kemarin membagi-bagikan uang paketan uang jumlahnya begitu fantastis dan paling besar saat malam sebelum pencoblosan.

“Jangan disebut, tapi semua orang di Tasik, pasti tahu siapa bos saya. Soalnya, sudah pada tahu paling besar ngeluarin duit kemarin di Kota Tasikmalaya,” ungkapnya. Bawaslu kesulitan, saksi selalu tutup mulut

Sayang praktik ini sulit diungkap, Komisioner Bawaslu Kota Tasikmalaya, Rino Sundawaputra mengatakan, selama tiga hari masa tenang pihaknya banyak mendapat informasi soal pendataan dan pemberian uang dengan pola meminta foto copy KTP. Bawaslu pun langsung berupaya melakukan pencegahan kepada orang yang diduga tim salah satu caleg.

“Kita datangi orangnya, kita tanya apa tujuan mengumpulkan KTP. Lalu setelah diberi penjelasan, pendataan itu dihentikan dan kita menjadikan wilayah itu sebagai rawan politik uang dengan pengawasan ektsra. Kedua modus pembagian uang dengan memberi nama amplop dengan honorarium saksi, padahal amplop tersebut dibagikan kepada warga, modus ini untuk menutupi praktek politik uang seolah-olah uang tersebut legal untuk honorarium saksi,” kata Rino.

Saat ini, Bawaslu sedang menangani laporan pembagian uang di kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Laporan ini melaporkan dua orang caleg di dapil yang sama atau paketan. Saat ini, baru masuk kajian awal apakah terpenuhi syarat formil dan materilnya dari pelapor.

Baca Juga  Tanggapi Hasil Quick Count, Jokowi : Sabar Tunggu Hasil Dari KPU

“Kesulitannya adalah saksi yang menerima uang tak mau buka suara atau memberi keterangan. Mereka tutup mulut dengan alibi tidak tahu siapa yang memberikan, ini masalahnya” tandasnya. (dab)

sumber:kompas,com

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close