©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Senin, Juni 17, 2019
BudayaReligi

Budaya Pesantren di Desa Nanggerang

MediaDesa.id – Salah satu kearifan lokal yang penting untuk dipertahankan sampai sekarang yang bisa dipelajari dari para orang tua kita adalah budaya belajar mereka yang sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari mereka masih mempertahankan budaya pengajian subuh di bulan Romadhon yang bagi anak-anak muda lebih dikenal dengan istilah paskil atau pesantren kilat.
Seperti terlihat di kampung sagobog desa Nanggerang Kecamatan Cigalontang setiap ba’da subuh mereka tidak langsung melanjutkan ke aktivitas harian mereka. Mereka lebih memilih untuk i’tikaf di masjid terlebih dahulu plus mendengarkan ceramah dan pengajian yang disampaikan oleh Ajengan Ajengan kampung yang ada di kampung tersebut atau bahkan sengaja diundang untuk mengisi pengajian setiap subuh seperti terlihat di subuh hari ini, 5 juni 2018. Yang lebih luar biasanya lagi, berdasarkan hasil penelusuran, tingginya semangat belajar mereka terlihat bukan hanya dari kehadiran mereka saja tetapi cara belajar mereka tidak kalah seperti cara belajar anak-anak muda zaman sekarang atau bahkan para santri. Mereka memiliki kebiasaan pengajian tidak hanya sekedar nguping tapi juga mencatat atau bahkan melogat ala santri menterjemahkan lafadz Demi lafadz Arab dalam kitab.
Hal ini sebagaimana pengakuan salah seorang pengisi pengajian subuh Iman Nurjaman S.Pd.I beliau menuturkan, bahwa materi yang disampaikan oleh beliau diminta dalam bentuk sesuatu yang bisa diterjemahkan dan bisa ditulis dan jelas hanca nya. Menurut beliau, ini adalah sesuatu yang mengejutkan dan sangat istimewa melihat usia mereka sudah tidak muda lagi.
Beliau menambahkan, sepertinya budaya seperti ini sudah sangat jarang bahkan di anak-anak sekalipun seringkali yang namanya pengajian itu tidak jarang hanya nguping dan mendengarkan saja. Sementara yang terjadi di sini, mereka belajar seperti layaknya santri santri di pesantren melogat lafadz Demi lafadz.
Setelah ditelusuri, ternyata kebiasaan ini memang sudah berlangsung tidak hanya di saat bulan Ramadhan saja di waktu pengajian mingguan yang biasa diselenggarakan setiap hari senin pun kebiasaan mereka sama seperti itu, mencatat dan melogat Ala santri, bahkan tanpa segan jika ada hal yang tidak mereka pahami mereka Langsung menanyakan hal tersebut kepada penceramah.
Sungguh pemandangan yang mengejutkan. Semoga kearifan lokal seperti ini bisa dipertahankan oleh generasi muda dan generasi generasi berikutnya. (Abdul Khoeruma)

  • 86
    Shares
Baca Juga  Asal-usul Munggahan

Tinggalkan Balasan