Nasional

Bumi Manusia, Film yang Menceritakan Persatuan Indonesia

Jakarta – Nonton bareng film bumi manusia yang diawali dengan diskusi dan do’a bersama untuk para pendiri bangsa menjadi salah satu media memahami sejarah bangsa, film karya Hanung Bramantyo ini mempunyai nilai spirit menggambarkan Indonesia di akhir 1800 hingga awal 1900 yang oleh sejarah kita tercatat sebagai masa awal kebangkitan national, yang menuntut kita untuk terus mengokohkan semua element bangsa melalui pemaknaan atas peristiwa sejarah perjuangan. Karya Pramoedya Ananta Toer, bahwa kesetaraan atas bangsa-bangsa harus diperjuangkan dan implimentasikan film ini menyuarakan narasi bahwa kaum bumi poetra harus memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Untuk saat ini gagasan kaum boemiputra terjemahkan sebagai kewarganegaraan dan kerakyatan tanpa membedakan agama, etnis dan asal usul sosial.

Disebut kaum bumipoetra waktu itu untuk membedakan dengan tegas siapa kita dan siapa mereka. Di era kemerdekaan, kita nya sudah jelas yaitu seluruh rakyat Indonesia.

“kita telah melawan nak, nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” membuktikan bahwa bangsa kita setara dengan bangsa lain, untuk tradisi dan adat istiadat rakyatnya, menghormati orang lain dan adat istiadat dan budaya mereka, serta mengatakan tindak tidak intoleransi terhadap kebencian rasial dan nasional keinginan untuk memperkuat kekuatan ibu pertiwi.

Prinsip kesadaran berbangsa dan bernegara tergambar dengan tiga ciri yang pertama, cinta tanah air, kesetiaan, dan keyakinan satu bangsa Indonesia sebagai emosi utama yang terintegrasi, cinta akan tanah air adalah sumber perasaan, pandangan, dan gagasan.

Kedua bangsa jndonesia menemukan ekspresi dalam karakteristik pribadi lain yang mencerminkan orientasi berbangsa bernegara dan beragama dari pandangan dunia individu, sikap, perilaku, dan aktivitas penghormatan dan pengetahuan tentang sejarah tanah airnya.

“semua element bangsa harus bersatu terutama tokoh-tokoh bangsa kita dipersatukan oleh gagasan kebangsaan, selama lebih dari 100 tahun sejak para founding father merasa perlu untuk membangun bangsa melampaui garis-garis agama dan etnisitas dikatakan ketua umum forum satu bangsa” dikatakan ketua umum forum satu bangsa.

Menurutnya, nonton film bareng ini juga memberikan pemahaman dari sisi pendidikan atau edukasi tentang sejarah. Kesadaran kebangsaan yang dinarasikan dalam bumi manusia tidak pernah kehilangan urgensi maupun relevansi sampai saat ini. Ketika khilafah hendak menjebol garis batas imajiner kebangsaan kita melalui pintu agama, maka kita wajib kembali menyuarakan posisi paham kebangsaan kita. Salah satu film ini menjadi jalan masyarakat kenapa harus menjaga NKRI. Perjuangan ini diyakini dapat menambah rasa bahwa kita harus percaya diri, Indonesia mampu lebih baik dari negara-negara luar karna budaya bangsa kita ini sudah diajarkan untuk terus sikap dan berbuat adil sejak dalam fikiran apa lagi dalam perbuatan/bertindak.

Baca Juga :  Besok Tol Terpanjang di RI akan Diresmikan Presiden

Dengan tetap selalu setia terhadap visi kebangsaan yang diperjuangkannya setiap waktu berjuang membela kemanusiaan tanpa syarat apapun tak peduli resiko bahaya dan aruhannya. Membela kearifan lokal di seluruh penjuru negeri.

Kalo hari ini yang biasa kita sebut bertransformasi dalam wujud dasar negara pancasila, konstitusi UUD 1945 dan NKRI. tegasnya.

Atas nama Forum Satu Bangsa, Generasi Lintas Iman serta Tirto Institute saya ucapakan penuh bangga dan hormat serta terimakasih kepada semua undangan pembina forum satu bangsa keluraga besar kanjeng pangeran haryo (kph) Karyonagoro, bunda hj. Lily chadijah wahid, keluarga besar letjen tni ( purn ) Marciano Norman, keluarga besar Habib Salim Solahuddin Jindan, Andri Sudibyo (kein), dr. Ismail, mt (dirjenkominfo), kh. Lukman Hakim (kominfo), Johannes Nuwono ketua umum pelangi kebangsaan, dan dari paguyuban serta okp Cipayung serta semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu

Saya kembali tegaskan dan atas ini, bahwa ketika liberalisme dan arabisme hendak menggerus budaya nasional yang adiluhung kita juga harus tegak berdiri di pihak kebudayaan nusantara. Karena di situlah jelas siapa kita. Bangsa kita Indonesia sudah memiliki akar budaya kebangsaan yang kuat dan kita sudah meyakini itu semua. Sumberdaya manusia yang unggul untuk Indonesia maju harus diimbangi dengan, latar belakang budaya bangsa, sikap bangga akan pencapaian bangsa, sikap bangga terhadap budaya bangsa, adanya keinginan untuk memelihara serta meneruskan cita-cita bangsa Kegara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis : Hafid
Editor : Mesa

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: