Cara Penggiat Kopi Garut Hadapi Tantangan di Tengah Pandemi

oleh -

GARUT – Sejumlah penggiat kopi mulai dari petani, barista, roaster beserta Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Kabupaten Garut mengadakan kegiatan bertemakan “Kolaborasi atau Kompetisi’’? sebuah acara diskusi dan public cupping yang digagas oleh Kedai Kopi Garasi Berdikari untuk melakukan sebuah pergerakan kolaborasi antara hulu ke hilir untuk menjadikan kopi Garut lebih baik.

Asosiasi Petani Kopi Indonesia Kabupaten Garut Helmi Emka, mengatakan dengan adanya kegiatan ini bertujuan untuk mengajak berdiskusi para pelaku kopi di Garut bagaimana caranya untuk memajukan kopi di Garut.

“Tujuan dengan adanya kegiatan ini yaitu untuk berdiskusi antara asosiasi petani kopi indonesia dengan para pelaku kopi di Garut seperti ada yang dari petani, barista untuk membahas dengan cara seperti apa kita akan memajukan kopi di Garut, maka dibuatlah diskusi ini ,” kata Helmi, Rabu (3/3/2021).

Ia menyebutkan, hasil dari diskusi ini ingan ada bahwa dari hilir harus memberikan feedback terhadap hulu untuk meningkatkan semangat para petani dalam memajukan kopi Garut.

“Kesimpulan dari hasil diskusi ini bahwa harus ada feedback yang besar dari hilir terhadap hulu, contohnya dari hilir itu kedai ada feedback kepada hulu baik itu inflasi maupun berbagi profit atau keuntungan, sehingga petani-petani yang ada di hulu dapat bertambah gairahnya untuk memajukan kopi Garut,” ujarnya.

Di tengah situasi pandemi Covid-19 Helmi berharap, dengan adanya kegiatan ini semoga menjadi jalan untuk melahirkan sebuah pemikiran serta gerakan yang memiliki dampak yang besar bagi para pelaku kopi terutama bagi para petani.

“Bahwa kegiatan ini mudah-mudahan ke depannya ada pergerakan-pergerakan yang dilakukan para pelaku kopi untuk melakukan hal-hal kecil tapi memiliki impact yang besar kepada para petani, Misalnya di hilir kedai bisa membagi atau menyisihkan keuntungannya untuk kepentingan para petani, apalagi disaat pandemi seperti ini akan menjadi stimulan bagi para petani untuk mempertahankan konsistensi dalam membudidayakan kopi Garut,” harapnya.

Helmi menambahkan, selain kegiatan silaturahmi dan berdiskusi hal ini juga diawali dengan adanya kegiatan public cupping yang sesuai dengan protokol kesehatan COVID-19.

“Sebelum terlaksananya acara diskusi kami melakukan public cupping dengan standar aturan protokol kesehatan Covid-19. Setiap pelaku yang melakukan kegiatan public cupping sudah melakukan tes kesahatan dan yang melakukan public cupping tidak boleh menyeruput langsung, karena kami telah menyediakan gelas untuk masing-masing sehingga tidak akan tercampur,” pungkasnya.

(Mesa)

Baca Juga :  Kurma, Takjil Yang Paling Digemari Warga Tasikmalaya

Berikan komentar