Ragam

Dari Lapangan Bola Berstandar FIFA Hingga Desa Donor Mata ada di Tasikmalaya

TASIKMALAYA – Kota ini terkenal dengan julukan kota santri. Julukan itu muncul sekitar tahun 1970 karena di kota itu terdapat sekitar 1.200 pondok pesantren yang tersebar di kota dan Kabupaten Tasikmalaya.

Berjuluk Kota Santri, Tasikmalaya menjadi daerah yang dikenal religius.

Bukan hanya jargon semata, kereligiusan warga Tasikmalaya bisa dilihat salah satunya di Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu.

Desa dengan warga sekitar 5.000-an tersebut setiap tiga bulannya bisa memberikan 300 labu darah kepada yang membutuhkan, dan sekitar 1.500 orang, anggota calon donor mata.

Koordinator Keluarga Donor Mata (KDM) Desa Tenjowaringin, Dodi Kurniawan mengatakan, Islam adalah agama rahmatan lil alamiin, oleh karena itu setiap muslim harus berada di barisan terdepan dalam pengkhidmatan kemanusiaan, donor mata adalah diantaranya.

“Inilah mungkin spirit antusiasme warga Desa Tenjowaringin dalam gerakan donor mata”, kata Dodi saat dihubungi mediadesa.id

Dodi menuturkan, kini Desa Tenjowaringin menjadi salah satu desa dengan warga calon donor mata terbanyak se-Indonesia.

“Sejak berdiri Keluarga Donor Mata tahun 2016, Allhamdulullah sudah 11 orang yang terambil dari 1.500 calon anggota donor mata”, tuturnya.

Bukan hanya berjuluk Kota Santri, Tasikmalaya juga memiliki slogan “Sukapura Ngadaun Ngora” yang berarti Sukapura Akan Maju Ekonominya.

Hari ini Desa Cisayong menjadi perbincangan hangat warganet, bagaimana tidak, dengan dana desa, pemerintah Desa Cisayong mampu membangun lapangan bola berstandar FIFA.

“Saya ingin melihat lapangan desa saya seperti Gelora Bung Karno yang ada di Jakarta. Dan Desa Cisayong memiliki ikon”, ungkap Kepala Desa Cisayong, Yudi Cahyudi, kepada mediadesa.id.

Lapangan bola yang menghabiskan dana sekitar Rp. 1,4 miliar tersebut, diharapkan mampu membangung generasi muda Cisayong yang positif.

Baca Juga  Pemkab Tasikmalaya Ingkar Janji, Jalur Cisinga Masih Belum Rampung hingga Tahun 2019

“Ketika olahraganya bagus itu juga bisa menjadi prestasi. Ketika saya membangun lapangan bola ini, besok lusa, pembangunan generasi mudanya harus tetap positif”, harapnya.

Yudi menerangkan, setelah dibuka untuk umum, lapangan ini akan disewakan dengan tarif Rp. 500 ribu untuk warga kecamatan Cisayong setiap kali bertandingnya. Dan Rp. 750 ribu untuk warga umumnya.

“Lapangan bola Sakti Lodaya dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti macam drainase, water sprinkle system, kualitas rumput dengan zoysia matrella,dan tingkat kerataan tanah”, pungkasnya. (Rizal Waqfeen)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close