Nasional

Desa dan Ancaman Kekeringan di Tasikmalaya

MediaDesa.idTASIKMALAYA. Pada Agustus 2017, BMKG merilis prakiraan Musim Hujan Puncak Musim Kemarau 2018 diprediksi terjadi pada bulan Agustus – September 2018. Pada saat puncak musim kemarau di wilayah Indonesia perlu diwaspadai untuk daerah-daerah yang rentan terhadap bencana kekeringan, karhutla. Untuk musim kemarau tahun 2018 diprakirakan tidak separah musim kemarau tahun 2015 karena sampai dengan pertengahan tahun 2018 iklim di Indonesia masih dipengaruhi La Nina lemah, sehingga kemarau tahun ini akan berimplikasi positif pada tanaman palawija dan tanaman semusim yang tidak teralu memerlukan banyak air, seperti dilansir dari situs resmi BMKG https://www.bmkg.go.id.
Kota dan Kabupaten Tasikmalaya bukanlah daerah yang terbebas dari ancaman bahaya kekeringan, seperti yang terjadi pada tahun 2015. Lebih dari 80 hektare areal tanaman padi gagal panen, dan ratusan hektare lainnya terancam. Beberapa kecamatan yang termasuk kategori rawan kekeringan di Tasikmalaya adalah Ciawi, Cisayong, Cipatujah, Bojonggambir, Salawu, dan Indihiang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mencatat, 28 dari total 39 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya dilanda kekeringan. Masyarakat 118 desa di 28 kecamatan tersebut mengalami darurat air bersih
Beberapa upaya kerap dilakukan Pemerintah daerah dalam mengantisipasi bencana kekeringan ini, namun rupanya perlu upaya prevntif yang berkesinambungan dalam mencegah terjadinya bencana kekeringan. Karena penanganan ancaman kekringan dinilai cukup tinggi, sehingga upaya pencegahan yang berkesinambungan adalah pilihan terbaik. Seperti saat kekeringan di tahun 2015, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya membutuhkan anggaran Rp 8 miliar, seperti dilansir https://nasional.tempo.co/read/695931/atasi-kekeringan-tasikmalaya-butuh-rp-8-miliar.
Lalu upaya apa saja yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersama masyarakat dalam melakukan pencegahan bahaya kekeringan di Tasikmalaya? Dalam pemahaman konseptual Untuk mencegah bencana kekeringan, beberapa hal dapat diupayakan oleh pemerintah dan anggota masyarakat, antara lain:
  1. Melakukan efisiensi dalam penggunaan air melalui penggunaan teknologi-teknologi hemat air, dan malakukan sistem giliran dalam penggunaan air
  2. Memprioritaskan penggunaan air waduk untuk keperluan air minum, pengairan, dan industri.
  3. Melakukan pemantauan intensif pada persediaan air di waduk-waduk.
  4. Memasang pompa – pompa air di sungai sungai yang airnya cukup, untuk pengairan.
  5. Membuat sumur-sumur di daerah daerah rawan kekeringan serta memasang pompa air.
Dilansir dari https://geocorida.blogspot.com/2012/09/lingkungan-hidup_6.html, bahwa secara logis untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan adalah dengan memperbesar kapasitas daratan menahan dan menyimpan air, yaitu memperbesar kapasitas lahan menyerap air serta kapasitas tampung danau, rawa dan sungai. Pengerukan sungai dan danau untuk memperbesar kapasitasnya dapat dilakukan kalau tersedia dana yang cukup besar.
Upaya yang relatif sederhana dan sangat mungkin dilakukan adalah membangun sebanyak mungkin kolam penampung air ukuran kecil yang biasa dikenal embung atau waduk kecil, situ, dan kolam. Penampungan air ini berkapasitas 4000 – 8000 meter kubik. Penampung air kecil dapat dibangun oleh masyarakat,  karena tidak memerlukan keahlian tinggi, hanya dengan konstruksi tanah, relatif murah dan mudah menempatkannya di lapang.
Meskipun demikian, di daerah berpenduduk padat seperti di Jawa, lokasi untuk membangun embung juga terbatas. Upaya lain untuk menampjung / menyimpan kelebihan air adalah dengan membuat sumur resapan sebanyak mungkin. Melalui sumur resapan, air diresapkan ke lapisan tanah yang lebih dalam dan lebih luas sehingga kapasitas resapnya menjadi lebih besar. Sumur resapan ini efektif pada lokasi yang tinggi seperti di puncak dan di lereng bukit atau gunung. Sumur resapan dapat dibuat di halaman rumah, kantor, sekolah, pasar, kebun, hutan, tegalan, di dalam embung dan sebagainya, tidak memerlukan lahan yang luas dan tidak banyak menggangu keperluan lain.
Bagi kebanyakan warga masyarakat, terutama di pedesaan dan kawasan urban, biaya pembuatan sumur resapan dirasakan mahal, yaitu di sekitar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah) per sumur.  Oleh karena itu masyarakat lebih menyukai lubang atau rorak resapan. Lubang resapan ini berukuran (1-3) x (1-3) x (2-3) meter kubik. Bentuk yang lebih sederhana adalah lubang berdiameter 10 – 15 cm dan 2 – 3 meter dalamnya. Lubang sederhana ini dapat dibuat berbaris sepanjang pagar atau berkumpul 10 – 20 lubang di satu tempat. Lubang resapan sebaiknya diisi sampah organik, yang berfungsi untuk menahan dinding lubang agar tidak runtuh, anak-anak dan hewan peliharaan tidak terperosok, menyuburkan tanah dan sebagai media hidup dan berkembangnya cacing tanah. Keberadaan cacing tanah sangat penting untuk melubangi dinding rorak, sehingga daya resap tanah makin besar. Lubang resapan dapat dibuat di halaman, di kebun, tegalan, di pasar, di kiri kanan jalan raya, di taman dan lain-lain.
Di dataran rendah, dekat pantai (Jakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin dll) yang air tanahnya dangkal atau tanahnya terlalu jenuh air atau kedap air, sumur lubang resapan biasa tidak efektif. Kelebihan air di kawasan seperti ini harus dimaksukkan ke lapisan aquifer melalui sumur Tirta Sakti. Air yang dimasukkan ke “aquifer” harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Sumur Tirta Sakti dikembangkan oleh Universitas Trisakti, Jakarta, dan ada contohnya di sana. Sumur Tirta Sakti ini pun dapat dibuat di berbagai tempat dan tidak memerlukan lahan yang luas (Juawana dan Sabri, 2001).
Di kiri-kanan sungai besar  dan di sekeliling danau yang selalu diluapi banjir di musim hujan, sebaiknya dibangun embung sebanyak mungkin, untuk menampung dan menyimpan air luapan (Imam Utomo, Guibernur Propinsi Jawa Timur, 2001, komunikasi pribadi). Di sepanjang sungai kecil sering dibuat cek dam. Namun selama ini kapasitas tampung air cek dam relatif sangat kecil. Untuk menambah kapasitas cek dam, bagian sebelah hulu dam dapat diperdalam dan diperluas.
Air di dalam embung, waduk, situ, kolam, cek dam, yang diresap oleh sumur / lubang resapan  dan yang dimasukkan ke aquifer, memperbesar jumlah air yang tertahan / tersimpan di daratan. Air ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan di musim kemarau untuk mencegah kekeringan. Jika perlu dipergunakan pompa untuk memanfaatkan air ini.

Secara singkat disimpulkan untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan sebagai suatu kesatuan upaya adalah dengan membangun penampung air kecil, sek dam diperbesar, “sumur/lubang resapan” dan sumur Tirta Sakti sebanyak mungkin mulai dari bagi hulu (atas), bagian tengah sampai bagian hilir (bawah), kawasan luapan banjir (flood plain) di setiap daerah tangkapan hujan (watershed) di kawasan hutan, pertanian, permukiman, perindustrian, pertamanan dan lain-lain (Karama dan Kaswanda, 2001b) dan 2001c). Kegiatan ini dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan sedikit bantuan dari pemerintah dan bimbingan tenaga teknis. Bersamaan dengan kegiatan ini, agar dilakukan penanaman kembali lahan terbuka seluas mungkin. Pengalaman lapangan menunjukan bahwa penanaman kembali vegetasi di lahan terbuka akan berhasil bila ada air untuk menyiram tanaman serta memadam kebakaran, serta tidak ada aliran permukaan yang menerjang dan menghanyutkan tanaman. Keberadaan air embung dan sumur resapan dapat mengatasi masalah ini dan agar tetap dipertahankan meskipun vegetasi sudah pulih kembali.
Membangun embung, waduk kecil, situ, cek dam diperbesar, sumur / lubang resapan dan sumur Tirta Sakti jauh lebih murah, mudah, cepat, merata di seluruh daerah, lebih efektif dan efisien daripada membangun waduk atau bendungan raksasa pada kondisi negara Indonesia seperti sekarang. Negara-negara maju sepeti Australia, Perancis dan USA membangun embung dan sejenis serta sumur resapan. (AIH)
Baca Juga  PAC Ansor Ciamis, Akan jadi Pusat Harokah Nahdliyah
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close