Budaya

Desaku yang Terhempas Zaman

MediaDesa.id – Jika kita mendengar kata ‘Sunda’, apa yang ada dipikiran? Prasangka saya, mungkin pertama yang ada dibenak adalah salah satu suku di Indonesia yang kaya akan budaya, namun sekarang sedikit demi sedikit tradisi dan budaya yang unik ini semakin hilang ditelan oleh zaman. Zamannya tidak pernah berubah, namun pelaku zamanlah yang membuat semuanya tergerus. Sepertinya terlalu jauh jika disini berbicara tentang kebudayaan suku sunda, karena tak akan cukup dalam satu atau dua halaman tulisan, bahkan lebih.

Karena menjadi anak kecil tidak lepas dengan namanya permainan. Khususnya di daerah saya (Singaparna – Tasikmalaya) banyak sekali permainan tradisional sunda yang sering dimainkan anak-anak di pekarangan rumah, lapangan atau lahan-lahan kosong yang dulu masih banyak dijumpai sekalipun di daerah perkotaan, seperti permainan congklak, oray-orayan, boy-boyan, galah, gatrik, ucing sumput ucing, dan masih banyak lagi. Sebelum era gadget datang, anak-anak lebih sering keluar rumah, berkumpul bersama teman-temannya memainkan permainan yang berbeda dari satu hari ke hari lainnya. Tapi di masa kini, beberapa permainan-permainan tradisional sunda (khususnya) hampir punah karena beberapa faktor, selain karena perubahan zaman, perubahan lingkungan juga turut mempengaruhi aktivitas anak-anak kecil di lingkungannya. seperti pembangunan rumah, pertokoan, perumahan yang turut mempersempit ruang bermain anak-anak.

Di penghujung bulan Ramadhan ini, saya jadi teringat dengan Ramadhan dahulu sewaktu kecil. Sebelum negara api menyerang, ada satu permainan anak yang unik, namanya rorodaan (mobil-mobilan), yaitu miniatur mobil yang terbuat dari bambu atau ditambah beberapa pelepah dari pohon supaya terlihat unik, dibentuk sedemikian rupa walaupun masih sangat jauh dari bentuk mobil aslinya, namun alangkah senangnya jika sudah bisa membuat mobil-mobilan ini, jikapun tidak bisa membuatnya anak-anak saling bantu untuk merampungkan mainan mobilannya. Biasanya lebih sering dimainkan di bulan ramadhan, sambil ngabuburit menunggu buka puasa, atau sesudah shalat tarawih. Anak-anak satu kampung berkumpul janjian di satu tempat lalu keliling dari kampung ke kampung bahkan dari desa ke desa, karena jika banyak teman perjalanan jauhpun terasa singkat, bukankah begitu?. Dan esoknya merencanakan untuk target keliling selanjutnya. Alangkah indahnya. (Aziz)

loading...
Baca Juga  Dzikir Bersama Jaga Ketentraman Galunggung
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close