Ragam

Di Bali, Nikah Dihadiahi Seekor Babi

BALI – Hajatan perkawinan kerap kali menyisakan sampah plastik sekali pakai yang menumpuk. Risih dengan pemandangan sampah ini, kepala desa (perbekel) di Bali ini memberikan hadiah babi hitam (kucit Bali) bagi warga yang menikah tanpa menggunakan sampah plastik sekali pakai.

Aturan tersebut merupakan Peraturan Desa (Perdes) Tembok, Kecamatan Tejakula, Singaraja, Buleleng, Bali. Peraturan ini mulai berlaku pada Senin (7/10).

“Untuk setiap warga Desa Tembok yang akan melangsungkan pernikahan dan berkomitmen untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai selama upacara, kami akan berikan satu ekor babi hitam (Kucit Bali, bukan Landrace atau Duroc) seberat minimal 80 kilogram sebagai reward. Komitmen ini berlaku mulai Senin, 7 Oktober 2019 besok (syarat ketentuan berlaku),” kata perbekel Dewa Komang Yudi dalam akun Facebooknya, Selasa (8/10/2019).

“Berhubung ini serius, silakan kabarkan kepada sanak saudara atau kerabat yang kebetulan akan mengakhiri masa lajangnya dalam waktu dekat. Ada yang mau jadi korban pertama?” sambung Yudi.

Unggahan itu mendapat reaksi beragam dari netizen. Ada ratusan komentar yang mayoritas mengapresiasi inisiatif ini dan telah dibagikan lebih dari 200 orang.

Dimintai konfirmasi, Dewa menuturkan pihaknya memang sedang menyusun perdes tentang sampah plastik sekali pakai ini yang rencananya akan kelar akhir Oktober ini. Hanya saja, pihaknya memang mencuri start untuk mendahului karena menyesuaikan hari baik orang Bali menggelar hajatan.

“Terkait sampahnya sebenarnya kita sedang menyusun perdes, drafnya sudah kita susun kita target akhir Oktober ini paling lama sudah disahkan dan diserahkan ke desa. Itu saya setting berlakunya sengaja mendahului karena harus disesuaikan waktu baik bagi orang Bali jadi banyak orang kawin, tanggal 10-11-12 itu sudah lumayan banyak orang kawin,” jelas Dewa.

Aturan soal komitmen tanpa sampah plastik sekali pakai di hajatan nikahan ini diberlakukan sebagai praktik sosialisasi sekaligus edukasi masyarakat. Dengan sistem reward ini diharapkan masyarakat bisa lebih mengena aturan ini.

“Sosialisasi dan edukasi jelas kita perlukan cuma orang yang kita jadikan objek sekaligus subyek juga sesuai kapasitas SDM-nya. Di desa, terutama di Desa Tembok akan sulit melakukan edukasi seperti itu karena masyarakat sudah ada mindset kalau saya melakukan ini apa yang kira-kira saya dapat. Kondisi sosial dan kultur seperti ini yang saya sesuaikan, dengan memasang reward yang berdampak langsung kepada mereka salah satunya yang menyelipkan di upacara pernikahan,” urainya.

Baca Juga  Akhir Februari Jokowi Akan Resmikan Terminal Baru Bandara Wiriadinata

Hajatan perkawinan dipilih karena bisa dihadiri ratusan hingga ribuan warga sehingga akan memudahkan sosialisasi. Selain sosialisasi, warga yang sudah mendaftarkan komitmennya juga disediakan pendampingan serta sampel produk sebagai pengganti plastik sekali pakai.

“Contoh kalau orang Bali pas sebelum persiapan upacara ada potong babi dan segala macam itu, orang-orang datang dikasih walasan/balasan itu ada sate, lawar, dan sebagainya. Mereka biasa pakai kresek hitam yang 5 kg itu jadi dari mulai itu sampai mineral dan sebagainya dengan plastik kita di desa yang memfasilitasi, bukan hanya menyuruh mereka, tapi kita siapin sampel apa sih yang bisa kita pakai untuk ganti kantong plastik hitam itu, terus apa sih alternatif yang bisa kita pakai untuk mengganti air kemasan di Buleleng, dan sebagainya, apa sih alternatif tempat makan dan tempat penerimaan tamu,” paparnya.

Dia lalu mencontohkan, sebagai pengganti tas kresek warga bisa menggunakan daun pisang atau daun kelapa yang dianyam, kemudian untuk meminimalisir plastik mika pada kue atau snack bisa diganti dengan menggunakan tudung saji atau daun pisang. Untuk air minum kemasan pun bisa diganti dengan menggunakan gelas dari plastik, bambu, atau kaca dengan disediakan galon.

“Jadi peran desa di sini tidak hanya ngasih reward saja tapi lebih kepada event organizer untuk meminimalisir plastik sekali pakai,” terangnya.

“Pemberlakuan program mulai 7 Oktober menggunakan sumbangan atau support dari perusahaan yang ada di Desa Tembok. Sebaliknya penggunaan anggaran desa (APBDesa) untuk mendukung program dimulai setelah Perdes diundangkan, efektifnya tahun 2020,” sambungnya.

Dia menuturkan hingga saat ini sudah ada dua pasangan yang bertanya soal aturan reward tersebut. Dia optimistis dengan cara ini pihaknya bakal lebih mudah menyosialisasikan perdes soal sampah plastik sekali pakai ini.

“Kemarin sudah ada dua orang yang telepon, cuma belum confirm. Mereka kan bingungnya bisa nggak ya, untuk mengubah ini seperti yang saya bilang pendampingan dari kita sekaligus sampel. Kalau tidak kita dampingi dan tidak kita kasih sampel mereka juga keblinger, untuk awal kita perlu pilot projectlah waktu, tenaga, sekaligus biaya untuk memfasilitasi mereka. Sehingga ketika ini disaksikan orang banyak, dari mulut ke mulut, flyer, dan sebagainya juga akan kita siapkan contoh di meja makan misalnya, flyer-flyer kecil yang kurang lebih bisa mentrigger mereka untuk tahu,” papar Dewa.

Baca Juga  Keberagaman Beragama di Kota Bandung Ada di Kecamatan Astanaanyar

Selain itu ada juga semangat untuk melestarikan babi hitam (kuncit Bali). Babi yang menjadi binatang endemik Bali ini sudah jarang diternakkan warga karena dinilai lama besar, dan kurang bernilai ekonomi.

“Babi hitam itu juga salah satu gerakan kita untuk melestarikan penggunaan babi hitam dalam keseharian upacara, karena kualitas babi hitam jauh dari segi daging, rasanya, kualitasnya jauh. Cuma dari sisi ekonomi bagi warga dia cenderung gedenya lebih lambat karena makannya organik, babi landrace atau duroc itu kan dari luar pakannya pun mereka setting dengan konsentrat, padahal kita punya gedebog pisang, kelapa yang habis peras santannya yang bisa dimakan dengan mudah babi hitam jadi lebih irit di cost pakan, kalau sekarang kan full konsentrat itu dampak ekonominya,” jelasnya.

Dewa menambahkan dalam perdes itu nantinya juga akan mengatur bagaimana sampah dikelola, mengatur peran serta masyarakat-swasta-pemerintah desa, dan hukuman bagi warga yang melanggar. Selain memberi hadiah untuk warga yang menikah tanpa sampah plastik sekali pakai, pihaknya juga bakal memberikan reward asuransi kesehatan bagi warga yang bisa memilah sampahnya, dan mengubahnya menjadi eco brick.

Apalagi Desa Tembok memiliki Puskesdes mandiri yang terjangkau bagi warganya. Dia optimistis dengan reward semacam ini warga bisa lebih mudah membiasakan diri dan bersemangat untuk mengurangi maupun mengelola sampah plastik di rumahnya.

“Ini reward, bagi saya hal ini sangat pantas. Coba punya 500-1.000 KK di tempat kalau kompak mau nurut sesuai yang kita desain di Perdes kira-kira layak dibayar berapa sih kesadaran mereka? Itu mahal sekali. Coba kalau edukasi konvensional, kampanye, sosialisasi 10-50 tahun aja nggak beres-beres, berapa banyak waktu, energi yang dilakukan untuk mengedukasi mereka,” terangnya.

Penulis : Mesa

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close