NasionalPendidikan

Dilematika Upaya dan Harapan Menuju Pedesaan Berbasis Pendidikan di Tasikmalaya

MediaDesa.id – Tingkat kemajuan sebuah desa, bisa dilihat sejauh mana tingkat kepedulian masyrakat desa itu sendiri terhadap sebuah pendidikan. Bila ada satu lingkungan desa yang mana di tengah masyarakatnya mayoritas telah melek pada pendidikan, maka bisa di jadikan indikator akan meningkatnya SDM di dalam sebuah masyarakat desa tersebut.

Maka dapat disimpulkan pendidikan di desa itu sudah maju, bila rata-rata tingkat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi telah merata kesetiap daerah. Namun kenyataannya tidak semudah itu, menuju pedesaan yang memiliki basis pendidikan adalah keniscahyaan yang perlu di dorong dan dibantu oleh semua pihak. Meski upaya Pemkab Tasikmalaya melalui Dinas Pendidikannya diakui atau pun tidak, kita telah ikut merasakannya, baik itu melaui beberapa kebijakan serta peraturan yang sedikit mulai mengubah wajah pendidikan Indonesia khusunya di Tasikmalaya; berupa pengaturan sistem pendidikan formal maupun informal. Dampak dari kebijakan tersebut, munculnya kesadaran orang tua siswa secara kolektif akan pentingnya sebuah pendidikan bagi masa depan anaknya, baik pendidikan usia dini (PAUD) bahkan hingga menginjak perguruan tinggi. Sebuah ralitas yang tidak terelakan, akan tingkat masyarakat pedesaan yang ingin melanjutkan sekolah SMP/MTs, SMA/MAN dan Perguruan Tinggi semakin meningkat. Seiring program pemerintah yang terus menggalakan wajib belajar 9 tahun, menjadi sarana yang tepat untuk bersosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya pendidikan bagi masyarakat desa demi menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nampaknya banyak catatan di sana sini yang masih perlu kita benahi, salah satunya ialah yang sering kita dengar bahwa masyarakat pedesaan sering beranggapan bahwa berpendidikan tinggi tidaklah menjanjikan di masa depan.

Anggapan tersebut bukanlah tanpa dasar, karena memang nyatanya banyak yang lulusan SMP, SMA dan bahkan tidak sedidikit lulusan Perguruan Tinggi yang tidak produktif, menganggur atau bekerja serabutan yang barang tentu hal itu tidak sesuai dengan cita-cita pendidikan. Pada akhirnya nanti hal tersebut berdampak pada anaknya kelak, sehingga tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban ketidak tahuan orang tua dipaksa untuk sekolah sampai SD dan menyuruhnya ke kota untuk bekerja.

Baca Juga  Desa Inklusi "Ikhtiar Merawat Keberagaman Masyarakat Desa"

Selain biyaya yang memang relatif mahal untuk tingkat lanjutan seperti SMA dan Perguruan Tinggi, juga sebagian wilayah desa yang letak geografisnya tidak mendudukung transfortasi seperti beberapa wilayah di Tasikmalaya, nyatanya menjadikan masih banyaknya desa-desa yang belum maksimal tersentuh oleh pendidikan. Masih banyak desa-desa yang bila kita tinjau dari tingkat pendidikan, nyatanya masihlah jauh dari harapan, maka jangan heran ketika pemerintah pusat menyerukan wajib pendidikan 9 tahun namun secara bersamaan masih banyak masyarakatnya yang hanya lulusan SD dan bahkan tidak sedikit pula yang tidak pernah merasakan bangku sekolah. Berbagai faktor tentu menjadi sederet persoalan tentang sulitnya pendidikan untuk di akses oleh masyarakat desa, salah satunya jalan yang sulit di lalui lantaran wilayahnya yang terpencil, faktor kemiskinan, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap wilayah-wilayah polosok desa pun menjadi salah satu sebabnya. Maka disini Pemkab Kabupaten Tasikmalaya, melalui dinas pendidikan, seharunya bisa bekerja sama bersama dinas-dinas lain didalam memecahkan perseoalan tersebut, misal dengan dishub, Dinsos, kementrian PU bisa bersinergi untuk saling membantu mencari jalan keluarnya. Tentu dengan harapan agar masyarakat di daerah-daerah terpencil dapat ikut merasakan pendidikan, dan juga ini sudah tugas negara sebagai pemerintah yang sah dalam menciptkan pemerataan pembangunan dan rasa keadilan. Sehingga di kemudian hari, masyarakat akan semakin termotivasi untuk terus menempuh pendidikan serta mulai merubah paradigmanya tentang pendidikan, bahwa pendidikan itu kebutuhan dan bukanlah merupakan syarat mutlak untuk mencari sebuah pekerjaan. Untuk mencipatkan kesimbangan pembangunan, pemerintah Kabupaten Tasikmalaya harus lebih memperhatikan masyarakat desa secara lebih fokus, terutama terhadap wilayah-wilayah desa yang keberadaanya masih terisolir oleh sentuhan kebijakan pemerintah. Bila kita mencermati secara lebih dalam, tidak bisa di simpulkan bahwa masyarakat desa tertinggal kurang minat akan sebuah pendidikan, karena jelas keterbasanlah yang seharusnya menjadi akar persoalan. Seperti inprastruktur, ekonomi serta minimnya informasi.
Tentu hal tersebut bukan hanya tugas pemerintah saja, melainkan seluruh elmen masyarakat tanpa terkecuali. Sosialisasi terkait pendidikan salah satunya, bisa dilakukan oleh semua masyarakat yang peduli terhadap pendidikan, baik melingkupi ormas keagamaan, sosial, LSM dan organisasi-organisasi yang berafiliasi atau pun hanya sebatas peduli terhadap wajah pendidikan di negeri ini. Sehingga pada kemudian hari masyarakat atau orang tua siswa menjadi faham serta mengerti akan pentingnya sebuah pendidikan, serta menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan yang tidak bisa dihindari dan dipisahkan dari kehidupan ber-masyarakat dan bernegara.
Meningkatnya pertumbuhan PAUD yang hampir merata disetiap wilayah di Tasikmalaya, tentu ini bisa menjadi pecutan kepada masyarakat yang mulai sadar terhadap akan pentingnya pendidikan. Walau masij banyak keberadaan PAUD yang belum maksimal, seperti tidak adanya standarisasi para guru, kesejateraan guru, serta pasilitas yang minim turut menjadi problem pendidikan di Tasikmalaya. Tentu hal tersebut tidak bisa di minimialisir tanpa adanya optimisme yang terbangun oleh semua pihak. Untuk menghilangkan sebah anggapan bahwa pendidikan hanya dimiliki di kota-kota besar, serta mengurangi dampak kesenjangan sosial antara masyrakat kota dan masyarakat desa salah sataunya dengan penyamarataan hak-hak pendidikan. Karena pendidikan bisa menjadi sebuah solusi altrnatif untuk menekan angka kesenjangan yang di akibatkan dari kemiskinan, sehingga pada akhirnya nanti akan tercipta masyrakat yang memiliki kemampuan dan berwawasan. Tentu kedapannya mereka bukan hanya duharapkan dapar bekerja secara layak, namun juga dapat menciptkan lapangan pekerjaan untuk menyerap angka pengangguran di daerahnya masing-masing. (Usep Ruyani)

Baca Juga  Gus Mus Maafkan Penyebar Hoax Yang Merugikan Dirinya
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close