Peristiwa

Dua Kelompok Massa Di Tasik Bersitegang

TASIKMALAYA – Insiden pembakaran Bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saat Peringatan Hari Santri di Limbangan Garut disikapi sejumlah kelompok massa di Tasikmalaya.

Satu kelompok menggelar aksi dengan memusatkan Masjid Agung sebagai titik koordinasi maupun konsolidasi dan melakukan “long march” ke Jalan HZ Mustofa sambil membentangkan kain putih bertuliskan kalimah Tauhid sepanjang puluhan meter.

Dan kelompok lain berpusat di depan Kantor NU Kota Tasikmalaya, Jalan dr. Soekardjo untuk mengantisipasi adanya massa aksi yang datang ke Kantor NU seperti yang terjadi di Solo.

 

Kelompok yang mengecam pembakaran berkumpul didalam Masjid Agung dan melakukan persiapan pra aksi dipimpin Ketua Almumtaz, Hilmi Afwan Hilmawan serta Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH Achef Noor Mubarok yang berpesan agar penyikapan peristiwa Garut disikapi dengan cantik tanpa mengeluarkan kata-kata kotor.

 

“Kalau pegadaian saja bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah, masa kita umat Islam yang memiliki Quran dan hadist tidak bisa.
Bila masalahnya karena dilakukan orang bodoh jangan diselesaikan dengan cara bodoh,” kata dia.

Ketua Almumtaz pun sama dan menegaskan bahwa isu pembakaran Bendera Tauhid ini telah menjadi isu international dengan adanya pernyataan sikap dari Palestina serta Suriah.

“Kita tidak ada kaitannya dengan ormas tertentu namun pada oknum tertentu. Mohon Berhati-hati apabila ada topi bertuliskan tauhid tidak jatuh berserakan untuk menghindari pemberitaan negatif,” ucapnya.

Dilain pihak, sejumlah santri dari Ponpes Haur Kuning Salopa, Ponpes Bahrul Ulum Awipari dan sejumlah aktifis muda NU seperti PMII dan IPNU dalam pengawalan Resimen Santri (Ressan) Ponpes Miftahul Huda Manonjaya berorasi menutup Jalan dr. Soekardjo.

Mereka sengaja berkumpul di depan Kantor NU untuk berjaga-jaga karena Kantor NU di Solo didemo oleh kelompok massa yang mengaku membela kalimat tauhid.

Baca Juga  Beredar Potongan Foto WA Oknum Karang Taruna Jabar Ancam Wahid Cs Ke Meja Hukum

Orasi pun silih berganti yang intinya bahwa insiden Garut sudah digoreng HTI yang berinfiltrasi memanfaatkan momentum hari santri. Termasuk aksi penyikapan yang mengatasnamakan membela kalimat tauhid sebetulnya ditunggangi HTI.

Menjelang sore, massa yang berkumpul didepan Kantor NU berduyun-duyun akan ke Masjid Agung dengan alasan akan Salat Asar ke Masjid kebanggaan warga Kota Tasikmalaya itu.

Namun karena berhadapan dengan massa yang sedang berorasi, ketegangan pun menjadi-jadi. Massa yang menjaga Kantor NU minta massa aksi yang di Masjid Agung tidak mengibarkan bendera yang mendompleng kalimat tauhid. Pasalnya siasat mereka saja dengan tujuan melegalisasi HTI.

Massa itupun mengaku warga NU juga dan meminta jangan ada provokasi karena semua cinta damai.

Beruntung tidak terjadi bentrok massa karena Kepolisian langsung sigap membentengi dua kubu massa. Termasuk saat ada mobil hitam yang masuk ke Jalan dr. Soekardjo dengan mengibarkan bendera HTI. (Doni/Miftah)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close