RagamSejarah

Dulu Masjid ini Menjadi Penentu Waktu Shalat di Tasikmalaya

MediaDesa.idTASIKMALAYA. Keberadaan bedug dan kohkol (kentungan) yang ada di Pesantren Al-Huda Cikalang telah ada sejak lama. Warga disini akrab menyebutnya “Masjid Cikalang Pasantren”. Dahulu bedug dan kohkol ini berada diatas menara Masjid, setinggi kira 20 meter, ini pula yang menjadi ketakjuban siapapun karena menyisakan pertanyaan bagaimana bedug dan kohkol itu diangkat keatas menara pada masa jaman kolonial Belanda. Berbeda dengan kondisi saat itu, mungkin jika terjadi sekarang itu adalah hal yang biasa saja.
Hingga sekitar tahun 1980 bedug dan kohkol masjid Pesantren Cikalang masih menjadi rujukan beberapa masjid yang berada disekitar Kota Tasikmalaya, bahkan konon azdan masjid agung tasikmalaya dilakukan terlebih dulu menunggu bunyi Suara bedug dan kohkol Masjid Pesantren Cikalang.

“Saat saya masih kelas 2 SD, ngabuburit dibulan ramadhan sering mampir ke alun-alun, dan sangat terdengar sekali suara bedug itu” jelas Aceng salah satu keluarga besar Pesantren Cikalang.

Saat ini bedug dan kohkol itu tidak lagi berada di atas menara, hanya tersimpan disamping masjid Al-huda, walau demikian masih terawat dengan baik.
Bedug raksasa ini berukuran cukup besar -+ berdiameter 1,25. Menurut cerita yang saya dengar langsung dari almarhum uwa, KH. Faqih yang pada th 1980-1990 biasa mengisi ceramah shubuh di radio RSPD, pungkas Aceng alias Acong.

Aceng menjelaskan bahwa bedug dan kohkol itu pada jaman dahulu (sebelum tahun 1960 sampai masa penjajahan) menjadi penanda datangnya waktu shalat bagi mesjid-mesjid lain disekitarannya di Tasikmalaya. “Katanya, mesjid Agung Tasikmalaya saja kalau hendak adzan magrib akan menunggu dulu bedug dan kohkol di Cikalang berbunyi. Kalau bedug dan kohkol pesantren Cikalang sudah berbunyi baru berani adzan, sedangkan jarak dari pesantren Al-Huda ke mesjid Agung lumayan jauh -+ 1,5 KM”.
Tak terbayang bagaimana kerasnya suara itu, sedangkan pada jaman itu belum ada pengeras suara. Tapi, ya, namanya juga jaman baheula, “yang jauh menjadi dekat, hati dan pikiran menjadi sikap, berbeda dengan jaman sekarang, yang dekat menjadi jauh, kata-kata berlainan dengan gerak kenyataan”. (Andi Ibnu Hadi)

loading...
Baca Juga  Mantan Bupati Garut Aceng Fikri Menikah Lagi, Istrinya lebih Muda
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close