OpiniPendidikan

Dunia Pendidikan Butuh Guru Yang Dinamis

Oleh: Najwa Tiara (Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIC Tasikmalaya)

Zaman moderen bukan berarti kita terhindar dari buta huruf. Pun jika sekarang masa Pandemi COVID -19 yang mengharuskan kita melakukan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun, jika melihat kebiasaan anak zaman sekarang telah terbiasa dengan gadget, tidak menutup kemungkinan untuk mengalihkan media pembelajaran ke digital yang lebih efektif menarik perhatian mereka untuk mengikuti pembelajaran daring.

Guru harus mampu membuat materi yang lebih mudah difahami dengan teknologi. Kemudian materi yang disampaikan pun lebih “ngena” sasaran kompetensi yang telah ditetapkan. Jadi, tidak hanya bertatap muka via Zoom yang sebenarnya kurang efektif jika hanya dijelaskan seperti biasa dilakukan di kelas dan terkesan sama saja bahkan bisa diakali oleh anak agar bisa menghindari PJJ tersebut.

Menurut penulis, yang terpenting itu bagaimana cara guru menyampaikan materinya hingga anak tidak ingin bergegas meninggalkan Kegiatan Belajar Mengajar dan tentunya tujuan utama adalah murid memahami materi yang telah disampaikan dan belajar menjadi hal menyenangkan walaupun itu di rumah.

DR. H. A. Zaki Mubarak menyampaikan dalam bukunya, Inspiring Factual Education, bahwa dasar pendidikan adalah TIME Menurut Tylerian yang berarti; Tujuan, Isi, Metodologi dan Evalusi.

Lanjutnya beliau memberikan trik sederhana mengajar;

1) Menentukan tujuan mengajar. Jika mengajar dengan gaya easy going maka akan dengan mudah memikirkan tujuan mata pelajaran yang tentunya sudah difahami, disederhanakan agar murid tidak merasa kesulitan dalam memahaminya.

2) Guru telah memahmi materi pun dengan penyampaian yang sesuai dengan pencapaian kompetensinya: Faktual (teori / dasar hukum), konseptual (pemahaman / pemikiran), procedural (langkah), dan metakognitifnya (praktek / psikomotorik). Materi yang disampaikan sesederhana mungkin agar dapat dipahami dengan mudah, tepat sasaran, dan menarik.

Baca Juga :  Hati-Hati HTI Memanipulasi Hari Santri

3) Guru dekat dengan murid secara emosional dengan membiasakan bertegur sapa, mengetahui namanya, konsep pembicaraan santai saat KBM yang membuat murid penasaran sekaligus tertantang agar murid secara psikologis siap menerima materi.

4) Evaluasi, memperhatikan proses murid selama KBM (Kehadiran) yang merupakan Authentic assessment. Kemudian fokus pada summative assessment (pencapaian kompetensi).

Sebenarnya Indonesia telah tersedia banyak fasilitas belajar yang sangat mampu menyelesaikan permasalahn ini. Seperti Aplikasi Bimbingan Belajar Ruang guru. Jadi, dengan memperkaya soft skill untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Bisa saja kita mempelajari dari fasilitas platform pembelajaran yang telah kita ketahui kemudian menjadikannya inspirasi sekaligus mengevaluasi penyampaian materi selama ini.

Apa saja Platform pembelajaran itu?

RUANG GURU

Platform pembelajaran daring yang memiliki banyak fitur yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di luar sekolah dengan menggunakan aplikasi Mobile (Gadget). Fitur utama dari platform ini adalah pembelajaran dilakukan dengan menampilkan video yang telah disiapkan oleh guru, lengkap dengan animasi yang menarik dan membuat materi lebih jelas dan mudah untuk dipahami siswa. Cara ini akan tepat jika diterapkan pada mata pelajaran bahasa inggris, membaca, menulis, dan berhitung.

Ruang Guru ini mengutamakan ketepatan sasaran kompetensi pendidikan Indonesia yang didirikan oleh Belva Syah Devara M.P.A., M.B.A yang berpengaruh di Asia Menurut Majalah Forbes.

Namun, apakah efektif bagi Kegiatan Belajar Mengajar?

Ya, tentu. Terutama bagi anak di bawah usia 11 tahun ini akan memotivasi mereka untuk semangat mengikuti pembelajaran dan proses komunikasi akan lebih efisien. Secara waktu pun tidak akan lama. Singkat, jelas, tepat sasaran, sehingga tak kalah menarik, evaluasi dilakukan dengan kuis singkat sebagai konfirmasi dari guru.

Baca Juga :  People Power dalam Pandangan Hukum

Hanya saja, terkadang efek suara berlebihan, fitur terlalu banyak yang kemudian belum tentu digunakan efektif, Evaluasi terlalu mudah dan kurang kreatif. Hal ini dapat dirancang ulang oleh guru agar evaluasi dapat meningkatkan rasa percaya diri anak, berani bersuara dan berani tampil.

Fasilitas lainnya seperti, adobe premiere, GoPro, Alight Motion, dan lain-lain yang dapat kita pelajari agar belajar itu mengasyikkan seperti yang dikatakan pak menteri Nadiem Makarim dalam interviewnya di acara CNN bahwa, “Belajar asyik itu bukan pilihan sekolah dan guru, melainkan memang sudah seharusnya membuat dan mewujudkan belajar itu asyik bagi anak didiknya.” Menteri Pendidikan dan Budaya saja sudah se-Open Mindset itu, mengapa kita masih jumud?

Jadikan diri kita selalu haus dengan ilmu dengan semangat menigkatkan kualitas diri. Semangat MERDEKA BELAJAR yang mengedepankan kemanusiaan dan kehendak anak. Prioritaskan hak anak dan buat mereka menjadi pembelajar seumur hidup.

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: