©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
Realita

Geliat Seniman Sunda yang Terpinggirkan

ARUS Modernisasi yang dimulai sejak puluhan tahun lalu di Tanah Air, tak urung membuat kesenian tradisional tanpa terkecuali alat musik khas Sunda, salah satunya Kendang mulai terdorong terpinggirkan. Para seniman pembuat kendangnya pun terancam punah.
Itulah dedikasi Kang Yaya, 62, warga Kampung Ranjeng, Desa Ciawang Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya, Jabar. Umurnya yang lebih dari setengah abad dihabiskan untuk melestarikan alat musik legendaris, warisan kesenian budaya adiluhung tataran sunda.
Kendang buatannya tak hanya dikenal di wilayah Tasikmalaya, tapi juga diminati berbagai kalangan di Tanah Air khususnya di Priangan. Bahkan, pesona suara kendang buatannya membuat grup orkes modern seperti dangdut tertarik menggunakan kendang karya Kang Yaya untuk dijadikan iringan musik modernnya. Kang Yaya, yang hingga saat ini, waktu luangnya tetap dipergunakan untuk melestarikan kesenian yang saat ini kurang diminati generasi muda, yakni dengan membuat kendang, dogdog, bododoran (melawak). Pria yang mendekati lansia, yang hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ini tidak menyangka pada kemudian hari dari kesenian Sunda hidupnyalah akan bergantung.
“Tapi, akhir–akhir ini sepi pesanan Kang,” Dadang 21, putra keempat Kang Yaya yang turut menjadi perajin Kendang kepada Media Desa, Jumat (11/5) sore.
Dalam beberapa tahun terakhir, pesanan sangat sepi. Kalaupun ada, dari perorangan dengan jumlah pesanan 1-3 set kendang. Biasanya, pesanan dengan jumlah itu hanya diperlukan untuk hiasan ruangan atau untuk pajangan saja. Walaupun dengan penghasilan tidak menentu, tetapi Kang Yaya bersama keluarganya sudah berkomitmen akan terus melestarikan Seni budaya Sunda yang mereka cintai. “Ini sudah jalan hidup kami sekeluarga,” jelas Kang Yaya.
Pada saat umur 15 tahun, Kang Yaya sudah akrab dengan kesenian sunda, khususnya bodor, drama dan musik tradisional Sunda. Menginjak usia 30, Kang Yaya mulai belajar membuat Kendang dari salah satu kawan se-propesinya, hingga sekarang. Saat membuat kendang, ia hanya membuat untuk koleksi yang jumlahnya hanya beberap set saja. Namun diluar itu Kang Yaya masih aktif mengisi undangan, seperti tetangganya yang menawarinya main untuk mengisi hajatan. Tawaran itu tak disia-siakannya sampai saat ini. Meski kemampuan ia tidak seperti saat muda yang lincah, tak urung pementasan bodor, tembang-tembang sunda buhun yang dimainkan dan dinyanyikannya bersama rekan-rekanmembuat warga sekitar kagum. Terhibur.
Terlebih, masyarakat tahu Kang Yaya kecil tak memiliki keturunan darah seniman dari orangtuanya. Bakat Kang Yaya mendapat dukungan masyarakat karna kepiawaiannya nge-bodor, dan bermain kendang. Dari situlah, tawaran mengalir deras padanya.
Seiring dengan perputaran waktu dan perubah zaman yang sangat pesat, dalam kurun puluhan tahun terakhir, permintaan dan pementasan seni musik tradisonal kendang tak seramai sebelumnya. Saat itu banyak pertunjukan kesenian alternatif yang mulai digemari masyarakat. Di antaranya; pementasan seni musik tradisonal, wayang, dan bodor. Seiring perubahan zaman, hampir semua kesenian tradisional semakin tergerus oleh budaya modern.
Masyarakat lebih minat mendatangkan musik elektronik daripada nonton wayang, musik tradisonal, maupun bobodoran. Walau demikian, sesekali masih ada warga yang memintanya bermain dalam berbagai acara hajatan. Mulai acara hajatan hingga pergelaran syukuran yang banyak dilakukan oleh masyarakat.
Namun, waktunya terbilang makin sebentar jika dibandingkan dengan periode masa mudanya. Pun walau demikian, harapannya pada masa mendatang pemerintah bisa merangkul seniman-seniman sunda dan menjadi pelopor pagelaran seni budaya sunda.
Ini dilakukan dengan harapan agar kelak tumbuh minat generasi muda untuk tetap melestarikan seni dan budaya leluhurnya. “Saya sangat ingin sekali dalam sisa umur saya, tetap bisa melestarikan seni dan budaya. Ya agar tidak punah di masa mendatang,” harapnya. []
Usep Ruyani – MediaDesa.id

Baca Juga  Karena PKH, Pemerintah Desa Jadi Hujatan Warga

Tinggalkan Balasan