NasionalOpini

Gerbang Desa, Desa Mengepung Kota dan Strategi Politik Pilgub Jabar

MediaDesa.id – Pada saat awal Uu ruzhanul Ulum menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya, Istilah Gerbang Desa (Gerakan Bangun Desa) mulai diperkenalkan kepada masyarakat sebagai program lima tahunan Kabupaten Tasikmalaya. Pengenalan program Gerbang Desa begitu massif dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, seperti dimobil angkutan umum prasa kata “Gerbang Desa” menjadi pemandangan sehari-hari penduduk Kabupaten Tasikmalaya. Walaupun nyatanya mereka tidak memahami secara utuh apa yang di maksud Gerbang Desa, mungkin saja prasa kata Gerbang Desa ini telah berdampak pada kesadaran masyarakat Kabupaten Tasikmalaya tentang adanya ketimpangan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Desa.
Gerbang Desa dipahami sebagai sebuah gerakan komprehensif, yakni gerakan mengoptimalisasikan pemanfaatan seluruh potensi Desa, baik potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusia, yang dipadu harmoniskan dengan gerakan masyarakat untuk bersama-sama membangun desanya masing-masing secara swadaya. Sementara itu Gerakan Bangun Desa di Kabupaten Tasikmalaya memiliki 5 (lima) program prioritas yang akan dilaksanakan yaitu :

  1. Peningkatan kesejahteraan, petani, buruh tani, nelayan dan aparatur desa.
  2. Peningkatan jalan Desa.
  3. Listrik Masuk Desa.
  4. Irigasi, air bersih perdesaan dan sanitasi lingkungan perdesaan.
  5. Telekomunikasi dan informasi masuk desa.

Lalu yang menjadi pertanyaan kemudian apakah kelima prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dibawah Kepemimpinan Uu sudah terwujudkan?. Tentu jawabanya tidak seluruhnya, atau bahkan tidak sama sekali. Fakta ini didukung dengan berbagai keluhan masyarakat tentang sarana tranportasi jalan menuju pelosok Desa di Kabupaten Tasikmalaya yang sangat buruk dan tidak adanya perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Desa. Seperti halnya kita saksikan berbagai keluhan masyarakat ini pada media online, media cetak lokal bahkan dimedia sosial.
Namunpun demikian rekam jejak kepemimpinan Uu sebagai Bupati tersebut, ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap kondisi elektabilitas Uu pada Pilbub Kabupaten Tasikmalaya di tahun 2016, dengan mengalahkan kotak kosong (Calon tunggal) Uu Ruzhanul Ulum terpilih kembali sebagai Bupati Tasikmalaya. Hal ini merupakan prestasi politik Uu yang sangat fantastis, dengan tanpa mewujudkan janji politik, Uu dapat membuat lawan politiknya enggan bertarung.
Kondisi demikian telah menuntun persepsi kita tentang kondisi sosio-politik masyarakat Kabupaten Tasikmalaya yang paradok, dimana masyarakat Kabupaten Tasikmalaya disatu sisi banyak yang tidak puas dengan hasil kepemimpinan Uu, tapi disisi lain Uu tetap menjadi pilihan mayoritas masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Kenyataan ini tentu tidak lepas dari strategi politik Tim pemenangan Uu dalam menangkap peluang kemenangan. Hal ini kemudian telah mengundang spekulasi asumsi berbagai pihak yang mana sentimen jargon politik dianggap telah berpengaruh positif terhadap kemenangan Uu. Diantara Jargon Politik yang dianggap penting pengaruhnya di ruang publik pertarungan politik Uu adalah Jargon “Gerbang Desa”, walaupun mungkin saja disamping itu Uu telah menggunakan sentiment “Keluarga Besar Pesantren Miftahul Huda”.
Kini Jargon Gerbang Desa bagi Uu kembali telah menjadi pilihan perangkat strategi politiknya dalam kancah perhelatan politik “Pilgub Jabar”. Sikap ini tentunya didukung atas hasil positif strategi tersebut saat memenangkan Pilbub Kabupaten Tasikmalaya di tahun 2016 silam. Seperti diwawancarai oleh sebuah media nasional Uu menyampaikan “Saya sudah membuat sebuah kesimpulan bersama Kang Emil sebagai ide dan gagasan kami sebagai pasangan Rindu”. Salah satu ide dan gagasan yang akan ditonjolkan pasangan Rindu dalam debat publik pertama Pilkada Jawa Barat yang lalu adalah program Gerbang Desa.
Pertanyaan kemudian adalah, mungkinkah jargon politik Gerbang Desa masih akan menjadi senjata ampuh kemenangan Uu di Pilkada Jabar ? Jawabanya mungkin saja iya bahkan juga tidak. Tetapi yang pasti Jargon politik Desa dalam sejarah budaya politik dunia telah teruji keampuhannya. Sebut saja konsep gerakan politik “Desa Mengepung Kota” dalam revolusi cina di abad 20 yang dipelopori oleh Mau Tze Tung yang telah mampu menggalang dukungan untuk meruntuhkan kekuasaan tirani Chiang Kaishek.
Bila Uu serius mengadopsi konsep “Desa mengepung kota” dalam jargon “Gerbang Desa” demi kemenangan perhelatan politik Pilgub Jabar, maka menurut Mao ada ada tiga syarat yang diperlukan agar strategi politik itu berhasil:

  1. Memiliki basis gegrafis politik yang aman dari gempuran lawan, serta adanya arus dukungan yang kuat dari penduduk lokal.
  2. Basis dukungan politik politik yang sulit terjamah arus informasi, sehingga memproteksi priksi masyarakat Desa tentang lawan politik yang bercokol di Kota.
  3. Diperlukannya satu tatanan ideologis politik yang sistematis, yaitu ideologi yang mampu membangkitkan kedasaran politik dan memimpin masyarakat Desa menuju satu arah perjuangan mereka.
Baca Juga  Presiden Jokowi Hadiri Harlah NU Ke 93

Pada kenyataannya kondisi sosial memang tidak berlaku universal, kondisi cina beda dengan Indonesia apalagi Jawa barat. Efektivitas suatu konsep strategi politik disuatu Negara/daerah tidak dapat menjadi rujukan utama dalam peristiwa politik yang sama. Konsep harus berjalan seiring dengan konteks, namun yang pasti masyarakat Desa Jawa Barat rindu akan pemimpin yang dapat membawa perubahan. (Andi Ibnu Hadi)

loading...

Pustaka :

https://taraju.tasikmalayakab.go.id/pages/detail/19-gerbang-desa, diakses pada tanggal 7 Juni 2018

https://regional.kompas.com/read/2018/03/12/19124951/pangkas-kesenjangan-kota-desa-uu-ruzhanul-tawarkan-gerbang-desa, diakses pada tanggal 7 Juni 2018

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close