NasionalRealita

Harapan Mama di Pasar Mama-mama

MediaDesa.idPAPUA. Tanah Papua Tanah Yang Kaya
Surga Kecil Jatuh Ke Bumi
Seluas Tanah Sebanyak Batu
Adalah Harta Harapan

Lirik diatas siapa yg tidak tahu. Ya. Lagu “Aku Papua” Ciptaan Prenky Sahilatua itu yg dipopulerkan oleh Edo Kondologit sangat menggambarkan bagaimana tanah Papua. Satu daerah yang kaya akan sumberdaya alam, parawisata kelas. Dari ungkapan indahnya tanah papua dalam lirik diatas ternyata tidak semua dapat dirasakan pula oleh warga asli papua. Bagi sebagian besar orang Papua mungkin lirik tinggalah lirik lagu tetapi nasib orang tak pernah dilirik.

Salah satu nasib yang kurang dilirik adalah tentang nasib para mama yang sehari-hari menggantungkan nasib hidupnya berjualan di pasar mama-mama. Sejarah mencatat bahwa berdirinya pasar mama-mama yang berada di Jl. Percetakan Negara Kota Jayapura itu, tidaklah mudah. Melalui perjuangan yg keras. Kita ketahui salah satu tokoh yg sangat vokal memperjuangkannya adalah Robert Jitmau (Rojit) yang meninggal pada 21 Mei 2016 yg penyebab kematiannya menyisakan beribu tanya.

Dua tahun silam setelah kematiannya Pasar Mama-mama yang diperjuangkannya rampung dibangun dan diresmikan oleh Wali Kota Jayapura pada tanggal 7 Mei 2018 dari dana Corporate Social Resposibility (CSR) BUMN. Pasar mama-mama dengan kapasitas penampungan sebanyak 298 pedagang sedangkan para pedagang berjumlah lebih dari 400 sehingga besar pedagang yg lain berjualan diteras-teras toko modern dan ada juga yang masih berjualan di pasar lama dengan fasilitas seadanya.

loading...

Pasar yang terdiri dari 4 lantai yang telah diatur peruntukannya, diantaranya untuk lantai satu di peruntukan untuk jualan basah, lantai dua untuk jualan kering, lantai tiga untuk penjualan makanan serta aksesoris dan lantai empat di peruntukan untuk tempat pelatihan. Dari keempat lantai tersebut hanya lantai pertama yg ada aktifitas berdagang sedangkan lantai dua dan seterusnya belum begitu efektif.

Baca Juga  Hari Ini Cawapres Sandiaga Uno Ke Tasikmalaya

Namun, diresmikannya pasar tersebut bukan berarti telah selesai pula permasalahannya. mulai dari status tanah pasar, pendidikan manajemen untuk warga pasar, fasilitas lapak dagangan yang kurang cocok bagi mama-mama karena agak kesulitan dengan meja tembok yang mengakibatkan harus berdiri padahal kebiasaannya selalu lesehan. Apalagi nasib para pedagang yang masih berjualan di luar lokasi pasar yang masih berserakan sepertinya luput dari perhatian pemerintah setempat.

Harapannya memang pasar tersebut kedepannya akan dijadikan pasar budaya/pariwisata seperti pasar di Jogjakarta, dll. Namun lagi-lagi belum ada perhatian khusus dari pemerintah setempat walaupun para pedagang melalui Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP) sudah menyuarakan itu. Akankah semua itu jadi kenyataan? (Miftah Farid)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close