Sastra

Hikayat Si Buta

MediaDesa.id

“Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, hanya karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas”

***
Semua yang ada di Pos Ronda itu pun lari berhamburan, kala Burhan mendadak histeris ketakutan ketika melihat sesosok lelaki paruh baya yang tiba-tiba muncul tepat dibelakang Kang Heru, dan kedua teman-nya yang saat itu sedang asyik bermain gapleh.
Dengan suara tercekik, Kang Burhan berteriak, “But.. but… butaaaa…!!” Teriak Burhan melompat dari Pos Ronda sambil berlari mundur dan tersungkur jatuh karena tersandung batu. Kedua temannya, Heru, Kang Dadang dan Kang Muhsin terperanjat pontang-panting lari tidak jelas arah.
Sementara Kang Heru masih diam terpaku, entah apa yang ada dalam jatinya. Iya mematung duduk bersila tak bergerak, tanganya masih memegang kartu gapleh dengan posisi sediakala saat seperti iya tengah main gapleh dengan kedua temannya. Hanya peluh yang nampak bercucuran di dahinya, dengan gurat raut wajah yang pucat. Mengisyaratkan akan ketakutan yang sedang iya rasakan. Tubuhnya tetap tegak, sembari mulutnya tak henti-hentinya komat-kamit memanjatkan doa.
Sedang Kang Burhan tertatih-tatih setengah berlari, nampaknya kakinya cidera ketika jatuh tadi. Tak khayal jalannya terseok-seok sambil memegang lututnya yang berdarah akibat benturan yang begitu keras.
Sosok paruh baya itu berperawakan tegak, berambut lurus dan panjang kusam memutih tak terurus. Iya mengunakan pakaian berwarna hijau tua yang terbuat dari kulit ular, kedua matanya buta. Ditangan kanan-nya memegang sebuah tongkat berkepala ular, di pundaknya tampak se-ekor monyet hitam kecil yang begitu buas. Cakarnya berwarna hitam berbentuk cekung kebawah, matanya nanar memerah sambil sesekali mengerang, se-olah-olah dia siap melompat dan menyerang Kang Heru yang sejak tadi diam terpaku.
Namun dengan usapan tangan si Buta ke kepalanya, si monyet itu pun kembali tenang dan diam.
“Bruk….!!! Tiba-tiba Kang Heru jatuh tersungkur tak sadarkan diri, suara pun kini hening. Kumat kamit yang sejak tadi Kang Heru panjatkan pun terhenti.

Tinggal suara lolongan srigala yang melengking membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saja yang mendengarkannya.
Angin berhembus semakin kencang, di iringi hujan rintik-rintik yang semakin membuat mencekam suasana pada malam itu.

***

Kesokan harinya berita itu pun tersiar keseluruh pelosok-pelosok kampung, sepanjang jalan warga berdesas-desus membentuk beberapa kumpulan kecil membicarakan tragedi yang dialami empat pemuda semalam.

Ada yang mempercayai dan menganggap ini adalah sebuah totonde. Totonde merupakan mitos tanah sunda yang sudah manjadi keprcayaan sebagian masyarakat sebagai tanda akan terjadinya sesuatu, baik bencana atau pun hal buruk lainya.
Ada pula yang mengangap itu adalah ganguan Jin, dan tidak sedikit pula banyak orang yang tidak mempercayai dengan kejadian yang terjadi semalam.
“Kang Heru… !!” Teriak Abdulloh sambil setengah berlari datang dari arah belakang menghampiri.
“Eh Kang ada apa?”. Sahut Heru sambil menoleh kesamping kanan. “Gak ada apa-apa kang, cuma mau tanya ini teh. Semalam Kang Heru pingsan ya di Pos Ronda? “.
“Iya..” Timpalnya datar. “Terus Kang apa yang Akang rasakan pada saat itu?”. Sambung Abdulloh dengan raut wajah penasaran sambil mengikuti disampingnya.
“Si Akang teh kumaha, yang namanya pingsan mah atuh kang, gak kerasa apa-apa.” Ujar Heru sambil menghentikan langkahnya sejenak.
“Iya, emang apa sih Kang, yang membuat Akang pingsan?”
“Ya mungkin, karena ketakuatan aja.” sahutnya kembali dengan mimik wajah yang mulai kesal.
“Lah kang Heru mah cemen, mun aya Abdulloh mah waktu malam. Udah saya hajar si buta teh, sok pake jurus apa. Cimande, cikalong. Sok lah Abdulloh mah gak takut.” Sahut Abdulloh berapi-api sambil memperagakan salah satu jurus silat kearahnya .
“Dia itu bukan manusia, mungkin aja bangsa jin atau makhluk halus sejenisnya. Udahlah mau ikut gak?” Ajak Kang Heru ketus.
“Kemana Kang?”.
“Kerumah Pak RT, disana ada Ustad Mahmud dan Ki Ibrohim Kuncen Galunggung. Kita akan membahas masalah yang semalam, soalnya sudah mulai meresahkan warga. Apa lagi ketika menjelang malam, warga banyak yang gak berani keluar.” Ujarnya sambil mempercepat langkah kakinya.
“Hayu atuh, siapa tau aja bisa ketemu Neng Dini anak-nya pak RT ya, kang.” Senyum jreng ala kuda nyengir Abdulloh pun mulai tampak.
“Huss.. Neng Dini udah ada yang mau ngelamar, pernikahannya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, kamu yang sabar ya”. Timpal kang heru sembari menepuk-nepuk pundak Abdulloh yang sejak tadi mengiringi langkahnya.
“Eitss… sebelum janur kuning melengkung dan mengering, Abdulloh akan memperjuangkan cinta Abdulloh.” Timpalnya lagi bernada pongah sembari menepuk-nepuk dada, sedang kan kang Heru hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Abdulloh yang mulai semakin aneh.
***
Malam telah menunjukan pukul 08.00, sesampainya disana terlihat beberapa orang yang sedang berjaga memakai pakaian hijau berseragam lengkap bak tentara yang akan siap tempur. Disamping celana kananya dilengkapi sebilas pentungan tumpul , sambil mundar-mandir lalu berujar kepada dua pemuda tersebut.
“Assalamu’alaikum Kang, silahkan masuk, Pak RT dan yang lainya sudah menunggu”. Sapa salah satu hansip yang sudah tua itu.
“Oh iya, hatur nuhun, yuk masuk Abdulloh.” Sembari menarik sarung Abdulloh yang di pakaikam di leher seperti Bang Pitung jagoan betawi. Abdulloh pun ikut masuk tanpa sepatah kata mengikuti langkah Kang Heru.
Disana sudah ada Pak RT, disamping kirinya iya di dampingi Bu Tini istrinya. Kursi sebelah kanan terlihat Ki Ibrohim dan Ustad Mahmud yang tengah berbincang-bincang kecil sambari melinting tembakau.

Baca Juga  Sisi Air Mata dan Pengharapan Gadis Desa

Assalamu’alaikum, ucap salam kami.
“Walaikum salam”. Sahut mereka.
“Eh kalian, ayo silahkan duduk”. Ucap Pak RT sembari mempersilahkan Abdulloh dan Kang Heru duduk.
“Iya makasih Pak.” Timpal Heru sembari duduk di kursi kecil, namun di paksakan untuk bisa duduk berdua.
Sedang Abdulloh tak memperdulikannya, kepalanya masih nengok-nengok ke arah dapur seperti tengah mencari sesuatu.
“Setttss.. cari apa kamu, jangan malu-maluin ah.” Tanya Kang heru dengan nada pelan ke arah telinga kanan Abdulloh.
“Neng Dini Kemana ya kang, kok gak ada”. Timpalnya sembari mengaruk-garuk kepala.
“Eh kita kesini itu mau membahas kejadian semalam, bukan mau mencari Neng Dini.” Ucap Kang Heru yang masih menggunakan nada pelan ke arah telinga Abdulloh.
“Dini.. Dini…!! tolong ambilkan air minum lagi, untuk kang Heru dan kang Abdulloh”. Ujar Pak RT setengah berteriak, memanggil anaknya yang tengah sibuk mempersiapkan makanan ringan untuk beberapa tamunya.
“Iya Bah, sebentar”. Jawab dini dengan nada datar namun lembut, sementara Abdulloh, memberikan senyum jreng ala kuda nyengirnya lagi.
“Ya sudah, sambil menunggu yang lain kita mulai saja obrolannya.” Ajak Pak RT sembari meminum teh hangat yang sudah di sediakan putrinya.
“Dari Ustad Ibrohim, silahkan, apa tanggapannya tentang kejadian semalam yang membuat geger kampung kita ini”. Timpal lagi Pak RT yang memberikan kesempatan untuk Ustad Mahmud bicara mengemukakan pendapatnya.
“Assalamu’alaikum wr.wb….” ucap salam pembukaan Ustad Mahmud yang di ikuti pula salam riuh dan serempak oleh mereka yang ada di sana.
“Sebetulnya agak berlebihan, jika kita menganggap hal ini merupakan peristiwa besar. Karena di jaman sekarang, mitos yang pernah melagenda di era 80-an itu kini sudah mulai terkikis oleh kemajuan jaman yang sudah serba ilmiah.
Akan tetapi yang saya takutkan, masyarakat sudah mulai melakukan tindakan-tindakan kemusyrikan yang tentunya sangat bertentangan dengan ajaran agama kita.” Tuturnya.
“Kemusyrikan bagaimana Pak Ustad?”. Timpal kang Heru dengan raut wajah serius.
“Akibat dari ketakutan, biasanya dijadikan senjata oleh Bangsa Jin untuk meminta sesuatu pada orang-orang yang memang berhasil iya takuti. Contoh misalnya, si Jin akan meminta sesajen setiap malam jum’at kliwon. Jika masyarakat tidak mau menuruti, mereka akan diancam untuk di takut-takuti dan di teror. Ditambah lagi biasanya mereka meminta sesuatu hal yang memang tidak memberatkan masyarakat, agar terkesan mudah dan gampang untuk melaksanakan. Namun secara tidak sadar, kita sudah terjebak dan melakukan suatu kemusyrikan yang tentunya dibenci oleh Allah.” Tuturnya sambil sekali-sekali memutar tasbeh yang selalu iya gengam.

“Lantas, apa yang harus kita lakukan Ustad untuk mencegahnya?”. Tanya Pak RT yang sekarang sudah agak serius setelah mendengar penjelasan Ustad Mahmud.
“Kalo menurut saya, kita galakan lagi pengajian. Yang tadinya satu minggu sekali, kita tingkatkan menjadi tiga sampai empat kali dalam satu minggu. Fungsinya agar kita slalu mengingatkan masyarakat tentang bahayanya hal ini.”
“Iya Pak Ustad, nanti kita bicarakan lagi, jika semua warga telah berkumpul.”
Tak beberapa lama kemudian, datanglah Neng Dini membawa dua gelas teh hangat dan dua piring makanan ringan.
“Silahkan diminum Kang Burhan, Kang Abdulloh. Mumpung masih hangat tehnya.” Ucap dini sembari memberikan secunging senyum, lalu kembali lagi kedapur.
“Kang-kang, senyumnya. Subhanallah, membuat jantungku berdebar-debar”. Ucap Abdulloh, sembari memandangi Neng Dini yang berlalu ke arah dapur. Sementara Kang Heru hanya terdiam dan tak menangapi Abdulloh yang sedang berbunga-bunga itu.
“Oh, iya, Silahkan Nak Abdulloh dan Heru, diminum tehnya.” Sambut Bu Tini mempersilahkan Abdulloh dan Heru untuk minum teh hangat buatan Neng Dini anaknya.
“Ya Bu, hatur nuhun.” Timpal Abdulloh sambil meminum segelas teh hangat.
“Oh iya, sekarang saya persilahkan kepada Pak Ibrohim selaku juru kuci Galunggung, untuk memberikan pendapatnya.” Sambung Pak RT mempersilahkan kepada Ki Ibrohim bicara.
“Terima kasih kepada Pak RT, karena saya sudah di undang kesini. Hadirin yang saya hormati, memang ada hal positif sekaligus negatif dengan kejadian ini jika kita cermati.
Hal positifnya, pertama, kita teringatkan oleh budaya serta tokoh-tokoh kita terdahulu yang memperjuangkan bangsa ini. Serta para tokoh dongeng yang melagenda tersebut. Dongeng yang slalu menjadi topik pengantar tidur kala diceritakan orang tua kita saat kita masih anak-anak.Yang saat ini sudah mulai terlupakan oleh anak-anak dan cucu-cucu kita di masa kini. tentunya ini suatu kemunduran untuk bumi sunda. Baik dari segi budaya, bahasa dan kebiasaan. Kita sudah mulai condong dan menganut paham barat. Yang cenderung tidak menggunakan filter, baik norma agama dan kesusilaan yang kita pegang. Tentunya ini tidak selaras dengan budaya kita yang ke timuran, serta orang-orang sunda yang terkenal sopan santun dan hanap asor. Anak-anak kita lebih membanggakan pahlawan hayalan-hayalan imajinasi piktif kaum barat, seperti Batman, Supermen dariapa tokoh pahlawan dalam dunia dongeng kita seperti Petruk, Gareng dan Gatot kaca.”Tuturnya, sambil sekali-sekali menghisap tembakau yang sejak tadi iya pegang.

Baca Juga  Begal

“Lalu hal negatifnya apa Ki?”. Sahut salah satu warga yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
“Hal negatifnya ya itu tadi, yang sudah dijelaskan oleh Ustad Mahmud. Mengarahkan dan menggiring kita kepada perbuatan musyrik.” Timpal lagi Ki Ibrohim.
“Ki bisa jelaskan sedikit, apakah si Buta itu dongeng atau mitos. Atau apa Ki?”. tanya Kang Heru yang sejak tadi memperhatikan Ki Abdulloh.
“Kalo yang saya tau kisah Si Buta dari Gua Hantu itu hanya dongeng, namun kisahnya tenar ketika di era tahun 80-an di angkat ke layar lebar, diawali oleh dendam yang tak terbalas. Nama aslinya adalah Barda Mandrawata, dia adalah seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar. Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas. Paksi Sakti Indrawata, ayahanda Barda sekaligus ketua perguruan, menantang duel Si Mata Malaekat. Namun, ia tewas.
Barda yang merasa kalah jago dari si pembunuh pergi meninggalkan desanya dan menyepi di sebuah gua untuk memperdalam ilmu silat. Ia ingin membalas dendam. Berkaca pada musuhnya, ia berupaya mempelajari ilmu membedakan suara yang tak tergantung pada mata.
Pada suatu hari, pemuda yang dibakar dendam itu mengangkat goloknya menyilang sejajar dengan mata. Digerakkannya golok itu menggores sepasang matanya. Sejak itu Barda menjadi buta. Tapi, menjadi buta ternyata membuatnya lebih tangguh. Kepekaan nalurinya justru menjadi jauh lebih tajam karena terbebas dari indera penglihatan. Kesaktian ini membuat Barda bertekad menuntaskan dendamnya pada Si Mata Malaekat.” Tutur ki Ibrohim menjelaskannya dengan detail.
“Itu yang saya tau. Sambung Ibrohim, sambil iya menyedot tembakaunya kembali.
“lalu Ki, apa si Mata Malaikat berhasil di bunuh oleh Si Buta?”. Tanya lagi Heru dengan kerut wajah serius.
“Iya, Si Mata Malaekat tewas di tangan Barda. Dendam terbalas sudah. Tapi, cerita justru baru dimulai. Tambatan cintanya, Marni yang jelita, telah menjadi isteri orang, meninggalkan luka di hati Barda. Barda alias Si Buta dari Gua Hantu yang kini tampil gagah dengan setelan baju kulit ular berikut tongkat yang didapatnya dari gua tempatnya menempa diri, memutuskan hengkang meninggalkan kampung halamannya. Ia berpetualang ke berbagai penjuru Nusantara demi menumpas kejahatan.” Tuturnya lagi, sembari memakan pisang goreng yang sudah disiapkan oleh Neng Dini.
“Apa Ki Ibrohim tau siapa nama monyet yang selalu setia menemani si buta yang ada di pundaknya?” Timpal Kang heru lagi.
“Kalo gak salah namanya Wanara, monyet cerdik yang setia dan ganas itu.”
“Ya betul wanara.” Ucapnya mengulang untuk menegaskan.
“Nah hadirin, yang semalam kalian lihat itu bukanlah Si Buta yang ada dalam dongeng. Mungkin saja itu adalah bangsa Jin yang akan mempengaruhi iman kita. Jadi kita jangan takut, serahkan saja semuanya kepada Allah s.w.t, mintalah perlindungan kepadanya, dan lebih takutlah kepada Allah daripada makhluknya. Karena setangguh dan sekuat apa pun, dimata Allah tidak ada sejentik jari pun ilmu yang sanggup menandinginya”. Tutur Pak RT menjelaskan sambil menutup acara. (Usep Ruyani)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close