NasionalOpiniSejarah

Historis Sejarah Panjang Pembebasan Palestina dan Nyinyiran Elit Politik tak Beretika

MediaDesa.id – Menanggapi cuitan salah satu elit terkait kunjungan yang berhujung Polemik yang dilakukan Gus Yahya Staquf ke Israel dalam memenuhi undangan American Jewish Committee atau AJC Global Forum-Fadli Zon, seperti seolah ia menuai kemanfaatan untuk menyampaikan apologi politiknya dengan meneyentuh situasi tersebut untuk dilontarkan dalam bentuk nyinyir yang menggelikan. Menurut Fadli Zon dengan ringan tanpa mempertimbangkan akan imbasnya terhadap aspek lain yang akan memanaskan tensi politik di negeri ini, secara frontal menyatakan “Kehadiran Gus Yahya disana memalukan bangsa Indonesia karena tidak sensitif terhadap bangsa Palestina”.
Seolah meyakini, bahwa Gus Yahya telah memalukan bangsa Indonesia tanpa terlebih dahulu melakukan pengakajian sejarah serta menempuh proses tabbayun layaknya seorang muslim yang baik. Dengan prilaku seperti itu, nyatalah etika berpoltiknya telah kabur oleh kepentingan sesaat, dan saya meyakini nilai-nilai luhur etika sebagai bangsa bermartabat telah kembali ternodai oleh mulut oknum elit tersebut. Padahal perjuangan seseorang, tidaklah bisa hanya di maknai dengan hanya melalui peperangan dan kekerasan, baru bisa dikatakan sebuah perjuangan hakiki. Pemikiran ini hanya akan mempersempit makna perjuangan itu sendiri, karena bila kita berkaca berdasarkan historis perjungan kemerdekaan Indonesia, para penggerak kemerdekaan dahulu nyaris diwarnai oleh gerakan-gerakan di segala lini. Seperti halnya yang bergerak dalam politik yang dilakukan oleh Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, Oemar Said Tjokroaminoto, Samaun dan masih banyak lagi para pejuang yang memiliki peran penting didalam memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur politik praktisnya. Semua harus berbanding lurus dengan situasi, posisi dan keadaan. Tidak bisa semerta-merta begitu saja melalui jalur peperangan dan penekanan secara masif tanpa adanya dukungan politik yang sistematis dan progresif. Sebab bila kita berkaca pada peta sejarah panjang didalam memperjuangkan tanah Palestina yang dilakukan oleh negara-nagar Arab, maka akan nampak potret buram lantaran kekalahan telak beruntun terus menerus didalam melawan Israel. Dalam Perang Arab-Israel Pertama misalnya, ketika awal mula pendirian negara Israel 14 Mei 1948 di bawah pimpinan David Ben Gurion, aliansi negara Arab takluk di hadapan Israel. Dalam perang yang berlangsung selama hampir 10 bulan itu (sejak 15 Mei 1948 hingga 10 Maret 1949), pasukan Yordania, Mesir, Suriah, Irak dan Arab Saudi bergerak ke Palestina untuk menduduki daerah-daerah yang diklaim sebagai wilayah ‘negara Israel’. Ada sekitar 45 ribu tentara yang dikerahkan oleh negara-negara Arab tersebut pada waktu itu. Sementara, di pihak Israel sendiri awalnya hanya diperkuat oleh 30 ribu prajurit, namun pada Maret 1949 meningkat jumlahnya menjadi 117 ribu tentara. Perang Arab-Israel Pertama ini berakhir dengan kekalahan di pihak negara-negara Arab. Menurut catatan sejarah yang penulis temukan, jumlah tentara Arab yang gugur mencapai 7.000 orang. Perang itu juga menewaskan 13 ribu warga Palestina yang tidak berdosa. Di samping itu, berdasarkan hasil penghitungan resmi PBB, ada 711 ribu orang Arab yang menjadi pengungsi selama pertempuran berlangsung.
Sebagai akibat dari kemenangan Israel tersebut, setiap orang Arab yang mengungsi selama Perang Arab-Israel Pertama, tidak diizinkan untuk pulang ke kampung halaman mereka yang kini sudah diklaim Zionis sebagai wilayah negara Israel. Oleh karenanya, para pengungsi Palestina yang kita jumpai hari ini adalah keturunan dari orang-orang Arab yang meninggalkan tanah air mereka ketika terjadinya perang 1948-1949. Perjuangan bangsa Arab tidaklah sampai disitu, perang Arab-Israel kembali lagi meletus ketika Mesir melakukan nasionalisasi terhadap Terusan Suez pada 1956. Kebijakan yang digawangi oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu mendorong Israel untuk menginvasi Semenanjung Sinai, sehingga menyebabkan peristiwa yang kita kenan sebagai ‘Krisis Suez’ dan akhir pada perang tersebut mengalami kekalahan kembali.
Karena hal itu berakhir dengan kesepakatan bahwa Mesir harus menerima secara pahit untuk membayar jutaan dolar kepada Suez Canal Company—selaku pemegang otoritas Terusan Suez sebelum dinasionalisasi oleh Presiden Nasser.
Pada dekade berikutnya, hubungan Israel dengan negara-negara tetangga Arab tidak pernah sepenuhnya normal. Menjelang Juni 1967, ketegangan antara Mesir dan Israel kembali meningkat. Mesir memobilisasi pasukannya di sepanjang perbatasan Israel di Semenanjung Sinai. Sementara, Israel meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap lapangan udara Mesir pada 5 Juni. Peristiwa itu menimbulkan Perang Arab-Israel Ketiga yang berlangsung selama enam hari.
Dalam perang tersebut, Mesir juga dibantu oleh sejumlah negara Arab lainnya, yaitu Yordania dan Suriah. Di samping itu, Arab Saudi, Kuwait, Libya, Maroko, Lebanon dan Pakistan juga ikut mendukung Mesir dalam pertempuran tersebut. Hasilnya, Mesir dan koalisi negara-negara Arab kembali menelan kekalahan. Menurut catatan, ada sekitar 19 ribu tentara Arab yang hilang atau gugur di medan perang kala itu.
Meski berulangkali menderita kekalahan, upaya yang dilakukan Arab Saudi, Mesir, Yordania, Suriah, Irak, dan Lebanon untuk membela Palestina hingga kini masihlah bergelora. Dari dahulu negara-negara muslim telah menunjukkan betapa tingginya rasa solidaritas mereka sebagai sesama Bangsa Arab, namun karena tidak terbangun kekuatan politik secara kolektif, sehingga menyebabkan koalisi militer berkekuatan besar pun tidaklah dapat menggoyangkan kedudukan Israel. Catatan sejarah tersebut menjadi ironis, bila hari ini masih saja ada sekelompok masyarakat yang masih menghendaki peperangan dengan keadaan negara-negara Islam yang tengah lemah dan bercerai-berai. Hal ini diperparah lagi oleh elit yang entah berantah dasarnya apa, dengan ringan menyepelekan nilai-nilai diplomasi sebagai jalan alternatif untuk membuka akses perjuangan yang lebih luas. Seharusnya dengan kedatangan Gus Yahya Staquf ke Israel, menjadi angin segar untuk memprogres kembali perjuangan yang telah tumpul lantaran rentetan kekalahan di masalalu.
Tentu tidak terlepas dari segala kemungkinan, namun demikian, itu tidak lantas ia bisa seenaknya berstatmen tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan dampak dari ucapannya. Kehadiran
Gus Yahya kali pertama, ini juga sebanarnya pernah dilakukan Gus Dur, ia jadi pembicara dalam forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC). Walau pun Gus Yahya nampak cukup nekat mau datang ke Israel, namun bukanlah tanpa pertimbangan dan perhitungan yang matang. Walau pun KH. Ma’ruf Amin selaku Rois Am PBNU menyatakan bahwa NU tidak mendukung Gus Yahya jadi pembicara di Israel, KH. Said Aqil selaku ketua PBNU juga menegaskan kedatangan Gus Yahya ke Israel atas nama pribadi, bukan NU. Ini tidak lantas kita menyalahkan Gus Yahya, karena kepedulian dan keberaniannya yang langsung menunjukkan anak panahnya ke jantung Israel seharusnya di apresiasi dan menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain yang menghendaki penyelesaian sengketa Israel-Palestina tanpa ada lagi korban jiwa yang berjatuhan. Walaupun di tengah situasi politik yang memanas, yang barang tentu ini akan menjadi bahan gorengan sedap bagi mereka yang tidak sepaham dan sejalan dengan NU lantaran kemesraannya bersama pemerintah, ini tidak sedikit mengurungkan niat dukungan kita kepada langkah-langkahnya didalam memperjuangkan hak-hak Palestina. Bagaimana pun peliknya situasi tersebut, penulis pribadi kagum kepada beliau yang tidak risau ketika para petinggi NU terlihat kurang mendukung kunjungannya ke Israel, begitu pun pemerintah Indonesia yang tidak merestuinya. Namun toh secara eksplisit, hal demikian tidak nampak pertentangan yang begitu keras baik dari NU sendiri mau pun dari pihak pemerintah. Dari sini sebenarnya persoalan telah tuntas dan tidak perlu diperdebatkan kembali, tinggal kita menunggu hasil dari perkembangan pertemuan tersebut secara bijak.
Namun tidak demikian nyatanya, framing yang terlahir dari sang pembenci memang kejam.
Mereka dengan tanpa hati menghujat dengan kasar dan keji, sehingga melupakan siapa yang ia sedang hujat, dan lupa siapa ia yang sedang menghujat habis-habisan.
Melalui berbagai media, mereka mebagikan informasi ke tengah masyarakat secara kejam dengan banyaknya etika-etika jurnalis yang di injak dan di langgar. Bahkan ada salah satu media yang dengan frontalnya dalam memberitakan Gus Yahya sebagai pembohong publik lantaran sama sekali tidak menyinggung Palestina terkait kedatangannya ke Israel, walau pun tanpa terlebih dahulu mendalami konteksnya persoalannya. Padahal hemat penulis, maksud yang dituju tidaklah harus di jelaskan secara jelas. Dengan kedatangannya ia kesana pun bisa menjelaskan walau pun tidak secara terang-terangan, tetapi pesannya cukup jelas; yaitu ajakan menebar kasih sayang.
Di tambah dengan respon positif pihak Israel yang menerima dengan lapang ajakan Gus Yahya untuk melakukan rekonsiliasi, tentu ini terlahir atas dasar sama-sama memiliki itiqad untuk berdamai. Inilah yang kemungkinan dijadikan landasan kuat Gus Yahya dalam menyikapi terkait konflik Palestina-Israel. Solusi moderat ini memang kesan mendua dan tidak tegas di kalangan Islam yang biasa lantang menyuarakan Israel haruslah enyah sama sekali dari tanah Palestina, namun dengan pertimbangan realita politik beserta medan yang ada, nyatanya Gus Yahya lebih memilih jalan tengah daripada harus menyerukan kembali perlawanan secara kasar namun tidak memiliki ke starategisan.
Kekejaman media mainstream
yang tidak sejalan dan serat akan kepentingan itu tidak saja sampai disitu, para media terus menggoreng setiap statmen dengan apik agar nampak Gus Yahya bukan hanya menyakiti umat Islam lantaran kepetusaannya yang menghadiri undangan pihak Israel, melainkan mereka pula menganggap bahwa Gus Yahya telah sesat dan menodai kitab sucinya sendiri– karena telah menganggap bawa Al-Quran bisa dirubah sesuai dengan perkembangan jaman. Padahal, ia hanya menekankan harus ada interpretasi yang baru terutama ayat yang berkaitan dengan berasbabun nuzul dan hadits yang berasbabul wurud. Seperti ayat-ayat dan hadits yang membahas tentang perang dan jihad–dalam kondisi perang di medan tempur misalnya, tidak bisa di gunakan begitu saja diluar peperangan, sebab bila dipaksakan akan terjadi ke dholiman atau yang kita kenal dengan war criminals atau dalam istilah barat ialah tindakan terrorist. Jadi secara tidak langsung, beliau mengajak kepada seluruh umat muslim dunia untuk lebih memahami kaidah-kaidah tafsir, manhaj-manhaj didalam menginterpretasikan ayat dan hadits dalam memaknai perjuangan dan jihad itu sendiri. Juga untuk agama Yahudi, dia mengajak untuk kembali ke ajaran kitabnya masing-masing dan menggunakannya pada setiap aspek kehidupan, karena setiap agama sudah pasti mendorong ke arah kebaikan. Maka atas dasar itu, terciptalah yang kita harapkan bahwa masyarakat dunia bisa kembali memiliki rahmah, dan menaruh akan pentingnya Rahmah (kasih sayang) sebagai jalan utama demi tercapainya rekonsoliasi antara negara-negara dan bangsa yang tengah bertikai. Dari sini sebetulnya dapat kita pahami, bahwa segala bentuk penindasan atau kebiadaban yang terjadi di belahan dunia, termasuk penindasan rakyat Palestina itu lantaran mereka tidak lagi memiliki rahmah didalam jatinya. Maka sebagai masyarakat yang masih waras, serta peduli, tentu bentuk kejaliman ini tidaklah boleh diberikan jalan yang mudah tanpa melalui proses perlawanan sengit. Maka penulis dalam hal ini, mengajak kepada seluruh masyarakat, baik dari intelektual seperti pelajar, mahasiswa serta kelompok masyarakat muslim lainnya untuk bahu membahu melakukan perlawanan terhadap segala bentuk ketidak sewenangan yang dilakukan para elit untuk menjatuhkan lawan politik dengan menghalalkan segala bentuk cara. Terkhusus mereka para santri-santri yang masih memegang teguh penghormatan kepada Kiyai, harus bisa berkontribusi dalam menjadi penyeimbang terkait maraknya informasi dan berita yang melemahkan semangat perjuangan dan kebangsaan kita. Serta demi peran Indonesia dalam pemeliharaan perdamaian yang telah diamanat didalam pembukaan UUD 1945, yaitu dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilaan sosial.
Tetaplah menjadi benteng terdepan dalam mengawal para tokoh serta ulama kita yang sedang berjuang menyampaikan pesan-luhur perdamaian, melalui jalan santun dan beradab namun cerdas dengan tanpa menyinggung kebiadaban Israel ke Palestina walau pun memang begitu adanya. Namun bagaimana pun, melakukan perlawanan dengan kasar dan brutal terhadap kezhaliman tidaklah dibenarkan oleh agama manapun. Dalam skala perjuangan ini, tidaklah cukup bila hanya melakukan demo serta teriak-teriak di jalan-jalan saja, melainkan bentuk nyata strategis dan terukur tanpa mengedepankan respon konfrontatif harus di prioritaskan. Sebab bila melihat respon Israel dalam melakukan pembalasan, ia akan lebih bengis lagi terhadap bangsa Arab khususnya Palestina, dan seharusnya ini menjadi pertimbangan bila kita ingin bertindak dan melalakuan suatu pembelaaan terhadap hak-hak Palestina yang telah di langgar oleh Israel. (Usep Ruyani)

Baca Juga  Hati-Hati HTI Memanipulasi Hari Santri
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close