©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
Inspiratif

Imat, Petani Muda yang Menginspirasi

Seberapa baik masa depan pertanian di Indonesia? Jika menengok statistik regenerasi pertanian tanah air, sebenarnya akan nampak sebuah gambaran suram. Menurut data sensus pertanian 2013 yang kami temukan dari hasil penelusuran, diketahui bahwa 61,8 persen petani berusia di atas 45 tahun dan hanya 12,2 persen saja yang berusia di bawah 35 tahun. Khusus untuk petani tanaman pangan sebanyak 47,57 persen berusia di atas 50 tahun.
Sementara itu, dari penelitian yang dihelat para peneliti, salah satunya yang dilakukan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Kajian Strategis Kebijakan Pertanian (KSKP) yang melibatkan 160 responden yang merupakan keluarga petani baik petani padi maupun hortikultura di empat Kabupaten menunjukkan, regenerasi para petani di masa depan semakin terancam.
Penelitian itu menunjukkan, 54 persen responden anak petani hortikulutra mengaku tidak ingin menjadi petani. Sementara 63 persen anak petani padi mengaku tidak ingin dan berminat meneruskan orang tua mereka menjadi petani.
Namun, dari gambaran tidak menyenangkan potret pertanian kita, ternyata masih ada secercah harapan, untuk melecut anak muda yang berada di desa, khususnya mereka yang terdiri dari keluarga petani untuk terjun ke pertanian. Misalnya, tekad yang ditunjukkan Rohimat (20 tahun) warga kampung Ciasa, Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Panggil saja Imat, Imat adalah anak ke-1 dari 4 bersaudara, ayahnya adalah petani tulen dengan tingakat pendidikan Sekolah Dasar (SD). Lantaran ekonomi yang membelit keluarganya, membuat Imat mengikuti jejak ayahnya untuk memutuskan tidak menyelesaikan sekolah yang selama ini oleh pemerintah digambar gemborkan untuk wajib belajar 9 tahun, sebagai upaya pemerintah didalam mengentaskan kemiskinan yang sudah menjadi salah satu masalah terbesar di negeri ini. Namun, dia tetap bertekad menjadi petani, meneruskan usaha ayahnya, meski petani kerap digambarkan kumuh dan suram. Imat, tidaklah berkecil hati dan tetap melanjutkan cita-citanya menjadi petani.
“Bertani adalah pekerjaan mulia, menentramkan, dan jauh dari korupsi” kata Imat menjelaskan dengan polosnya. Dengan menjadi petani, dia ingin sekaligus meneruskan pekerjaan orangtuanya jika mereka sudah tua nanti. “Saya tidak ingin lahan pertanian milik orang tua (yang tidak lebih dari 0,5 Ha) milik orangtuanya dialih fungsikan atau dijual untuk hal lain,” tegas Imat melanjutkan.
Tekad seorang pemuda tanggung ini memang unik. Pasalnya, banyak anak petani yang justru merasa jatuh gengsi jika jadi petani. Seorang anak ketua kelompok tani di desanya misal, dengan tegas mengatakan, tidak tertarik jadi petani. Dia bercita-cita bekerja di bidang industri, atau merantau ke ibu kota. “Kalau lihat bapak bertani itu melelahkan, kotor, dan penghasilan kecil, nggak menentu. Kalau di pabrikkan jelas, rapi, dapat gaji,” tegasnya.
Tetapi bagi Imat lain halnya, pertanian dan juga regenerasi petani untuk pertanian tetap merupakan hal yang sangat penting. “Setidaknya jika pemuda masa kini semakin enggan menjadikan petani sebagai pekerjaan utama, dan merasa malu untuk menjadi seorang petani, namun harusnya tetaplah bertani sebagai pekerjaan sampingan,” Bagi Imat pribadi, bertani itu melatih diri untuk bersabar dan bekerja keras. “Bukankah nenek moyang kita dahulu adalah petani? Salah bila ada yang mengatakan pelaut, sebab kita tidak tinggal di pesiran!” Tungkasnya.

Baca Juga  Air Ajaib Agar Ketupat Jadi Enak

Usep Ruyani – MediaDesa.id

1 Comment

Tinggalkan Balasan