Islam Transformatif: Sebuah Wacana Dalam Membangun Relasi Dengan Tuhan dan Lingkungan

oleh -

Oleh: Yoga Ahmad Pauji (Ketua Umum HMI Cabang Tasikmalaya Periode 2019-2021)

Islam diturunkan kepada Muhammad SAW sebagai suatu ajaran agama yang utuh dan tidak setengah – setengah, yang kemudian untuk dipelajari oleh manusia agar bisa menjalankan amanahnya di bumi sebagai khalifah fil ard. Islam sebagai suatu agama yang memiliki nilai – nilai universal juga disaat yang bermasaan menjadi agama yan rigid. Nilai – nilai keuniversalan islam tidak hanya ditujukan kepada pemeluknya saja melainkan untuk seluruh makhluk yang Tuhan ciptanakan di muka bumi. Tapi perlu diketahui bahwasanya doktrin – doktrin islam itu bersifat rigid yang tidak memungkinkan untuk manusia mengubahnya.

Perlu diketahui pula bahwasanya peradaban ibarat ban yang selalu berputar dan tidak dapat berhenti, keberhentian sebuah peradaban adalah awal mula kehancuran dunia secara total (kiamat). Sifat dari peradaban adalah perbaikan dan kebaruan. Maka dari itu perputaran peradaban adalah perputaran kearah perbaikan dengan menemukan sesatu yang baru dimana sebelumnya belum pernah diketahui.

Jika kita kaitkan antara islam dan perkembangan peradaban maka disaat yang bersamaan kita akan melihat sesautu yang rigid bercampur dengan sesuatu yang baru. Namun, dalam hal ini islam tidak dipandang sebagai suatu agama yang rigid, melaikan suatu tatanan nilai yang universal. Banyak sekali problematika yang terjadi setelah rasul wafat. Problematika itu meliputi semua sektor. Dari mulai sektor fiqh, tasawwuf, konsep dalam bertauhid, ekonomi, sosial budaya dan juga politik.

Salah satu cita – cita islam yang diamanhakan kepada Muhammad adalah membentuk dan mengubah keadaan masyarakat kepada cita – cita islam, yaitu rahmat bagi seluruh alam. Hal ini tertuang dalam Al Qur’an surat Al Anbiya:7 yang artinya “Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. Inilah salah satu misi islam diturunkan ke bumi.
Nilai – nilai islam yang universal selalu mengundang banyak orang untuk menginterpretasikannya. Tak jarang banyaknya interpretasi menyebabkan problematika keummatan. Interpretasi nilai – nilai inilah yang harus terus mengalami pembaharuan, agar islam selalu menemukan relevansi dalam setiap perkembangan zaman. Banyak cendikiawan dan tokoh muslim selalu melakukan pembaharuan. Terhitung dari sejak zaman rasul wafat sampai sekarang selalu ada orang yang mencoba melakukan pembaharuan nilai – nilai islam.

Problematika yang terjadi di Indonesia yang berkaitan dengan pembaharuan islam salah satunya pernah terjadi pada tahun 70-an. Yaitu ketika cendikiawan muslim Murcholis Madjid (Cak Nur) mengnemukakan gagasannya lewat tulisan dengan judul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Disintegrasi Ummat”. Cak Nur menilai bahwa Indonesia dengan batas territorial yang cukup luas dan keanekaragaman budaya juga berbagai pemeluknya bisa menyebabkan disintegrasi ummat yang berujung kepada disintegrasi bangsa, jika tidak memiliki semangat toleransi.

Baca Juga :  Membaca Merlyn Sopjan Sang Waria

Sebagian para ahli dan cendikiawan menganggap bahwa issu disintegrasi umat yang digagas oleh Cak Nur secara teologis sudah selesai. Hari ini tinggal bagaimana teologi itu bisa ditarik kedalam dimensi sosial. Orientasi paradigma islam modernisem bertolak dari isu kebodohan, kepicikan dan keterelakangan. Selain problematika islam modernisme, ada satu cendikiawan muslim yang berbicara terkait islamisi ilmu. Yaitu Syed Naquib Al Attas. Corak dari islamsasi ilmu paradigmanya adalah persoalan normatif antara yang islam dan yang bukan islam, atau mana yang asli dan mana yang bid’ah.

Selain dua wacana diatas yang telah disebutkan, masih ada lagi wacana tentang islam. Yaitu islam transformatif. Apa itu islam transformatif? Menurut jurnal yang ditulis oleh Lasijan, secara bahasa kata transformatif berasal dari bahasa Inggris yaitu transformation yang memiliki arti perubahan bentuk atau menjadi. Jika kita coba sandingkan dengan kata islam maka berubah menjadi kata sifat (adj). maka bisa kita tarik benang merahnya bahwa islam transformatif adalah islam yang menjadikan, merubah atau membentuk. Islam transformatif mencoba untuk mengubah masyarakat yang tertindas menjadi masyarakat yang terbebaskan. Membentuk manusia yang biadab menjadi yang beradab. Lalu kemudian mencapai kehidupan masyarakat yang maju yang seimbang antara dunia dan ukhorwi.

Lebih luas dari itu, paradigma islam transformatif menyentuh hal – hal yang sifatnya sosial. Pembahasan mengenai sosial, ekonomi politik dan budaya tidak lupa dibahas dalam paradigm islam transformatif. Salah satu cendikiawan yang membahas pemikiran islam transformatif adalah Moeslim Abdurrahman. Sosok Moeslim Abdurrahman secara khusus menulis islam transformatif dalam bukunya yang berjudul Islam Transformatif yang terbit pada tahun 1995. Walaupun tidak banyak yang tahu tentang sosok Moeslim Abdurrahman, tapi pemikirannya tentang islam transformatif perlu terus kita kaji bersama.

Baca Juga :  Maaf Guruku, Saya Tidak Takdim

Konsep islam transformatif tidak mengafirmasikan perihal hubungan vertical dengan Tuhan. Tapi penekanannya lebih kepada keseimbangan antara hubungan vertical manusia dengan Tuhannya, juga hubungan horizontal antara manusia dengan makhluk Allah. Ini merupakan cerminan bahwa islam hadir tidak dalam bentuk setengah – setengah yang hanya membahas teological saja. Akan tetapi islam hadir sebagai nilai – nilai yang universal dan mengikat kepada setiap makhluk. Dengan segmentasi ekonomi, politik, sosial budaya masuk dalam pembahasannya. Maka out put dari islam transformatif adalah keadilan dan keseimbangan manusia sebagai hamba Allah yang mengabdi kepadaNya dengan manusia sebagai makhluk sosial yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di lingkungan sosialnya.

Berikan komentar