Sastra

Jangan Gusar Saudaraku, karena Aku akan Membunuhnya Dua Kali

“Sebuah bangunan Gereja yang gentingnya menyumbul diantara hamparan panasnya Kota Surabaya, dan lalulang kendaraan yang sibuk mencari penghidupan, lalu kau sambut dengan panggilan kematian!”

Bila saya menangis, air mata pun datang membasuh wajah Negeriku.
Mungkin itu kira-kira bait pertama yang aku tulis dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari pena, ketika perlahan negeriku menjadi mengerikan. Dimana sesama anak bangsa yang ingin menumpahkan darah sesamanya tanpa peduli. Aku menyambutnya dengan duka, atas tragedi yang menyayat hati, karena kau harus tahu, arti penderitaan negeri kami bukan hanya menyoal sulitnya mengisi perut yang kosong. Tetapi ketentramaan dan perdamaian yang mulai terusik.
Aku tidak mengerti, teror yang terjadi beberapa waktu lalu. Begitu bernafsu bila aku melihat manusia merasa suci tetapi sejatinya menjijikan? Begitulah yang aku fikirkan dalam setiap detak jantungku, yang memburu dan memekik, sekaligus mengutuk kebengisan para peneror. Tetapi aku tahu, itu yang kalian inginkan, agar rasa takut dan muak mengembara lepas dalam batin kami yang menderita.
Aku tak berharap kau datang ke negeri kami. Cukuplah kau membuat kami menjadi saling curiga, menuding terhadap sesama, aku sudah lelah. Aku lelah membaca bait-bait resah pada negeri ini, yang selalu aku tuliskan dengan tinta air mata penaku yang kosong.
Tetapi tak apalah, sedikit banyak kau mengajarkan, bahwa bangsa kami jangan terlalu pulas tidur, menyadari akan terlalu jauh kami apatis. Penderitaan memang tak perlu dibaitkan dalam kata-kata terang. Karena kata-kata terang sering menjadi pelipur lara belaka. Dan kau tahu, beberapa bom yang kau ledakan tempo hari, perlahan-lahan tenggelam tidak hanya dalam ingatan, tetapi dalam timbunan retorika dan konspirasi belaka.
Ketahuilah, kami yang pernah senasib dan sepenanggungan terjajah, telah banyak belajar, dalam mengais-ngais kata terbaik, bahwa persatuanlah yang membuat kami terbebas dari kungkungan penjajah. Dan hari ini kau ingin cerai beraikan kami, agar bisa menyalurkan syahwat politikmu. Aku tahu, kau berdalih dengan bahasa bersayap, tetapi aku merasakan irisan-irisan makna yang kau hujamkan ke ulu hati. Bahwa kau tetap pembunuh kejam, yang menumbalkan masa depan dan kehidupan anak bangsa tak berdosa.
Karena itu, aku tak ingin kau datang ke negeriku. Pergi saja ke Palestina, Afganisatan, negara yang betul adanya membutuhkan mujahidin. Bukan pada negeri kami, yang sejak puluhan tahun, telah hidup damai. Matamu mungkin akan lebih tajam melihat derita disana, daripada kau ingin bermetamorfosis menjadi penghancur negeri akur, manusia perusak moral, pengabai rasa kemanusiaan; mungkin semua itu lebih cocok aku samatkan padamu.
”Tidak! Aku sangat senang memakimu, setiap hari dan setiap waktu!”
Berspekulasilah batinmu tentang khayal merubah wajah negeri ini. Jangan kembali ke negeriku. Kami tak mau hal yang telah terjaga, kini lenyap seketika, yang akan tertinggal hanya kenangan dan harapan-harapan kepedihan. Tak ada yang tersisa, selain kata derita. Dan sebuah bangunan Gereja yang gentingnya menyumbul di antara hamparan panasnya Kota Surabaya, dan lalu lalang kendaraan yang sibuk mencari penghidupan, kau sambut dengan kematian!
”Kini semuanya mulai ditelan waktu. Tetapi kenangan pahit telah lekat pada benak kami!”
Bila kalau kau benar ingin merusak utuhnya negeriku, gantilah hatimu dengan batu. Bekalilah dirimu seribu nyawa. Mengganggu negeri ini hanya ada satu jalan, yaitu kematian!
Di negeri ini akan kau jumpai bangsa kami yang gagah berani, yang bisa membinasakanmu tak tersisa. Amukan bangsa ini kau pula harus waspadai. Masih banyak anak bangsa yang siap menaruhkan nyawanya demi negeri ini. Bila kau lolos di jalan maut, kau tak perlu bergembira. Karena setelah itu kau akan menemukan jalan kematianmu sendiri. ”Kau tahu, jalan kematian itu, sebenarnya tak akan sampai lama dimulai langkah pertamamu untuk menghancurkan negeri ini”.
Karena itu, ketika kau memutuskan untuk datang ke negeriku, siapkan dirimu sebagai manusia tanpa nyawa, atau kalau mau hidup jadilah manusia beradab. Negeriku, seperti yang kutulis, ”Maka bila kau datang, kau akan hilang!,”
Untuk menggoyangkan negeriku, tak cukup berarti dengan bom rakitan yang lebih tepat; kami anggap sebagai merecon. Kau manusia, kau bukan Tuhan. Maka kami bisa melawan, menghancurkanmu, membersihakan negeri ini dari manusia berakal pendek. Kau bukan apa-apa, negeri ini terlalu kokoh kau guncang dengan hanya ledakan kecil. Kau memang telah sedikit berhasil menimbulkan sedikit khawatir, Meski begitu, kau jangan berharap akan berhasil menundukan malam menjadi angan, dan nyawa yang kau korbankan hanyalah kesia-siaan.
Tak ada yang tahu, kapan kau akan hilang, tetapi suatu saat akan lenyap. Tinggal sisa cerita, meski di abadikan dalam sejarah, maka akan tercatat sebagai sejarah kelam. Bagi kami, jalan ruangmu telah kami tutup rapat. Seekor tikuspun akan kewalahan menerobosnya. Tak ada jalan lain, selain jalan ke langit; khayalan. Tak ada kata-kata lagi selain memberikan penegasan. Tak ada lagi harapan untukmu, selain harapan untuk mati.
”Apakah kau sudah siap?!”
Memusuhi negeri kami, akan menemui jalan sukar, tajamkan mata, karena kami akan hadir tak terduga. dan kau menerima balasan Tuhan. Jangan asal melangkah, apa lagi gegabah, karena di setiap jengkal, arti langkahmu sangat menentukan nasibmu. Dan kau tahu, orang-orang di negeriku ini, telah banyak yang membencimu, mengutukmu dan bahkan ada yang siap membinasakanmu demi bumi pertiwi ini. ”Aku menyesal sebenarnya, tak bisa menuliskan ultimatum ini secara benar!”
Tak ada kebenaran terlahir dari cara yang salah. Kebenaran terlahir dari rahim kebenaran itu sendiri. Kebenaran menjadi bahasa yang mudah dipahami, jangan kau buat Kebenaran dan kepalsuan menjadi tipis jaraknya. Dan kau tahu, banyak di antara kami yang tidak buta akan kebenaran.
Kami telah benar, dan kamu telah terjebak dan tersesat dalam mencari kebenaran itu sendiri. Meski demikian, banyak yang memilih menjadi dan hidup dalam kebenaran yang telah diyakini bersama, daripada mencari kebenaran dengan persfektif sendiri seperti halnya dirimu.
Dan kau tahu, dalam tragedi yang kau buat di negeri kami, kau seolah bicara dengan gamblang: ”Bahwa membunuh adalah jalan terbaik untuk berkuasa”.
Pada mulanya kau namai jihad, kau cari dalih agama, tetapi mengabaikan nilai luhur bangsa dan agamamu. Kau lawan sekaligus bela ajaranmu dengan menghalalkan darah tak berdosa. Kami diam dan pasrah, ketika air mata korban perlahan-lahan menggenangi negeri ini. Ketika air mataku tersekat di antara puing ledakan, kami harus mengambil pilihan. Bertahan hidup dalam ketakutan, atau berjuang demi mempertahankan negeri?
Kamu tahu, menghancurkan negeri ini bukan hanya dengan kekerasan, maka kau rusak ideologi bangsa kami dengan paham menjijikan, membahayakan dan membinasakan. Tapi setidaknya aku dan bangsaku masih bisa bernapas sambil mengikut arah kebenaran. Walaupun lama-lama kebenaran kau samarkan agar nampak pekat. Kami yang dulunya bisa menikmati ketenangan, tiba-tiba terusik oleh ulahmu.
Dalam kegelapan itu muncul sekelompok manusia bengis, mengganggu usaha bangsa yang tengah bangun dari titian kebangkitan; setelah sekian lama jatuh dan bangun di hantam kerasnya aktifitas dunia. Aku sedikit tahu, kau tulis dalam degup jantungmu yang paling keras, ”Lalu sejak itu munculah sekelompok radikalis bernafsu mati, tetapi tak mau sendiri dalam menjemput ajal.”
Apakah kau masih terbentik dalam fikiran ingin bermain-main pada negeriku? Lewat bahasa hati kusarankan, lebih baik urungkan saja niatmu. Meski negeriku kini tengah dalam keadaan sulit, lebih baik kau jangan percaya dengan keluhan anak bangsa yang lelah menanggung beban negeri. Itu bahasa gurauan dalam melepas kejengahan. Bila kau tak tahu, kau akan jadi debu dalam kekuatan negeri ini. Coba saja melangkah, maka kau akan hilang di langkah pertamamu.
Kalaupun kini masih saja kau melihat dan mencari celah negeri ini, semuanya akan saya sebut percuma. Karena kekurangan yang ada pada negeri ini, masih tertutup oleh semangat kebangsaan kami. Kau tahu, teroris yang mencari celah dalam keadaan negeri sedang melamun, bangsa kami masih tetap berdiri di atas bukit yang membentang sampai cakrawala, seperti Burung Elang yang mengawasi, menjaga dari penganggu dan perusak. Dan perlu sangat tahu, dalam teriakan bahasa lisanmu, yang aku tangkap samar, ada rintihan keputusasaan: ”bahwa menaklukan negeri ini tak semudah hanya dengan cukup membalikan telapak tanganmu, masyarakatnya tangguh dan cinta tanah airnya melebihi cinta akan dirinya sendiri. Sebagian dari mereka siap mati. Sebagian lagi terus-menerus melangitkan doa akan kehancuranmu. Para perempuannya tak pernah lelah membantu dan tak pernah diam, berupaya dalam tidur dan terjaga”.
Sekarang apakah sudah pantas negeriku, rumahku, tanah airku kau cari-cari celah dalam timbunan keniscayaan? Apalah arti negeriku bagimu, apalah arti rumahku untukmu? apalah pula arti bangsaku sedangkan kau saja telah menjadi bangsa terbelakang, jahiliah! Makam pahlawan pendiri negeri ini berderet, ribuan bahkan jutaan mengutukmu. Tak ada ruang bagimu, baik dalam nyata maupun dalam imajinasi.
Telah teringat, perlulah kau kenang. Lembaran sejarah pahlawan kami dalam mempertahankan negeri ini. Tunggulah, pada suatu hari kami akan menggantikannya. Lebih hebat, dan lebih tangguh dari pendahulu kami. Akan kau temukan pejuang baru yang akan siap menyambut kemenangan. Dalam perhitungan waktu, kami telah diabadikan. Kami telah dibendung dalam waktu yang berjejak, dan pada suatu saatnya nanti, akan melawan. Kelak nama kami dicatat dalam sejarah dan takdir, bendera negeri akan tetap berkibar jaya.
Negeri kami tak bisa dimatikan begitu saja, karena sikap teguh kami untuk tidak kompromi pada pemecah belah dan perusak negeri ini. Negeriku tak bisa dihilangkan begitu saja tanpa perlawanan sengit dan berarti. Walupun kami gugur, akan lahir kembali pejuang baru, dan kami akan di kenangan mengekal, dan kau akan di benci dalam abadi.
Ucapan terakhirku, jika pada suatu saat nanti negeriku terguncang, maka kenanglah kematianmu; seperti dalam suara keras takbir palsumu di bait detik terakhir, sebelum kau meledakan diri. []

Baca Juga  Sisi Air Mata dan Pengharapan Gadis Desa

Usep Ruyani – MediaDesa.id

Loading...

Ada komentar

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: