Realita

Jelajah Malam di Sudut Kota Tasikmalaya

TASIKMALAYA – Bila mendengar kota Tasikmalaya, tentu fikiran kita akan terbawa pada sebuah kondisi, dimana ada sebuah kota yang memiliki rasa keagamaan yang tinggi, memiliki ratusan pasantren, dengan kegiatan keagamaan yang padat.

Semuaitu pula terjawantahkan pada simbol-simbol ke-Islaman yang hampir ada di setiap perempatan jalan kota, baik berbentuk tugu atau alun-alun yang memiliki pernak-pernik berunsur muatan ke-Islaman.

Namunbila kita telaah lebih dalam, menggunakan sudut pandang menyeluruh dengan pola mendasar, akan nampak sebuah potret buram yang tentu ini akan menjadi persoalan pemerintah dan semua elemen masyarakat pada akhirnya.

Sepertihalnya kehidupan malam di kota tercinta ini, yang semakin larut makin ramai dan hangat. Cafe mini, tempat karaoke, bahkan warung remang-remang dan tempat hiburan lain, turut hadir meramaikan geliat kehidupan kota yang konon mendapat julukan kota santri itu. Salah satu tim MediaDesa.id, Sabtu (12/5) menelusuri tiap jengkal jejak kehidupan di kota ini.

Tepatnya pada pukul 23.30 malam, keramaian jalan mulai renggang dan sepi dari lalu lalang arus kendaraan. Kami pun mulai penasaran ingin mengetahui lebih dalam aktifitas malam yang selalu diminati oleh sekelompok masyarakat yang mencari hiburan, atau sekedar melepas penat dari aktivitas sehari-harinya.

Kehidupan malam sejak dulu memang selalu menjadi persoalan kompleks untuk dibahas. Karena pada akhirnya akan merambat keberbagai persoalan lama seperti pengangguran, kemiskinan, PSK, serta tidak luput tata kelola kota yang masih semrawut. Karena bila kita tarik dan runut akar persoalannya, pada akhirnya kesenjangan sosial-lah yang menjadi akar muara timbulnya penyakit masyarakat tersebut.

Walaupunprostitusi diakibatkan oleh beberapa faktor, namun dominannya karena desakan ekonomi, meskipun tidak pula menutup kemungkin karena perubahan gaya hidup masyarakat kota yang tinggi, tetapi secara garis besar presentasenya kalah dibandingkan dengan sebab ekonomi.

Tim kami mulai berjalan penelusuri di kawasan alun-alun Kota Tasikmalaya, tepat di samping kanan terdapat halte yang biasa digunakan masyarakat menunggu angkutan umum, atau sekedar bersantai melepas penat padatnya kota.

Baca Juga  Karena PKH, Pemerintah Desa Jadi Hujatan Warga

Tetapibila sudah menginjak di atas jam 12 malam, maka akan terganti oleh hadirnya beberapa perempuan malam yang siap menggoda dan menawarkan diri tanpa ragu kepada kaum lelaki yang melewatinya.

Kondisi ini sudah cukup berlangsung lama, hanya saja dalam penertibannya kerap tidak membuat mereka jera dan terus mengulanginya lagi.

Kami pun terus menjejaki malam di area Dadaha, yang konon sempat ramai sebagai tempat bertransaksinya bisnis haram tersebut, warung remang-remang yang begitu banyak, kini mulai tertata dan rapih menjadi taman kota. Walaupun sudah ada pembenahan oleh Pemerintah kota, jika kita telisik lagi lebih dalam tetap saja masih ada di sudut kota lainnya yang menjadi tempat tujuan wisata sex komersi itul.

Misalkansekitar Jalan Pasar Cikurubuk, Rancabango, masih ada saja PSK yang mangkal. Selain PSK yang usianya sudah hampir paruh baya, tidak sedikit pula yang masih ABG, tidak ketinggalan juga para waria yang ikut menghiasi sepanjang persimpangan jalan.

Terlebihlagi kawasan Cikurubuk, yang terkenal banyak jumlah Warianya. Sebab di jalan yang sepi dan minim penerangan, dianggap sebagai tempat yang nyaman untuk mangkal atau hanya sekedar nongkrong.

Setalahitu kami melanjutkan ke wilayah PLN Jalan Yudanegara, di sebuah gang kami menjumpai seorang wanita muda, sebut saja namanya Bunga (Nama samaran). Usianya kisaran 26 tahun. Sepintas di lihat Bunga memang bukan wanita yang terlihat nakal. Dengan penampilan biasa saja, olesan make up yang tidak berlebihan, dalam bertutur kata pun bicaranya santun dan sopan.

Tidak ubahnya style wanita yang baik dan berpendidikan. Gaya bicaranya yang hangat dan mudah akrab, tentu akan membuat pria yang mendekatinya mudah terayu dan tertarik. Walau demikian, tidak begitu saja untuk bisa dibawa kencan. Kita harus sepakat terlebih dahulu oleh germo yang mengawasinya.

Karenaperlu diketahui, prostitusi biasanya akan di pegang oleh si penjualnya. Sebut saja germo, dalam dunia pelacuran biasanya mereka akan dibekingi, bila kita telah sepakat menentukan harga dan tempat baru bisa membawanya. Walau pun tidak sedikit ada yang bekerja sendiri-sendiri tanpa bantuan germo.

Baca Juga  1 Syawal Dirayakan dengan Pesta Miras dan Sex

Salah satu warga yang setiap hari berjualan jagung rebus di area tersebut, Mang Kumar mengakui, “Walaupun rajia dan penertiban warung remang-remang kerap rutin dilakukan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya, namun tetap saja tidak terlalu sulit mencari PSK di sini, biasanya ada oknum aparat, Kang. Yang memberikan informasi kepada si germo jika akan di adakan rajia,” tukas Mang Kumar menjelaskan.

Mang Kumar melanjutkan, “Prostitusi di sini cukup terorganisir, ada pembagian wilayah antar germo, ada tim kesehatan untuk menjadwal cek up, ada pula yang bekerjasama dengan oknum aparat, pada umumnya mereka sangat rapi. Paling yang tertangkap Satpol PP kelas kecil yang berjualan sendiri”, Lanjut Mang Kumar.

Soal harga yang diminta, kami sempat berbincang-bincang dengan salah satu germo yang berada di wilayah kawasan PLN. Sebut Saja namanya Bu Mila, Bu Mila pemilik warung remang-remang itu memiliki usaha sampingan yaitu menjajakan wanita-wanita malam kepada lelaki yang mampir kewarungnya.

“Tarifnya beragam A, dimulai dari ratusan, sampai jutaan rupiah,” ujarnya. Lanjut ia membisikan kepada kami, “jika Aa mau harga yang murah, silahkan datang jam 2-an, karena mereka biasanya sudah mau pulang. Semakin malam semakin bisa di nego,” ujarnya.

Demikian realitanya, semuanya bisa dipastikan maraknya bisnis haram tersebut lantaran ekonomi dan kian banyaknya tuntutan hidup yang menghimpit. Diakui memang ada yang memiliki alasan karena broken home, kegagalan dalam berumah tangga, putus cinta dan tidak sedikit pula demi memenuhi gaya hidup serta kesenangan semata.

Tetapi secara menyeluruh, faktor tercekik oleh ekonomi-lah yang sebagian besar sebagai sebab maraknya prostitusi di Tasikmalaya. []

(Usep Ruyani)

Loading...

Ada komentar

  1. aya carita teu aya riksa iraha atuh rengsena da nyata tiap desa aya ..anging pangawasa kalih jaksa anu rosa sareng raksa

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: