Sosok

K.H Abdoellah bin Noeh; Ulama Sekaligus Pejuang Kemerdekaan

MediaDesa.idCIANJUR. “Beliau adalah ulama yang lengkap, karena selain ulama beliau juga penulis, pendidik, dan pejuang kemerdekaan. Ke-ulamaannya terkenal hingga ke berbagai penjuru negeri, buah karyanya hingga kini masih terus dikaji dan menjadi rujukan”

Fajar merekah menebarkan pesona jingga. Angin yang lembut berembus, membuat udara di kawasan Cianjur saat itu terasa sejuk. Sebuah daerah Cianjur, yang bila dilihat sepintas tidak terlalu istimewa, namun nyatanya dari kesederhanaan itulah tersimpan sebuah cerita dan kenangan tentang cikal bakal seorang tokoh besar di negeri ini.

K.H. Abdoellah bin Noeh. Beliau lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 30Juni 1905, dari pasangan K.H. Raden Noeh dan Nyi Raden Hj. Aisyah. Keluarga ini sangat mementingkan pendidikan agama bagi anak-anaknya. K.H. Raden Noeh dikenal sebagai ulama, hafiz, dan pendiri Madrasah Al-‘Ianah At-Thalibin AI-Muslimin di Cianjur. Di lingkungan yang syarat dengan nilai-nilai keagamaan inilah, Abdoellah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berwawasan luas. Kecerdasannya sudah tampak sejak kecil. Ketika masih berusia delapan tahun, ia sudah fasih berbahasa Arab. Bahkan pada usia belasan tahun ia sudah menguasai Airiyah, yaitu kitab tata bahasa Arab yang disusun berupa seribu bait syair. Padahal, para pelajar atau santri biasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menguasai kitab tersebut. Ketika menginjak dewasa, ia juga berusaha menguasai bahasa Inggris dan Belanda secara otodidak. Dalam hal ilmu agama, mula-mula ia belajar kepada ayahandanya sendiri. Kemudian, pada 1918 ketika berusia 13 tahun ia masuk ke Madrasah Syamail Huda, Pekalongan. Di sini prestasinya sangat menenjol, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Arab. Karena prestasinya itu, ia lalu direkomendasi oleh gurunya, Syaikh Muhammad Hasyim, untuk belajar di Hadramaut School, Surabaya. Di sekolah ini pula ia menjadi redaktur majalah mingguan berbahasa Arab, Hadramaut. Beberapa tahun kemudian ia diangkat sebagai asisten pengajar dalam mata pelajaran Bahasa Arab. Dan di madrasah ini pula ia mempelajari Bahasa Inggris, Belanda dan Jerman. Pada 1926, ketika usianya 21 tahun, bersama 15 temannya ia terpilih untuk belajar di Fakultas Syari’ah Universitas Al-Azhar, Kairo. Di sana Abdoellah mempelajari ilmu fiqih Madzhab Syafi’i. Sayangnya, hanya setahun ia betah di Mesir. Mendadak ia pulang ke Cianjur yang kemudian pindah ke Semarang, lalu ke Bogor, tapi akhirnya kembali lagi ke Cianjur. Di kampung kelahirannya ini ia melanjutkan tugas ayahandanya sebagai pengasuh Madrasah Al-I’anah. Pada 1934, ia pindah ke Ciwaringin-Bogor, untuk mendirikan ‘Madrasah Penolong Agama’ yang sekarang berubali nama menjadi Yayasan lslamic Centre AI-Ghazali. Madrasah ini menerima santri dari berbagai daerah, kurikulumnya pun Iebih maju dibanding madrasah-madrasah lain di zamannya. Dan boleh dikatakan merupakan madrasah tempat mendidik para calon ustadz atau ulama besar. Beberapa tahun kemudian ia ikut serta mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Yogyakarta, (cikal bakal Universitas Islam Indonesia dan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri). Perhatiannya pada perkembangan dunia pendidikan Islam memang luar biasa. Bukan hanya dikenal sebagai pendidik, dalam perjuangan kemerdekaan ia juga tak tinggal diam. Di zaman penjajahan Jepang, ia aktif sebagai anggota Peta (Pembela Tanah Air), yang wilayah operasionalnya meliputi Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Ketika kemerdekaan diproklamasikan, ia menjadi pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR), kemudian Tentara Keamanan Rakya (TKR. Keduanya merupakan cikal bakal terbentuknya Tentara Nasional Indonesia.
Ketika ibu kota Rl pindah ke Yogyakarta – akibat “aksi polisional” I dan II Belanda – ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk periode 1948-1950. IlP adalah cikal bakal Dewan Perwakilan Rakyat. Di masa perjuangan itu, keahliannya dalam bahasa Arab dimanfaatkan untuk mengampanyekan kemerdekaan Indonesia ke Timur Tengah melalui RRI Yogyakarta. Dan pada 1950- 1964 ia menjadi kepala siaran bahasa Arab RRI Jakarta. Tak lama kemudian ia menjadi Rektor kepala pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sastra Arab. Pada 1955 ia masuk dalam kepanitiaan penyelenggara Konferensi Asia Afrika di Bandung sebagai penerjemah. Berkat pergaulannya yang Iuas itulah, belakangan ia diundang berdakwah ke berbagai negara salahsatunya ialah Arab Saudi, Yordania, lrak, Iran, India, Australia, Thailand, Singapura, hingga Malaysia. Di tengah berbagai kesibukannya, Abdoellah bin Noeh tetap kukuh sebagai ulama, pendidik, dan mubalilgh. Termasyhur sebagai pakar ilmu fiqih dan tasawuf, ia juga produktif menulis. Berbagai aspek keagamaan seperti aqidah, filsafat, tasawuf, hukum, sejarah, dan bahasa, pernah ia tulis, dan rata-rata karyanya dalam bahasa Arab. K.H. Abdoellah bin Noeh juga memang termasuk seorang penyair, dalam bahasa Arab yang cukup handal. Dengan gaya bahasa yang khas dan mengandung makna yang dalam, ia menulis syair-syair yang indah. Karya-karyanya juga terbilang lumayan banyak. Tapi tetap ia lebih dikenal sebagai orang Indonesia yang pertama kali menyusun Kamus Bahasa Arab- Indonesia-lnggris (bersama H.M. Oemar Bakry), yang kemudian dicetak berulang kali. Pada tahun 1987, ia meninggal dan dimakamkan di Bogor.

loading...

Karya-karyanya hingga kini masih dipelajari. Di antaranya, Diwan bin Nuh, berisi 118 kasidah, terdiri 2.731 bait; Al-‘Alam al-Islami; Fi Dzilal Ka’bah al-Bait aI-Haram; La Taifiyata fil Islam; Ana Muslimun Sunniyyun Sayfi’iyyun; Mu’ajmu aI-Arabi, Al-Lu’Iu’ al-Manshur. Buku-bukunya dalam bahasa Indonesia, antara lain, Cinta dan Bahagia; Zakat Modern; Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW; Sejarah Islam di Jawa Barat; Keemasan Banten. Ada juga karya dalam bahasa Sunda, Lenyepeneun. la juga menerjemahkan beberapa karya AI- Ghazali: Minhaj al-Abidin: Al-Munqidz mina al-Dhalal: Al-Mustosfa Ii Man lahu Ilmi al-Usul. Demikianlah sekilas tentang sosok ulama K.H Abdoellah bin Noeh, yang ketokohan dan keilmuannya sudah tidak diragukan lagi. Selain hidupnya ia habiskan untuk mengayomi masyrakat, ia juga habiskan didalam memperjuangankan dan membangun negeri tercinta ini. Semoga jasa-jasa beliau, Allah ganti dengan penggantian yang sebaik-baiknya pengganti. (Usep R)

Baca Juga  KH Ate Musodiq Ketua PCNU Kota Tasik Terpilih
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close