Wisata

Kampung Naga – Destinasi Wisata di Tasikmalaya

Kampung Naga berada di lembah curam sungai ciwulan tepatnya di desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Jarak tempuh ke tempat wisata kampung naga dari pusat Kota Tasikmalaya sekitar 30 km yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 atau roda 4 kurang lebih sekitar 1 jam. Bagi pengunjung dari jakarta dapat menggunakan jalur jalan raya Bandung – Garut – Tasikmalaya dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Bila kita menggunakan jalur perjalanan Bandung – Tasikmalaya mungkin waktu tempuhnya akan semakin lama, karena harus berputar kembali ke arah Garut. Kendaraan apapun tidak dapat sampai pada pemukiman warga, kita dapat berjalan kaki ke bawah lembah dengan meniti tangga beton dan sebagian tanah. Perjalanan kaki ini sekitar 30 menit.

Sesampai di Kampung Naga kita akan disuguhi dengan nuansa alam yang asri, serta roman wajah warga yang ramah. Pesawahan terhampar luas yang dikerjakan oleh masyarakat oleh dengan tekhnik pertanian tradisional. Sungai ciwulan menjadi pelengkap panorama, bersih namun arus airnya cukup deras, menjadi pembatas antara leuwing tutupan dan komplek pemukiman.
Di bagian belakang pemukiman warga ada satu rumah khas kampung naga yang ukurannya lebih besar dari rumah laingnya dengan pagar dari bambu, namun rumah itu terlihat tidak berpenghuni, menurut warga rumah itu di sebut “Bumi Ageung” letak posisi rumah orang pertama yang tinggal dikampung naga. Konon rumah tersebut berisi barang pusaka turun temurun warga kampung naga yang dulu sempat dibakar “goromolan DI” atau kita sebut kaum separatis DI/TII. Bumi ageung sangat dikeramatkan oleh warga hingga kamipun dilarang untuk memotret apalagi masuk ke dalam ruangan.
Di kampung naga kita tidak akan menemukan barang elekteonik, penerangan hanya cukup menggunakan lampu “cempor” yang dijual dipasaran dengan bahan bakar minyak tanah. Anak-anak di kampung naga rata-rata mereka mengikuti wajib belajar 9 tahun, hanya sedikit saja yang sekolah hingga SLTA atau bahkan pergurian tinggi. Jumlah warga di di kampungna sangat dibatasi, tidak boleh lebih dari “40 suhunan” (rumah), jika ada keluarga baru mereka diberi pilihan apakah akan tinggal dikampung naga, atau keluar di kampung naga. Masih banyak hal yang bisa digali dari objek wisata budaya ini, para pengunjung rata-rata adalah pelajar, mahasiswa, dan para peneliti yang sedang melakukan penelitian tentang budaya.

Baca Juga  Inilah 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Populer

Andi Ibnu Hadi – MediaDesa.id

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close