Sejarah

Kenapa Banjar Lepas Dari Ciamis, Padahal Hanya Empat Kecamatan

Memang sudah selayaknya Kota Banjar mengatur Pemerintahannya sendiri. Sejak lepas dari Kabupaten Ciamis melalui Undang-Undang No 27 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Banjar Jawa Barat, Kota yang menjadi pintu gerbang utama jalur lintas selatan Jawa Barat menuju Jawa Tengah itu terus berbenah dan menjadi Kota termaju kedua di Priangan setelah Kota Tasikmalaya. Kota Banjar telah tumbuh menjadi kota industri, perdagangan, jasa dan pariwisata bagi wilayah Jabar sektor Timur.

Banyak alasan historis kenapa Banjar yang meski dengan empat kecamatan harus memiliki pemerintahan setingkat Kabupaten sendiri. Menurut Buku Yuganing Raja Kawasa, daerah Banjar merupakan Bandar perdagangan teramai di Sungai Citanduy sekira tahun 612 Masehi. Sehingga daerah Banjar sekarang yang disebut Banjar Patroman kemungkinan diambil dari nama Bandar yang karena banyak pohon tarumnya disebut Bandar Tarum.

Dalam buku tersebut, Prabu Wreti-kandayun, putra Prabu Kandiawan dari Kerajaan Kendan mendirikan negara Galuh. Pusat kota ditetapkan di daerah Karangkamulyan yang dibentengi oleh Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy. Wilayah itu dilalui sungai Citanduy dan dijadikan bandar yang memiliki banyak pohon tarum. Kemudian, wilayah ini terkenal dengan nama Bandar Tarum, dan berkembang menjadi Banjar Tarum, dan akhirnya menjadi Banjar Patroman.

Namun sejak Kerajaan Padjadjaran runtuh sekira 1579, wilayah Banjar menjadi bagian Kerajaan Galuh dan dijadikan tempat berdagang dan berkumpul para ulama. Dan di 1595, Kerajaan Galuh dikuasai oleh Mataram di bawah Sutawijaya atau Panembahan senopati (1586-1601) sehingga masuk Kabupaten Kawasen.

Perkembangan selanjutnya Banjar juga pernah masuk wilayah Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya) hingga tahun 1938, sampai berubah menjadi Ibu Kota Kecamatan dan Kewedanaan. Kemudian jadi Kotip sampai akhirnya menjadi Pemerintahan sendiri setingkat kabupaten dengan nama Pemerintah Kota Banjar.

Baca Juga  Eyang, digendong (Akod) dari Madura ke Bantarpayung. Benarkah?

Dengan melihat historis kewilayahan tersebut, Kota Banjar memang sejak awal daerah mandiri, tidak masuk Galuh maupun Padjadjaran. (Jani Noor)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close