Realita

Sudah Jatuh Negara Masih Tertawa

MediaDesa.idTASIKMALAYA. Tepatnya di Kampung Cimuta, Desa Cigadog Kecamatan Leuwisari, satu dari sekian banyak daerah di Tasikmalaya yang memiliki kearifan lokal berupa kerajinan tangan. Menurut keterangan yang diperoleh, kerajinan pertama yang dibuat disini dimulai pada masa akhir kekuasaan Orde Lama sekitar tahun 1965-an.
Di kampung tersebut menyediakan beberapa jenis kerajinan tangan salah satunya seperti Besek, Dudukuy, Tengkor Nasi, Parsel, Kurung Manuk (sangkar), serta beberapa jenis kerajinan tangan lainnya dengan bahan dasar bambu, dan kayu suren. Seperti halnya Pak Yudi salah satu pembuat kerajinan sangkar, ia memulai usahanya sejak tahun 1989 yang ia pernah pelajari bersama kakeknya dulu.

“Saya mulai membuat kerajinan ini (sangkar) kalau tidak salah mulai pada tahun 1989, awalnya belajar dari kakek yang pada saat itu bekerja sebagai pengrajin”, tutur Pak Yudi kepada salah satu Tim Media Desa, Rabu (20/06/2018).

Di tengah arus persaingan global dengan beredarnya produk-produk impor, tidak menghentikan semangat masyarakat di kedusunan ini untuk meninggalkan warisan pendahulunya, walaupun kerajinan tersebut kini hanya sebatas dijadikan usaha sampingan. Berbeda pada saat dulu, hampir sebagian masyarakat disini hanya menggantungkan hidupnya melalui hasil kerajinan tangan tersebut.

Para pengrajin hari ini banyak yang mengeluh lantaran sulitnya menyalurkan barang hasil kerajinannya. Sebabnya jelas, karena daya saing produk lokal tidak seimbang dengan produk-produk dari luar negeri, yang dari segi kualitas serta harga sangat jauh dengan hasil kerajinan tangan di daerahnya.

“Sejak awal tahun 2012, penghasilan kami hari ini sangat menurun drastis. Karena saya harus bersaing ketat dengan Perusahaan EJ salah satunya, yang memproduksi barang-barang bermodel kerajinan dengan mesin pabrikan”. Tegas Pak Yudi kembali.

Untuk pendistribusian hasil produksi kami, dulunya masyarakat Kedusunan Nyantong bisa menjangkau berbagai daerah, baik di daerah Tasikmalaya seperti Rajapolah, Cikurubuk maupun keluar daerah seperti ke Cirebon-Palimanan, Bandung, dan juga beberapa titik daerah di Jakarta seperti Kramat Jati, Jati Negara, Pramuka dan sampai juga ke Bali.

Baca Juga  1 Syawal Dirayakan dengan Pesta Miras dan Sex

Namun hari ini, pesanan tersebut hanya mampu terjual di daerah Tasikmalaya lantaran sepinya peminat, salah satunya Pasar Cikurubuk dan Pasar Rajapolah yang masih setia menerima kerajinan tangan walaupun dari segi jumlah dan harga tidaklah berbanding lurus dengan hasil kerja keras pengrajin tersebut.

“Harapan kami, pemerintah Tasikmalaya bisa lebih memperhatikan nasib pengrajin kecil seperti kami. Sebab bila kami sampai berhenti, bukan saja kesenjangan yang kami pertaruhkan, tetapi kearifan lokal di daerah ini pun akan terancam hilang dan terlupakan”. Pungkas Pak Mamat selaku RT di Kampung Cimuta kepada Tim Media Desa.

-(Usep)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close