Sosok

Kisah Marsinah, Pejuang Buruh Yang Dibunuh Pada Masa Orde Baru

Nama Marsinah tak bisa dilepaskan dari May Day atau Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei. Ya, Marsinah yang ditemukan tewas pada 8 Mei 1993 itu merupakan satu di antara pejuang hak-hak buruh saat itu. Selain menjadi buruh di sebuah perusahaan perakitan jam di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Marsinah juga adalah seorang aktivis.

Perempuan itu sempat hilang tiga hari sebelumnya ditemukan telah menjadi mayat pada 26 tahun lalu. Marsinah hidup pada masa Pemerintahan Orde Baru, saat orang-orang yang vokal memang akan tersingkirkan. Mungkin, hal ini juga dialami oleh Marsinah yang sempat diculik sampai akhirnya terbunuh.

Mayat Marsinah ditemukan di hutan yang ada di Dusun Jegong, Desa Wilangan. Ada tanda-tanda bekas penyiksaan berat di tubuhnya. Dua orang yang terlibat dalam otopsi jenazah Marsinah menyimpulkan jika ia tewas akibat penganiayaan berat.

Pada tahun yang sama, Marsinah mendapatkan Penghargaan Yap Thiam Hien. Kasus ini kemudian menjadi catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang kemudian dikenal sebagai kasus 1713. Marsinah menjadi salah satu pejuang hak-hak buruh saat itu.

Pada awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan sebuah surat edaran yang berisi imbauan kepada perusahaan agar menaikkan kesejahteraan para karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20 persen dari gaji pokok.

Tentunya imbauan itu mendapatkan sambutan yang baik dari para karyawan. Namun tidak bagi perusahaan, karena ini artinya beban pengeluaran mereka menjadi bertambah. Pada pertengahan April 1993, karyawan di pabrik tempat Marsinah bekerja membahas surat edaran ini dengan resah sampai akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan unjuk rasa. Unjuk rasa dilakukan pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993. Tuntutan mereka adalah kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250.

Baca Juga  Mengingat Kembali Sang Imam Thariqah Dari Suryalaya

Satu di antara buruh yang aktif dalam unjuk rasa itu adalah Marsinah. Ia terlibat sejak rapat pembahasan rencana unjuk rasa tersebut. Pada 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja dan mogok total bekerja pada 4 Mei 1993. Mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah karyawan sesuai dengan imbauan pemerintah.

Sampai 5 Mei, Marsinah masih aktif bersama teman-temannya dalam kegiatan unjuk rasa dan berbagai macam kegiatan perundingan. Bahkan ia menjadi satu dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan. Barulah mulai 6 Mei, keberadaan Marsinah tidak diketahui, sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada 8 Mei 1993.

Selang beberapa bulan, tepatnya pada 30 September 1993, dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk menyelidiki kasus pembunuhan Marsinah.

Meski ada beberapa pihak yang dinyatakan bersalah dalam kasus ini, ada keganjilan yang sepertinya masih disembunyikan. Sejumlah orang yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Marsinah ditangkap secara diam-diam dan dijatuhi hukuman empat sampai 12 tahun penjara. Mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi, dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni).

Putusan MA tersebut tentunya menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak. Hal ini justru membuat orang-orang berspekulasi jika penyelidikan kasus ini hanyalah rekayasa. Karena satu demi satu terungkap pengakuan mengejutkan dari para terdakwa yang ternyata tidak mengetahui rapat ataupun hal-hal terkait perencanaan pembunuhan Marsinah. Dikutip dari laman Kompas.com, beberapa tahun yang lalu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sempat menggelar aksi di makam pejuang buruh Marsinah.

Aksi itu dilakukan bertepatan pada Hari Buruh, 1 Mei 2001. Ketua AJI Kediri, Hari Tri Wasono mengatakan jika pihaknya sengaja memanfaatkan Hari Buruh pada saat itu untuk kembali mengingatkan pemerintah terhadap ‘utang’ lama itu. Meski Marsinah menerima penghargaan dan masuk ke dalam catatan ILO, sampai hari ini pembunuh Marsinah yang sebenarnya masih belum menerima hukuman.

Baca Juga  Situs Makam Pangeran Muhamad penyebar Agama Islam di Majalengka

Marsinah hanya satu dari puluhan kasus pelanggaran HAM lainnya yang tidak pernah berakhir dengan kejelasan. Marsinah hanya buruh yang memperjuangkan hak-haknya, tapi sayang, nasib berkata lain pada perjuangannya. Meski demikian, sampai hari ini masih banyak orang yang mengenang Marsinah. Para mahasiswa masih terus mengusung kasus Marsinah dalam aksi-aksi hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei.

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close