LegendaSejarah

Legenda Cipanas Kahuripan Yang Berkhasiat Menyembuhkan

TASIKMALAYA – Eyang Ahmaji adalah orang pertama yang menemukan Cipanas Cikahuripan yang terletak di Desa Sundakerta Kecamatan Sundakerta Kabupaten Tasikmalaya.

Seperti dituturkan oleh Wahyu, sesepuh masyarakat Desa Sundakerta yang juga Cicit dari Eyang Ahmaji bahwa Cipanas Cikahuripan yang saat ini juga dikenal dengan nama Cipatuh (Cipanas Pancuran Tujuh) telah ditemukan oleh eyang Ahmaji kurang lebih sekitar 200 tahun silam.

Penemuan Cipanas Cikahuripan ini berawal dari eyang Ahmaji yang saat itu menderita penyakit terbilang aneh,

“Setiap persendian ditubuhnya ada koreng hingga bolong-bolong dan dipenuhi belatung dan dulunya disebut Cipusaka”, tutur Wahyu saat diwawancarai di kediamannya. 22/08/2020.

Segala macam obat dari beberapa tabib telah dicoba namun hasilnya tetap nihil, hingga akhirnya Eyang Ahmaji menjalani tirakat (berdoa) yang disyariatkan menurut agamanya yaitu Islam.

“ Eyang Ahmaji adalah tokoh agama atau Kyai yang cukup disegani di daerah ini”, sambung wahyu.

Dari hasil munajat tersebut Eyang Ahmaji mendapat petunjuk untuk mencari sumber air panas yang letaknya diantara Gunung Agung (Baca:Galunggung) dan Gunung Jaga (Baca:Talaga Bodas).

Setelah ditemukan Eyang Ahmaji berdiam dilokasi tersebut hingga penyakit yang dideritanya sembuh.
Dilokasi Cipanas Kahuripan juga ditemukan 7 sumber air panas yang kemudian sematkan beberapa nama yang berbeda diantaranya Ciatel, cikajayaan, cikawedukan, Cipusaka, Cirohmat, Cipanyipuhan dan cikahuripan.

Nama-nama tersebut dilatar belakangi oleh kepercayaan masyarakat Sundakerta tentang khasiat masing-masing sumber air panas tersebut.

Seperti Ciateul berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit gatal-gatal, Cikajayaan sebagai tempat nyeurepkeun (menerapkan) ilmu kebajikan dan keselamatan, dan Cikahuripan dipercaya dapat memberikan berkah kemakmuran.

“Eyang Ahmaji adalah kuncen pertama Cipanas Kahuripan karena dia orang yang pertama menemukan Cipanas Cikahuripan”, Ujar Wahyu.

Baca Juga :  Taraju Mulih Rahayu

Selanjutnya kuncen Cipanas Cikahuripan dilanjutkan oleh Raden Odo yang saat itu juga merupakan tokoh masyarakat yang sangat disegani, namun tidak lama kemudian R. Odo Suramiharja menyerahkan kembali Cipanas Cikahuripan kepada Eyang Ahmaji.

Setelah Eyang Ahmaji Wafat, kuncen Cikahuripan diteruskan oleh anaknya yang bernama, Ucu dan diteruskan oleh Suhari yang adalah ayah dari Wahyu.
Blok Cikahuripan oleh masyarakat Sundakerta atau Kiarajangkung dan daerah sekitar dianggap sakral, sehingga tidak sembarangan orang masuk daerah tersebut.

“ Ada beberapa cerita yang menyebutkan orang hilang didaerah tersebut karena tidak minta izin dahulu ke Kuncen disana” tambahnya.

Bahkan kapal terbang dan hewanpun konon tidak dapat melintasi suatu tempat yang disebut Pajagalan yang berbentuk kawah saat (Kawah kering) yang ada didaerah tersebut.

“ Itu hasil perjanjian wali kadora dengan bangsa jin dan hewan-hewan buas Galunggung”, jelas Wahyu.

Selanjutnya Wahyu menjelaskan perjanjian tersebut melarang jin dan hewan buas galunggung untuk melintasi pajagalan dan segala hewan termasuk manusiapun tidak boleh melintasi Pajagalan, dan jika itu dilanggar maka akan mengalami kesengsaraan dan bahkan binasa (Baca:tewas).

(Mesa)

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: