Opini

Maaf Guruku, Saya Tidak Takdim

Oleh : Budi Hartono
Wartawan Media Desa

Hari ini saya dihadapkan pada suatu kondisi dimana untuk kesekian kalinya harus berseberangan pandangan dengan guru ngaji saya sendiri. Beliau memajang foto papan iklan yang sengaja dipasang kaliamat tauhid diakun facebook dia kemudian diberi “caption” ; Bikin Kejang Orang Yang Phobia Kalimat Tauhid.

Seketika timbul pertanyaan, emang ada umat muslim yang phobia terhadap kalimat tauhid ?. Saya rasa tidak akan pernah ada umat muslim yang phobia terhadap kaliamat tauhid. Sebejad apapun seorang muslim tidak akan pernah anti kalimat tersebut.

Saya faham mungkin tuduhan phobia itu ditujukan kepada Ansor dan Banser yang sering mengadakan penolakan terhadap bendera HTI. Apalagi pasca kejadian pembakaran bendera HTI di Garut, semua orang menuduh Banser penista kalimat tauhid.

Saya memafhumi namun ini hanya persoalan persepsi antara bendera dan kalimat. Saya pun sepakat kalimat tersebut simbol keimanan, apalagi sebagai warga NU yang dalam pembacaannya saja menjadi tradisi. Misal tahlilan.

Akan tetapi beda halnya ketika menjadi sebuah bendera, makna kalimah tauhid bukan lagi sebagai symbol keimanan tapi menjadi sebuah symbol organisasi. ISIS, Al-Kaeda dan Hizbut Tahrir memakai simbol tersebut.

Saya kasih contoh, jika PKI menjadikan Palu arit sebagai bendera, apakah kita menolak palu dan aritnya?. Maka patut dipahami bahwa Ansor Banser bukan anti kalimat tauhid, tapi anti HTI yang memanfaatkan kalimat tauhid untuk merongrong Negara Indonesia ini.

Masihkah gagal paham guruku ?. Maaf saya tidak takdim untuk hal ini.*

Baca Juga :  Radikalisme Agama Di Tasikmalaya Menjalar Sampai Desa
Loading...

Ada komentar

  1. “Berilumu belum tentu beriman”
    Iman adalah percaya.
    Percaya kepada segala rukun iman yang salahsatunya percaya pada Alloh dan pada Rasulnya.
    Tak Elok menilai seaorang fhobia dengan sebuah kalimah Thayibah yang begitu melekat dalam hati sanubari umat islam mulai dari semenjak di lahirkan ke dunia hingga menjelang ajal kalimah tersebut akan terus bergema.
    Membuat sebuah opini memperbesar lingkaran gelombang ke kacauan hanya karena beda pilihan dalam sebuah perhelatan POLITIK yang bahkan mungkin belum tentu bermanfaat untuk dirinya sekalipun.

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: