Sastra

Mamah, Neni dan Air Mata Penduduk Desa

“Lengkingan jeritan dan gema riuh kepedihan akan menjadi atmosfir ruangan, dengan ratapan-ratapan yang tentu menghujam jantung bagi siapa saja yang mendengar”

***
Mereka gemar menangis, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit selalu di gunakan untuk menangis. Ada yang menangis beramai-ramai— kadang tidak sedikit tokoh kampung menggelar menangis bersama—seperti hari peringatan besar, selalu saja di isi dengan menangis akbar. Sebab air mata di desa sangatlah mahal, maka dia yang berhasil menangis akan di nobatkan sebagai raja dan ratu kepedihan. Dengan begitu ia akan mewakili desanya menghadap penguasa untuk menceritakan kemalangan hidup di desanya. Bagi yang sudah benar-benar tidak bisa lagi menangis, ia akan di tugaskan oleh kepala desa pergi keliling kampung dengan membawa secarik wadah untuk menampung air mata penduduk.
Suara petugas tersebut parau, berteriak namun tidak bersuara, memanggil- manggil mereka yang sudah seminggu berusaha menangis namun belum jatuh juga air matanya. Carik yang dibawa petugas untuk pembawa air mata sangatlah kecil, namun bisa menampung air mata berjuta-juta umat manusia.
Bila ada yang sedang menangis, jam berapa pun itu, petugas akan sangat antusias menghampiri rumah penduduk tersebut, menunggu dan menceritakan kepedihan agar bisa menangis lebih banyak. Air mata tersebut ia biarkan mengkristal di sudut-sudut matanya yang sembab, menuggunya jatuh dengan tabah, lalu mengambilnya dengan penuh kehati-hatian. Lalu air mata itu akan dikumpulkan di suatu tempat, tempat yang sudah di bangun dengan raungan kesedihan semenjak ratusan tahun. Bila para petugas ingin masuk, maka ia diharuskan meratap terlebih dahulu, mencari-cari celah kepedihan, lalu menangis beriringan. Dalam ruangan penyimpanan tersebut akan nampak dinding-dinding yang memancarkan air mata seperti sedang menangis, di sela batu akan keluar tetesan-tetesan yang mengalir beriringan dengan hembusan angin yang begitu dingin. Dalam ruang akan nampak rumput-rumput yang mencekung, sesekali bergetar bersamaan dengan lolongan mengharu biru. Atap langit gelap pekat, di selanya terdapat gumpalan kristal bening membeku, konon katanya itu terbentuk dari luapan perasaan teriris yang membeku lantaran terlalu lama memendam pahit. Lantainya berbalut marmer berlukiskan kisah pedih ratusan tahun nampak jelas, dengan ukiran tinta hitam yang terbuat dari air mata sengsara.
Tiada yang berani masuk ke ruang penyimpanan itu, sebab ruang tersebut selain bersifat rahasia, juga mengandung sejuta misteri lantaran bisa melenyapkan seseorang dengan seketika. Pernah suatu waktu, ada seorang pencuri datang memasukinya, dengan bekal peta dari ahli spritual, ia berhasil masuk kecelah pintu yang terbuat dari jeritan manusia itu.
Pencuri itu mengambil segala yang bisa ia bawa, dimulai dari kristal yang terbentuk dari ratapan seorang yang ditinggal kekasih, permata yang tercipta dari keluhan manusia, kristal kehilangan, serta barang berharga lainnya. Setelah sekian hari menyelusup celah ruangan ia merasakan ada hal yang berbeda, hembusan angin yang tidak berirama, kadang dingin kadang hangat, cukup membuat kuduknya meriap tegang, namun ia tidak memperdulikannya karna hatinya tersilaukan oleh perniaga yang sangat mahal. Nilainya tak terganti dengan sayap uang kertas berapa pun, kecuali dengan lolongan kepedihan umat manusia lantaran kezhaliman penguasa. Bila sampai memilikinya, satu tetes air mata akan menghilangkan kesedihan selama satu tahun. Sebab dengannya kepedihannya akan tersirap dan terleburkan. Dengan di bimbing nafsu keserakahan, si pencuri terus merampas kepedihan yang ada didalamnya, tanpa peduli lagi bahwa sejatinya ia telah meranggas nasib seseorang dengan dua kali. Yah, mereka lebur terhimpit oleh hidup, dan hari ini di hancurkan dengan tanpa belas kasihan. Para penghuni kepedihan tentu tidak bisa lagi menelan sabar, sebab pahit di reguk dengan paksaan akan membuat seseorang barang tentu berbuat nekad. Sejurus kemudian begetarlah ruangan tersebut, hawa dingin mulai memanas, nampak sudut ruangan membentuk lingkaran hitam kecil yang lambat laun membesar. Tak lama, lingkaran tersebut menarik si pencuri secara paksa untuk lenyap.
Sadar akan dirinya tak akan lagi melihat dunia karena setiap ia berusaha meraih pintu keluar, maka yang ia rasakan justru merasa semakin dekat dengan ajal. Ruangan itu begitu mencekam dan sangat mengerikan. Bahkan makhluk hidup pun tidak berani tinggal di sana. Lengkingan jeritan dan gema riuh kepedihan akan menjadi atmosfir ruangan, dengan ratapan-ratapan yang tentu menghujam jantung bagi siapa saja yang mendengar. Singkat cerita setalah pencuri lenyap tersilap lingkaran pekat, lalu lingkaran kembali menutup seperti sedia kala seolah tidak pernah terjadi. Ruangan itu kembali ke heningnya, kewarasan mulai datang lagi, lalu terdengarlah tangisan dari alam ghaib, sayu, tenang namun mencekik batin siapa pun.
Dengan demikian sejuta kesedihan manusia kecil masih tersimpan disana, dengan jutaan rahasia di dalamnya. Kesedihan yang telah menjelma kristal itu masih tersimpan di lorong-lorong serpihan hati, di gumpalan dada manusia yang berdetak itu nampak jutaan tangisan yang menulikan namun bernafas harapan.
Begitulah akhir riwayat si pencuri kesedihan, nasibnya malang, hilang tak bergeming dan ceritanya menjadi sumpah serapah orang.
***
Neni tidak bisa begitu saja percaya dengan cerita Mamahnya, meski setiap hari petugas air mata datang menghampiri rumahnya untuk menagih butiran air mata. Petugas sering datang setengah memaksa, mereka mengetuk-ngetuk rumahnya dengan separuh panik.
”Permisi, Bu? Air Mata… Air Mata, Bu… Tolong bantu dan ringankan tugas saya…”
Pada saat itu, Neni sering melihat Mamanya berusaha menangis, mengingat-ingat kejamnya hidup selalu jadi kebiasaannya. Terlebih pada penguasa negeri, sangat logis dijadikan alasan untuk meratap. Beban hidup yang seharusnya diringankan, malah memberatkan bahunya setiap hari. Bagaimana tidak, di negeri ini terlalu rumit dengan persoalan. Mulai dari sulit mengisi perut, sampai pada kerukunan yang sangat langka dan mahal di toko-toko kehidupan.
Namun begitu, Neni telah berharap banyak pada air mata itu, bahwa upaya Mamanya yang setiap hari menangis, walau satu minggu hanya beberapa tetes setidaknya dapat sedikit membantu. Yah, setalah terkumpul air mata itu akan di setorkan kepada penguasa, lalu akan di kaji dan dipertimbangkan. Harapannya, dengan banyaknya air mata dapat mengetuk hati tuannya. Dahulu para penguasa sebelum menjadi saat ini, mereka rajin minta restu dengan mata berderai-derai kepada penduduk desa. Rela dijadikan budak dan merendah serendah-rendahnya demi segengam kepercayaan serta empati yang ia dapat secuil demi secuil dari setap belas kasih penduduk lalu di kumpulkan menjadi sebuah dukungan. Hari ini, penduduklah yang diharuskan menangis bila panggilan perut dan kesukaran hidup datang menghampiri.
Neni kerap menangis bila melihat Mamanya meratap. Namun bagaimana pun Neni tetap berusaha menahan tangisnya, karena biasanya Mamanya akan marah besar bila sampai ketahuan ia sedang ikut menangis. ”Kau jangan jadi anak lemah, kunyuk!” Suara merobek telinga itu biasanya akan di iringi lemparan buku-buku yang berkisah tentang kepedihan mamah yang jatuh berhamburan ke lantai rumah yang penuh dengan tumpukan tisu kering. Neni dan mamahnya memang sudah tidak peduli lagi dengan keadaan rumahnya, maka didalam rumah yang terbuat dari bilik bambu yang nyaris roboh, dengan genting bocor di setiap sudut ruangan, serta tihang dan langit-langitnya hampir patah tidaklah jadi persoalan. Alasannya sederhana kenapa Mamah membiarkan, ia ingin mati tapi tidak mau dengan tangannya sendiri. Dengan begitu, ia akan tetap berusaha memilih mati terhormat. Setidaknya walau pun hidup melarat, ia harus mati dengan cara baik. Mati karena kelaliman penguasa nyatanya lebih elegan daripada harus mati bunuh diri lantaran keputus asaan.
Kerasnya watak Mamah memang sudah menjadi kebiasaan, karna memang sejak kecil Neni diperlakukan kasar oleh Mamahnya. Suaranya menggelegar, kata-katanya menusuk hati, dan tangannya sangat ringan dilempar ke pipi Neni bila ia melakukan sebuah kesalahan. Jauh dari cerita dan hikayat yang yang ia baca dari buku-buku lama bahwa, “Ibu seperti pantai di senja hari, selalu sabar dan menenangkan”. Mengilhami kenyataan bahwa perangai Mamah jauh dari cerita yang pernah ia baca, lalu membuat fikirannya terbalik dan merubah kalimat itu dengan realita hidupnya, “Celotehan Mamah seperti petir yang hadir di siang bolong, selalu menyambar tanpa sebab dan alasan yang sehat”.
Mamah hampir setiap hari selalu membentak Neni. Pada saat itu pernah Neni bertanya prihal kenapa ia tidak mempunyai Ayah, namun Mamah dengan mulutnya yang bau cengkeh itu langsung susumbar kepada Neni, ”Kau tak perlu tahu tentang Ayahmu, tapi yang jelas Ayahmu telah menemukan selangkangan yang lebih hebat dari milik Mamah. Persetan dengan Ayahmu!” walau pun sejatinya Neni Sadar, bahwa ucapan tersebut ialah kerinduan mendalam yang tidak tertahan lantaran terlalu lama tersimpan dan terpendam di lorong hatinya yang kesepian.
Dalam memenuhi kebutuhan hidup, Mamah Neni sering keluar Kota, namun Mamah tidak pernah bepergian bila ia belum menerima telephon dari seorang pria yang ia namai kontaknya dengan Mas Anton. mamah Neni bila pergi kadang 3 hari tidak pulang, kadang pulang dengan wajah sumringah dengan barang bawaan banyak, kadang pula dengan raut kusut dan badan kotor tidak terurus. Namun Neni berharap, mamah tetap pulang dalam keadaan sumringah, sebab Neni mengincar barang bawaan Mamahnya. Mulai dari pakain, boneka bahkan perhiasan. Mamah pun sering mengajak Neni pergi berbelanja lalu membelikan satu stel pakaian, mengajak makan ke restoran mahal yang bisa terhitung sebulan sekali ia bisa mencicipinya. Neni juga bisa bermain, menikmati panorama tempat hiburan, dan Mamah menatap Neni dengan sendu seperti ingin kembali melanjutkan kebiasaan menangisnya. Dengan tidak sadar Mamah Neni mengusap rambut anak semata wayangnya itu” Neni, kasian sekali kau, melihat tempat hiburan murahan seperti ini pun kau seperti sedang berkunjung ke Taman Kota terindah di dunia”.
Hal yang paling membahagiakan bagi Neni dimana Neni dibacakan cerita tentang pemimpin-pemimpin dahulu yang adil, jujur, amanah dan mengedepankan kepentingan rakyatnya daripada dirinya sendiri. Neni akan antusias mendengarkan cerita Mamahnya dengan tanpa berkomentar sedikit pun. Namun dengan cerita itu pula membuat Mamah Neni menangis terisak,
”Kenapa menangis, Mah?”
”Tidak, Neni… Mama tidak men……” ucapan mamah terpotong tangisannya.
”Kenapa manusia harus menangis, Mamah?”
”Itu lantaran manusia dilahirkan dari tetesan air mata”.
”Kenapa Tuhan ciptakan kesedihan kepada umat manusia, Mamah?”
”Sudahlah. Janganlah banyak komentar. nanti bisa-bisa Mama hentikan bacanya!”
Mamah pun lalu mengganti ceritanya dengan kisah air mata yang membosankan itu.
“Pada saat itu Tuhan menciptakan satu makhluk yang padanya Tuhan berikan jenis kelamin lelaki. Melalui segumpal tanah liat yang hitam dan lentur, Tuhan membentuk dan menata sehingga terbentuklah beberapa bagian tubuh yang purna lagi elok. Setelah itu, di tempatkanlah ruh yang agung itu ke raganya, dan hiduplah ia. Karena manusia di ciptakan dengan kesempurnaan lengkap dengan perasaan. Atas belas kasih Tuhannya juga yang tidak menghendaki ia hidup sengsara, di tempatkanlah ia ketempat yang didalamnya penuh dengan kenikmatan tiada tara dan tidak akan pernah terlukiskan oleh umat manusia sekarang.
Namun Tuhan selalu punya seribu alasan dalam setiap penciptaaNya. Dengan dorongan kehendakNya pula, makluk iri yang sejak dahulu menaeuh segunung iri diberikan jalan untuk menggoda. Namun karena rasa terimakasih yang ia bentuk dari ketaatan, sehingga ia tidak mampu merubah haluan hidup manusia baru itu sedikit pun. Beralihlah ia kepasangan manusia itu, dan dengan segenap upaya menggoda dan menganggu jalan fikirannya. Singkat cerita terusirlah ia lantaran dianggap sebagai pembangkang. Setelah kejadian besar itu, Tuhan lalu menciptkan sebuah nabula besar yang menggumpal lalu terciptalah semesta, bentangan asap membentuk langit yang luas. Beserta dalam daratan menyambul aneka ragam tumbuhan dan segala jenis binatang melata.
Lalu selang hitungan ke 7, Tuhan barkendak menciptakan pijaran cahaya dari serpihan air mata yang telah mengkristal. Dari air mata penyesalan sebagai makluk terusir, ia di turunkan ke sebuah tempat yang bernama bumi dengan keadaan duka yang mendalam. Sepertinya seolah ia tahu akan berkanalan dengan kesedihan, maka sebelum menciptakan segala kehidupan beserta penderitaannya, Tuhan menciptakan berupa air mata dengan dua simbol warna. Yaitu air mata derita dengan warna putih, kedua, air mata berwarna kelabu sebagai tanda bahagia. Lalu Tuhan menciptakan ruangan penyimpanan air mata, dimana ruangan tersebut Tuhan sebar pintunya kesetiap sudut semesta, tujuannya jelas agar umat manusia bisa berkumpul dan meregang derita bersama. Ruangan kecil dengan berjuta pintu hingga kini masih dipergunakan, walau pun ada beberapa pintu yang rusak dan terlupakan lantaran manusia yang sudah tidak peduli kepada kesedihan. Namun begitu, ruangan tersebut tetaplah ada, di setiap sudut sepi hati manusia, di sela-sela kesedihan dan kesusahan, serta di hamparan-hamparan kebahagian. Kesedihan dan air mata jelas tidak dapat terpisahkan oleh setiap hati, mungkin itu salah satu alasan Tuhan menciptkan kesedihan.
Bila mendapati kali Mamanya tengah menangis, Neni pun selalu berdoa berharap air mata Mamah bisa tersimpan dengan baik, dan kelak bisa digunakan bila ada manusia yang mendadak menjadi pemburu empati datang ke desa dan rumahnya. Ia tahu hanya dengan air mata, semua kepedihan dapat sedikit terkuras, dan itu rumus hidup bahwa dengan tangislah cekikan sukar sedikit melongar. Namun begitu Neni tak pernah melihat keadilan itu muncul, walaupun Mamanya setiap hari terus terisak menangis, sembari kadang-kadang memeluk dan menciumi Neni yang polos tengah tertidur dalam buain harapan.
Setiap menjelang malam, memang Neni selalu pura-pura bisa tertidur lelap, meski sejatinya himpitan hidup jelas membuat hatinya meronta-ronta.
Pernah juga suatu waktu, saat Neni pura-pura tertidur, seorang pria memindahkan Neni ke bawah ranjang reodnya karena menganggap Neni telah pulas dalam tidurnya, dengan begitu Neni bisa mendengar dengan bebas suara lengkuh Mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang. Juga suara dengus sebal ketika akhirnya laki-laki itu ambruk dan mendengkur keras sekali. Di kolong ranjang Neni terisak menyayat dalam hatinya, ”Mamah… Mamah, teganya Kau….” Mata Neni pun sembab, celaknya basah oleh genangan air mata.
Sedang Mamah Neni, menggisik-gisikkan mata berharap akan keluar air matanya walau hanya setetes.
***
Neni dengan ngambeknya membanting pintu, karena ia mendapat kabar bahwa penguasa sudah tidak peduli lagi dengan air mata penduduk sini.
”Itu bohong, Nak…”
”Lantas kenapa teman Neni itu mesti bohong, Mamah? Ini kenyataan, setiap hari Mamah menangis, namun mana? tidak ada sedikit pun perubahan dalam hidup, kok. Cobalah Mamah fikir, apa yang kita dapat selama Mamah menangis? Selain sebuah harapan semu dan kerapuhan hati. Setiap hari Neni mendengar ratapan Mamah, setiap hari pula Neni menangis?”
“Apa? Kau juga ikut menangis? Sudah mamah bilang, jangan kau ikut-ikutan urusan orang dewasa”
“bagaimana bisa saya tidak menangis, jika suara tangis Mamah telah terbiasa terdengar, sakin terlalu seringnya sehingga menjadikan tangisan Mamah sebagai lagu merdu yang menyentuh hati. Apakah dengan kita menangis, itu akan membuat mereka sadar, Mama?”. Neni terus tidak berhenti bicara.
”Sekarang sudahlah tidur, Nak!”. Mamah berusaha menghentikan perdebatan sengit, kemudian berlalu pergi ke ruang tamu, dan kembali menangis dalam lamun namun dengan air mata berderai kali ini.
***
Kata Mamah, “Kelak kau harus memiliki suami yang baik, yang tegar dan tidak mudah menangis hanya karna lantaran jalan hidup yang sukar. Carilah jalan hidup yang lebih baik, dan jangan akrabi kesedihan”. Neni memang sejak dulu tak ingin nasibnya berakhir meyedihkan seperri Mamahnya kelak tersiksa oleh penyakit kelamin saat tua, dan ditemukan mati mengenaskan di kosan murahan dan kumuh. “Aku tidak sudi seperti Mamah!”. Walaupun Neni tahu kalau Mamanya tak pernah menginginkan ia menjadi sepertinya. Neni sadar betul, bahwa Mamanya begitu tampak mencintainya, perempuan itu selalu mendekap dan sesekali berbisik terisak mengharu biru, ”Sayang, janganlah kau ikuti jejak Mamah, dan berjanjilah bahwa kamu kelak akan menjadi wanita baik-baik,”
”Baik seperti apa, Mah?”
”Baik seperti apa saja, Nak. Asal jangan seperti Mamah”.
Neni merasa pipihnya basah. Ia berharap, sungguh-sungguh berharap, para penguasa itu bisa menyelamatkan keluarganya yang nyaris hancur karena urusan perut yang tidak mau berkompromi itu.
(Usep Ruyani)

Baca Juga  Antara Takdir dan Kehendakmu (2)
Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close