HumorSastra

Mang Bayan jadi Hansip

MediaDesa.id – “Yah bagaimana pun, fikirnya, cara pandang hidup seseorng selalu punya alasan untuk menentukan nasibnya sendiri”.
***
Jika bertanya siapakah orang yang disegani di kampung Kedung? Orang akan sepakat kepada pemuda berwajah lonjong seperti lontong, hidung pesek yang nyaris tenggelam, rambut jabrig berkucir, dengan tubuh tegap seperti tihang, dialah Hansip; Kang Bayan. Semua orang di Kampung Kedung sangat mengenal benar sosok pemuda jangkung satu ini.
Kesehariannya hanyalah duduk-duduk saja di Pos Ronda dengan seragam lengkap serba hijau, membawa alat pemukul, pastilah tahu alat seperti ini yang biasanya sering dipakai oleh satpam-satpam rumah dan perkantoran.
Terkadang tidak mengerti, kenapa masih ada orang yang rela diam mematung dari pagi hingga malam dengan tanpa melakukan aktifitas lain selain berjaga? Berbicara pun jarang, itu pun jika memang ada yang bertanya dan dirasa penting untuk dijawab. Mengenai sesajen seperti kopi dan rokok sebagai bahan bakarnya? Syukurlah banyak masyrakat yang mengerti dan mau berbagi padanya. Ya, karena bagaimana pun ia sangat dibutuhkan di kampung kedung. Selain sebagai kemanan, juga terkadang menjadi kuli panggul. Kang Bayan memang sudah lama menjadi hansip, kira-kira dimulai setalah ia lulus SMP. Namun hingga kini, belum tau alasan pasti kenapa ia memutuskan menjadi hansip di kampungnya.
Pernah suatu waktu ada remaja tanggung bertanya padanya.
” Kang, kenapa mau jadi polisi hijau. Digajih engga, tapi kerja seperti rodi. Tiap hari berjaga, mau siang atau malam bila dibutuhkan harus siap sedia?”.
Namun hansip Bayan selalu merasa terganggu bila ada yang bertanya prihal demikian, dan sejurus kemudian biasanya matanya meleber dengan ceruk yang seakan ingin melompat. Yah bagaimana pun, fikirnya, cara pandang hidup seseorng selalu punya alasan untuk menentukan nasibnya sendiri.
” Hmm… Kalau semua berfikir sama sepertimu, mungkin semua hansip di bumi ini akan punah karena tidak ada yang sudi menjadi hansip”.
Pemuda itu mengangguk dalam.
Tanpa diperintah, remaja tanggung itu bergegas meninggalkan Kang Bayan. Ya, hingga saat ini belum ada yang bisa mengungkap alasan kenapa ia ingin menjadi hansip. Karena usia yang masih muda, banyak berpendapat bahwa hansip tidaklah layak untuknya, lantaran hansip pada umumnya biasanya berusia senja. Aneh, tapi itu faktanya. Seharusnya usia senja adalah hari dimana menikmati hidup, bukan mengamankan hidup orang lain. Hadirnya Bayan mulai memupus asumsi yang telah puluhan tahun mengakar di fikiran banyak orang.
Namun belakang hari terungkap, alasan kenapa Bayan menjadi prajurit penjaga kampung tersebut. Hal ini penuturan dari Mak Marni paraji yang pernah membantu melahirkan dirinya.
Pada saat itu Ceu Iteung Ibu Kang Bayan menangis tersedu-sedu. Sobri masih kecil, dan ayahnya telah tiada. Namun, ia tidak tahu harus menangis karena apa. Alasan nasib? Nyatanya terlalu banyak yang nasibnya lebih miris dari dirinya. Namun bagaimana pun, Ceu iteung punya keyakinan sendiri, selaras dengan cita mendiang suaminya dulu Kabayan, anaknya harus jadi seorang prajurit. Dan dia yakin, Bayan akan jadi seorang yang berguna, bagi nusa, bangsa dan agama. yah minimal di kampungnya. Keyakinan itu bukan tanpa dasar, tubuh Bayan sangat tinggi, bahkan waktu kecil pun jangkungnya sering digunakan warga untuk membantu memasang lampu di rumahnya. Ibunya pernah bertutur, ketika Bayan duduk di bangku SMP, ayahnya meninggal dunia karena terjatuh di atas genting lantaran saat ia turun selepas memperbaiki genting yang bocor, tiba-tiba Bayan dengan tidak sengaja menabrak tangga yang sedang ditapaki ayahnya. Singkat cerita tersungkurlah ia. Hidup Bayan awalnya masihlah wajar, seperti bocah anak SMP pada umumnya. Orangtuanya masih bisa menyekolahkan Bayan sampai lulus SMP. Hingga pada satu waktu, setelah ayahnya tiada, keluarlah sebuah ucapan dari Ibunya, kalau dirinya sudak tidak bisa lagi membiayainya untuk melanjutkan sekolah. Sebagai seorang anak kampung, Bayan pun memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Dan bekerja seperti remaja yang sebaya dengannya. Pagi-pagi buta pergi ke sawah atau ke ladang, dan seminggu sekali pergi ke hutan mencari kayu bakar. Jika ada waktu, ia akan menjadi kuli; baik bangunanan atau pun sekedar kuli panggul.
***
Pada suatu waktu, tersiar kabar dari Balai Desa, katanya Pak Kades membutuhkan seorang yang rela mau menjadi kemanan. Sudah barang tentu kabar tersebut tidaklah laris seperti kabar pembagian sembako yang bisa mengantri sampai puluhan meter, nyatanya orang-orang enggan menjadi hansip, kalau sekedar ikut-ikutan ronda malam mungkin masih ada yang mau, walau pun berjalan tak beraturan. Seminggu ronda, 3 minggu berhenti bila dirasa kampung telah merasa aman. Namun kalau harus menjadi hansip, mungkin bagi mereka harus dipikir seribu kali lagi. Atas saran dari ibunya Ceu Iteung, Bayan pun memberanikan diri juga datang ke kantor Desa menemui pak Kades.

Baca Juga  Menembus Imajinasi di Tanah Palestina

” Kamu masih muda, mau jadi Hansip, Yan?”
” Mau…!”
” Hmm… baguslah.. aku beritahu saja, tidak sembarangan orang yanga bisa dan sanggup jadi hansip, buktinya orang lain banyak yang gak mau!”.
” Iya”.
” Nah, mulai besok kamu bisa mulai bertugas, jangan hawatir, aku akan buatkan seragam untukmu. Biar gagah! Bahkan katanya setiap bulan ada tunjangan dari pemerintah lho, nanti saya usahakan, ya! ”.
” Terimakasih, pak!”.
Sejak saat itu, orang pun mulai mengenal Hansip yang bernama Bayan. Semua cerita di dunia ini memang terkesan melodramatik, setelah satu bulana bertugas Hansip Bayan telah berhasil membekuk beberapa maling, mengagalkan terjadinya begal di jalan. Pada saat itu pula semakin mengukukuhkan saja kedudukannya sebagai hansip di mata orang-orang. Hansip Bayan memang Hansip teladan, yang jelas bukan Hansip penakut dan pemalas. Hingaa saat ini, Seragam tidak mau lepas dari tubuhnya. Ke mana pun dia pergi sudah pasti akan memakai seragam Hansip itu. Nama Hansip Bayan terkenal bukan hanya di sekitar Kampung Kedung, juga terkenal di kampung-kampung tetangga dan bahkan di desa sebelah. Kalau ada acara hajatan, atau apa pun acara yang membuat keramaian kampungnya, di sanalah Bayan berada. Jika ada orang yang membutuhkan bantuan, ingin menjemput paraji, bila ada kericuhan antar pemuda. Hansip Bayan hadir di sana, dan terus terang meskipun pada waktu siang atau malam hari, dia sama sekali tidak perlu diupah oleh orang yang ditolongnya.
Tapi, perlu aku bicarakan pula, meskipun kemuliaan Hansip Bayan itu terdengar ke mana-mana, namun jarang sekali anak-anak, pemuda, atau siapa pun yang memiliki cita-cita mejadi seorang Hansip seperti Hansip Bayan. Yang sering terdengar adalah, akhir-akhir ini orang ramai-ramai ingin menjadi pegawai pabrik, PNS dan kantoran. Terus terang penghargaan kepada Hansip Bayan hanya berupa ucapan berbungkus terimakasih. Dan jika beruntung, ia akan mendapat sebungkus rokok dan sejinjing besek dengan amplop berisi uang 25 ribu dari persiapan hajatan yang ia jaga semalaman suntuk. Namun tidak semua orang mengerti, yang mau membayar jasanya. Padahal Hansip Bayan pun manusia biasa yang membutuhkan keperluan hidup. Namun percayalah, Hansip Bayan tidak akan pernah berani meminta semua itu kepada orang yang ditolongnya, karena dia bukan seorang pengemis, dia hanya seorang Hansip biasa yang mendedikasikan waktunya untuk masyarakat. Jika ada yang memberi ia akan terima, jika tidak ada ia tidak akan meminta. Itulah prinsip hidupnya selama ia menjadi hansip. (Usep)

Baca Juga  Bencana Keadilan
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close