Opini

Manusia

MediaDesa.id – Melalui proses renungan, saya bergumam bahwa manusia terdiri dari hardware dan software, dimensi konkrit dan dimensi abstrak. Dimensi abstrak ini berguna untuk mengakses pengetahuan secara “laduni” bahkan dimensi ini bisa mengakses data di lauhil mahfudz (lembaran yang terpelihara). Hingga, ada istilah sepuh yang populer, durung winuruh telan lan orang ora ketinggalan, artinya bisa nganjang ka pageto / bisa tahu masa depan. Tapi tentu saja itu bukan puncak pencapaian dari kemampuan sofware manusia, puncak kemampuannya adalah makrifat.

Makrifat dapat terjemahkan dalam kasih yang begitu tulus, hingga melihat orang manapun, melihat makhluk apapun tak berhenti dimakhulnya, tetapi tembus nyampai pada penciptanya, Alloh rofiqul a’la.

Hingga kita lihat kenapa Ulama selalu memaafkan siapapun bahkan yg memfitnahnya, mungkin karena sang Ulama selalu berfikir bahwa tak mungkun suatu fitnah dan kejadian lainnya ternadi di alam raya ini kecuali atas seizin penciptanya.

Dan inilah cinta, inilah pengabdian yang tulus, kemakrifatan adalah akarnya. Melihat makhluk sebagai wayang dan pencipta sebagai dalangnya adalah kunci kesejukan jiwa. Namun demikian dimensi abstrak ini hanyalah potensi, agar bisa makrifat haruslah dilakukan RHIYADHOTUNNAFSI

Oleh: Endang Mu’min
Bid Keagamaan PKC PMII Jawa Barat.

(Hafidulloh)

Baca Juga  Bersabarlah Indonesia, Dan Luka pun Ada Sembuhnya
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close