Opini

Maulid Nabi Sebagai Refleksi Tahun Politik

Oleh: Sitta Nur Fauziyah

Momentum sejarah terbesar bagi umat Islam yang tidak akan lekang ditelan masa ialah telah lahirnya sosok baginda Muhammad SAW. Tentu, dunia sudah mengetahui bahwa Muhammad SAW merupakan sosok yang istimewa. Mengenai hal ini, sudah tak terhitung jumlah tulisan sejarah yang mengangkat perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Misalnya, Michael H Hart, dalam The 100, A Ranking of The Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi SAW sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah.

Selain itu, sudah tercatat juga dalam sejarah bahwa Muhammad SAW merupakan Sosok pemimpin yang alim, politikus yang agamawan, dan panglima yang menawan. Pemimpin yang membela hak-hak kaum tertindas. Pun beliau bukan hanya sekadar meneriakkan reformasi politik di dunia Arab kala itu, tetapi juga menggulirkan revolusi sosial-kultural menuju sebuah sistem yang egaliter, humanis, dan toleran.

Di samping itu, hal sangat mendasar yang ditegakkan Nabi adalah supreme of court (konsistensi hukum). Sebagai sejarawan ulung, Nabi memahami bahwa aspek hukum sangat urgen dan signifikan kaitannya dengan stabilitas suatu bangsa. Keadilan yang berhasil ditegakkan akan mengantarkan terjadinya pencerahan peradaban. Sebaliknya, kekacauan, kekerasan, dan kejahatan, akan mencabik dan mengoyak kehidupan masyarakat (bangsa), manakala hukum dan keadilan ‘dimatikan’.

Sehubungan dengan itu, lalu bagaimana dengan era kepemimpinan bangsa kita? Dalam sejarah percaturan politik nasional, kita masih sering di hadapkan dengan kenyataan kepemimpinan yang lebih mengandalkan tindakan represif, ketimbang mengedepankan cara-cara yang persuasif. Kita juga sering menyimak bagaimana para elite politik lebih disibukkan dengan kepentingan kelompok dan perilaku hedonistik, daripada memperjuangkan aspirasi wong cilik.

Lebih dari itu, korupsi yang semakin menggurita di negeri ini, kini jadi rimba permasalahan yang kian buram batas dan cara penyelesaiannya. Suatu kejahatan struktural yang di dalamnya berkorelasi permainan kekuasaan, ambisi, amoralitas, penyalahgunaan wewenang, dan berakar pada apa yang disebut Filsuf Nietzsche sebagai kehendak berkuasa.

Baca Juga :  LKPJ Bupati Dan Pentingnya Transparansi Anggaran

Dalam konteks ini, sudah sepatutnya kita belajar dari kepemimpinan era Nabi SAW, seorang pemimpin mestinya bisa membaca, mengartikulasikan, dan merealisasikan bahasa batin rakyat yang dipimpinnya. Pun, keberadaannya juga harus berada di tengah-tengah rakyatnya. Tersebab, hanya dengan cara demikianlah dia dapat melebur bersama rakyat yang telah menobatkannya. Kemudian, jika dia telah melebur dengan rakyatnya, tentu dia akan memahami berbagai keluh kesah dan dambaan rakyatnya, bukan malah mengorupsi uang negara yang esensinya berasal dari rakyat.

Sejarah membuktikan, betapa banyak pemimpin yang kemudian tergiur manisnya kekuasaan sehingga mereka mengabaikan amanat dan tugas kepemimpinan yang diembankan kepadanya. Mereka kemudian seakan menjadi asing dengan bahasa batin rakyat yang dulu sangat peka didengarnya.

Pada hakikatnya, bangsa ini butuh pemimpin sejati. Bukan pemimpin yang hanya pintar blusukan dan beretorika tanpa fakta. Bukan pemimpin yang gampang marah dan suka mengeluh, tetapi pemimpin yang mau mendengar segala keluh-kesah rakyatnya. Bukan pemimpin yang sibuk dengan kepentingan golongan dan orientasi politik partisan sesaat, tapi pemimpin yang sadar bahwa hidup dengan segala bentuk pertanggungjawabannya tidak hanya sebatas di dunia ini saja, tapi juga kelak di akhirat.

Kini, saatnya kita merefleksikan diri bahwa umat Islam sedang tidak baik-baik saja karena tidak adanya suatu kepemimpinan yang menyatukan seluruh umat Islam sehingga aturan Islam belum bisa diterapkan secara total. Mari jadikan peringatan Maulid Nabi ini menjadi pengingat kita, agar selalu meneladani Rasulullah SAW dan mengamalkan semua yang diajarkan beliau. Mari rapatkan barisan dan buktikan cinta kita pada Rasulullah dengan berjuang agar Islam bisa kembali diterapkan di seluruh lini kehidupan.[]

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: