Opini

Membaca Merlyn Sopjan Sang Waria

Oleh : Didid Dananto

Membaca sebuah keluarga positive deviance, keluarga menyimpang secara positif yang menghadirkan perempuan tegar terlahir sebagai Aryo Pamungkas melangkah mantap sebagai Merlyn Sopjan, diusianya yang ke 20.

Ya, dia bernama Merlyn Sopjan seorang waria. Seorang sahabat yang hangat, terbuka, inspiratif. Seorang ibu bagi ribuan waria yang nasibnya tidak ‘seberuntung’ Merlyn. “Bunda Merlyn”, demikian para waria memanggilnya.

Sebagian besar dari mereka terusir dari kehangatan konvensional sebuah keluarga karena tekanan masyarakat tepat saat memasuki masa akil balig, saat kian kentara tampil gemulai yang diasosiasikan milik perempuan.

Tanpa kecakapan hidup yang memadahi terlempar di belantara jalanan, teperdaya kaum lelaki dewasa nir-moral dan untuk pertama kalinya diperlakukan salah secara seksual dengan imbalan Rp. 10.000,-. Ijinkan saya menjuluki lelaki dewasa itu BIADAB.

Mengamen dengan peralatan sangat sederhana terkadang dengan cara yang sangat atraktif adalah cara lain untuk survival.

Cemooh masyarakat “beradab” yang menyebutnya bencong, banci dan lain-lain telah membangun stigma yang luar biasa negatif kepada mereka sehingga kaum calon penghuni surga pun merasa membela agama ketika menelanjangi mereka didepan umum.

Merlyn meradang melihat bahkan sering mengalami sendiri cemooh menyakitkan itu. Merlyn menerjang hingga hilang pedih peri (pinjam frasa puisi “Aku” nya Chairil Anwar).

Dengan buku ini Merlyn merelakan diri sebagai pengetuk pintu-prasangka terhadap waria dengan harapan kita mau membukanya.*

Baca Juga :  Maulid Nabi Sebagai Refleksi Tahun Politik
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close