Opini

Membakar Mesjid

RASULULLAH bersiap untuk pergi berjihad, beliau hendak ke Tabuk. Tiba-tiba saja ada yang datang, “Ya Rasul, kami sedang membangun masjid guna menampung jamaah. Mereka memerlukan tempat berlindung dari hujan dan panas, dan tempat beribadah kepada Allah. Sudikah Tuan untuk shalat di Masjid daerah kami.” “Kami dalam persiapan untuk pergi. Insya Allah kalau nanti pulang, kami akan mampir dan shalat di Masjid tempatmu itu,” jawab Rasul.

Pasukan Nabi 30.000 orang berangkat ke Tabuk. Kita tahu bahwa di Tabuk tidak terjadi peperangan. Kabar bahwa Kaisar Heraklius, yang waktu itu baru saja mengalahkan Persia, akan mencaplok juga Syria adalah tidak benar. Nabi bersama pasukannya tinggal di disana selama dua puluh hari, dan Nabi tidak menyia-nyiakan waktu percuma. Beliau mengadakan perjanjian dengan kaum Kristiani dan Yahudi yang tinggal di puncak Teluk ‘Aqabah dan di sepanjang pesisir timur, dengan mewajibkan membayar upeti tahunan, balasannya mereka akan mendapatkan perlindungan dari kaum muslimin.

Dalam perjalanan pulang, Nabi beserta pasukannya singgah di daerah yang bernama Dzil-Awanin, wilayah yang sudah dekat dengan Madinah. Nabi ingat janji beliau untuk singgah ke sebuah Masjid. Tapi waktu itu turun ayat surah at-Taubah ayat 107-109, “Dan diantara orang munafik ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadaratan (kepada orang-orang beriman) dan karena kekafiran, dan untuk memecah belah kaum mukmin…” Spontan Nabi marah, lalu menyuruh Malik bin Dahsyan dan Ma’an bin Addy, “Kalian pergi ke Masjid orang durhaka itu! Hancurkan dan bakarlah masjid itu.”

Satu riwayat lain mengabarkan, seperti terbaca di kitab Lubâbun-Nuzûl fî Asbâb An-Nuzûl karya Jalaluddin ash-Shuyuthi. Dari Ibnu Mardawaih dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, “Sekelompok orang Anshar membangun Masjid. Seseorang di antara mereka bernama Abu Amir yang berkata, ‘Bangun terus masjidmu itu, aku akan cari dana agar masjid ini kuat, kokoh. Saya akan segera pergi ke Kaisar Roma.” Kemudian ia datang bersama bantuan dari Roma. Sampai di tempat dimana masjid sedang dibangun, mereka berencana untuk mengusir Nabi dan sahabat-sahabatnya. Setelah bangunan itu selesai, mereka datang menghadap Nabi dan meminta berkenan untuk shalat di sana.”

Baca Juga  Rindu Medsos Tanpa Suasana Politik

Sejak zaman Nabi Saw. telah ada kaum munafik yang membangun masjid dengan tujuan untuk menimbulkan kemadaratan dan untuk memecah belah kaum mukminin. Tidak mustahil, bahkan mungkin sudah banyak terjadi, di zaman era internet ini ribuan Masjid Dhirar – demikian sebutan masjid kaum Munafik itu – telah kokoh berdiri dan dengan mulus telah menjalankan segudang program yang terkesan indah padahal demi menghancurkan Islam, masjid untuk pertemuan atau persembunyian para teroris misalnya.

Tentu saja, di zaman kita ini tak mudah menentukan Masjid Dhirar. Tapi, untuk tidak berhati-hati adalah bodoh. Hati-hatilah terhadap dana yang tak jelas yang berkedok sumbangan yang ujung-ujungnya ingin mendiktekan satu idiologi. Sejak dahulu, pembangunan masjid di negara kita selalu dari dana swadaya. Saya melihat, mentalitas inilah yang perlu kembali kita jaga agar tak muncul masjid-masjid dhirar.

Barangkali, termasuk juga golongan Masjid Dhirar adalah mesjid yang dibangun hanya bermodal semangat syi’ar Islam yang semata bermental materialistik. Segenap usaha kita tumpahkan demi berdirinya masjid mewah, bahkan kalau perlu dengan tidak malu menyetop kendaraan di jalan raya seperti biasa kita lihat semenjak tahun 90-an. Anehnya, kita lupa akan faktor-faktor yang jauh lebih utama. Kita bangun mesjid hanya sebatas untuk ritual belaka, sedangkan upaya membangun masyarakat yang sadar akan hak-haknya – baik secara sosial, maupun politik – justru malah sunyi. Dewasa ini, miris hati kita melihat satu masjid yang begitu mewah tapi masyarakat kampung sekitarnya banyak yang kekurangan gizi. Yang terjadi adalah menjadikan masjid sebagai tujuan, bukan sebagai sarana untuk memakmurkan. Bahkan konon, Masjid Agung Kota Tasikmalaya yang megah itu, manajemennya amburadul. Banyak dana umat jadi “gelap”. Semoga saya salah.

Baca Juga  Urgensi Masyarakat dalam Pembangunan Desa

Di zaman Nabi, masjid menjadi pusat segala-galanya, seperti dibahas secara jernih oleh Sidi Gazlba dalam satu bukunya Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam. Masjid menjadi pusat peradaban: politik, sosial, budaya. Tak jarang, Nabi Saw menyusun strategi perang di masjid.

Barangkali, kalau Malik bin Dahsyan dan Ma’an bin Addy masih hidup sekarang ini, tangannya sudah gatal ingin membakar Masjid Dhirar. Tapi, yakinlah mereka berdua orang shalih yang tak mungkin arogan.

(Dilansir dari fauznoor.com)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close